About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Friday, September 18, 2009

on the Road : Home

Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?

Sawah-sawah yang selalu hijau, di tanah datar atau lereng-lereng yang curam. Jalan utama yang hanya cukup untuk dua mobil, dengan toko-toko kecil di kiri kananya. Di ujung sana ada sebuah gunung, tinggi tapi tak angkuh. Dengan puncak yang landai dan cenderung rata.

Sungai-sungai berbatu yang deras saat musim penghujan, air terjun yang membuat tubuh beku, dan sebuah telaga di tengah pohon-pohon pinus.

Udara yang senantiasa bersih, meski tak selalu dingin dan tahun-tahun belakangan menjadi kering waktu kemarau. Matahari yang muncul dari balik rumah tetangga dan menghilang di sebuah pematang. Waktu yang selalu melambat, membiarkan semua orang berbaringan menikmati siang di teras belakang rumah.

Truk-truk pengangkut tebu yang berlalu lalang saat musim tebang. Juga bau yang khas saat melewati pabrik pembuat gula.

Desa-desa yang rapi. Rumah joglo tua dengan kandang-kandang di sampingnya. Mangga-mangga yang bergelantungan di setiap halaman. Menua, menguning, hingga codot-codot memakannya.

Anak-anak sekolah yang bersepeda atau berebut angkota. Pegawai-pegawai yang pulang ke rumah saat hari masih terang. Ibu-ibu yang duduk sambil mengobrol di warung kelontong dekat rumah.

Sego pecel yang tak pernah membosankan meski dimakan setiap pagi selama bertahun-tahun, gule kambing yang nikmat, juga ayam panggang sisa selametan yang selalu terbayang saat sedang menikmati ayam goreng dari negeri seberang.

Bagaimana bisa aku tak menyadarinya?

Thursday, September 17, 2009

on the Road : Blanco

Potret ini saya jumpai di salah satu ruangan The Blanco Renaissance Museum, di Ubud, Bali. Bersandingan dengan potret-potret lain yang menceritakan kehidupan pribadi Don Antonio Blanco. Tentang masa mudanya, keluarganya, dan kesehariannya.

Potret berangka tahun 1952 itu begitu menarik perhatian saya. Di situ digambarkan bagaimana Blanco muda sedang berpose bersama teman-temanya di sebuah sawah di Bali. Blanco bertelanjang dada dan berikat kepala. Potret itu - secara kasat mata- menyimbolkan peleburan diri laki-laki berdarah Spanyol itu dalam kehidupan Bali. Ya orang-orangnya, ya alamnya.

Bali dengan segala keindahan dan keramahan orang-orangnya dan tentu saja kecantikan perempuannya merupakan sumber inspirasi lukisan-lukisan Blanco. Lekuk-lekuk tubuh perempuan Bali diabadikan dalam banyak goresan kuasnya. Tubuh-tubuh tanpa busana dengan tatapan yang ekspresif memenuhi ruangan utama museum Blanco. Ni Ronji, perempuan Bali pertama yang menjadi model lukisannya, belakangan diperistrinya.

Museum Blanco berdiri di tanah seluas dua hektar, yang merupakan hadiah dari Raja Ubud. Blanco dianggap bersaja mengenalkan Ubud ke dunia internasional. Di tanah itulah Blanco menuangkan segala angan-angannya tentang sebuah tempat tinggal dan ruang memajang semua karyanya.
Bangunan yang begitu nyeni, suasana yang tenang dengan iringan musik klasik, halaman yang asri, dan sebuah bunga kamboja yang diberikan pada setiap pengunjung, seolah ingin mengatakan inilah wajah Bali yang sebenarnya. Indah, penuh inspirasi. Ramah, tak pernah membedakan siapa yang datang.

Perempuan-perempuan berkain menyapa semua orang. Menawarkan anak-anak berfoto dengan burung kakaktua koleksi Blanco, menunjukkan ruangan-ruangan yang belum didatangi. Lembut dan menyenangkan. Mungkin seperti itulah gambaran Blanco tentang Ni Ronji dan perempuan-perempuan Bali yang diabadikan gambarnya.

Museum Blanco menjadi semacam penawar atas sebuah gugatan dari sepanjang Kuta, Seminyak, hingga Lovina. Rumah Blanco ini menjadi pelipur atas bertumpuk rasa kecewa yang senantiasa berulang setiap kali kami datang ke Bali. Tatapan tidak bersahabat, kata-kata ketus, dan pelayanan seadanya. Sangat berbeda ketika orang-orang berambut pirang, berkulit putih yang dihadapi. Maafkan jika kami terlalu dini membuat kesimpulan. Tapi masih bisakah dibilang kebetulan jika hal yang sama selalu berulang setiap kali kami datang?

Apakah orang Bali lupa, keindahan bukan satu-satunya yang menarik minat orang. Dan bule bukanlah satu-satunya sumber penghasilan. Tak mengherankan jika kemudian orang-orangIndonesia lebih senang berlibur ke Singapura atau Thailand, dimana mereka selalu merasa dinantikan dan dimuliakan. Kalaupun masih di Indonesia, banyak tempat-tempat lain di Indonesia yang lebih memiliki keduanya : keindahan dan keramahan.

Oh Bali yang rupawan...haruskah kelak kami datang hanya untuk Blanco seorang?

Tuesday, September 15, 2009

on the Road : De Oosthoek

De Oosthoek. Itu sebutan orang Belanda untuk daerah ini : Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Bondowoso, Situbondo. Artinya pojok timur. Tapi orang-orang lebih mengenal istilah lain : Tapal Kuda. Coba buka peta, dan kawasan itu akan berbentuk menyerupai tapal kuda.

Bagi kami yang tinggal di daerah Mataraman (Magetan, Madiun, Ngawi) biasa menyebut kawasan itu sebagai etanan. (dari kata wetan = timur). Orang-orangnya disebut wong etanan. Kami mengenali orang-orang etanan dari bahasa Jawa mereka yang terdengar lebih kasar di telinga kami. Maklum, daerah Mataraman lebih kental dipengaruhi tradisi Kerajaan Mataram di Jogja dan Solo. Bahasa Jawa yang kami gunakan berbeda dengan bahasa Jawa di etanan. Apalagi orang etanan tidak hanya terdiri dari suku Jawa, tapi juga Madura. Mereka berbaur, bahkan di kota-kota tertentu orang Madura yang mendominasi.

Selain bahasa, beda yang paling mencolok adalah soal agama. Daerah Mataraman adalah daerah abangan. Islam adalah sebuah identitas formal. Tapi soal keyakinan dan tradisi spiritual orang-orang di Mataraman punya caranya sendiri. Belakangan, baru ketika pendidikan agama makin menguat, orang-orang di Mataraman mulai menjalankan Islam sebagai sebuah keyakinan.

Sementara di daerah etanan, Islam begitu kental, mengambil bagian dalam setiap sendi kehidupan. Orang-orang nya adalah kaum santri, yang selalu patuh omongan kyai. Pengetahuan agama mereka jauh melebihi orang-orang di Mataraman.

Mengunjungi Tapal Kuda, mengusik segala ketertarikan saya pada sosio-kultural. Ingatan tentang penelitian Clifford Geertz dan pengalaman saya sebagai wong Mataraman teraduk-aduk dalam sebuah adonan di kepala. Segala hal yang saya jumpai menjadi semacam pembenar atau penolakan atas segala dugaan. Mulai dari gapura bertuliskan huruf Arab, reklame besar larangan pelacuran, atau gambar-gambar orang berjanggut putih, bersurban atau berpeci.

Ke Tapal Kuda juga mengulik kembali sebuah lembaran sejarah. Sejarah yang masih terlalu segar untuk dilupakan. Sejarah yang bukti dan saksi-saksinya masih utuh karena baru terjadi sepuluh tahun lalu. Sebuah cerita nyata tentang ninja-ninja yang konon berseliweran dimana-mana. Tentang dukun santet yang memancing kemarahan. Kekerasan dan pembunuhan.

Ah, saya tidak akan mengulasnya lebih dalam lagi. Karena semua catatan di blog ini hanya sekedar menu pembuka saja :D

Saturday, September 12, 2009

on the Road : Tengger

Jam dua pagi. Kami berhenti di pinggir jalan setelah melalui jalanan yang berkelok tajam. Malam terlalu larut untuk tahu dimana sebenarnya orang-orang biasa menikmati keindahan Bromo. Yang jelas, dari tempat kami berhenti, gundukan tanah yang sering kami lihat di gambar-gambar Bromo terlihat utuh. Kami dipisahkan sebuah jurang yang luas, entah apa yang ada disana. Di langit, bintang seperti lampu-lampu kota yang dilihat dari Puncak.

Udara makin dingin. Di dalam mobil, kami meringkuk dan menutup semua bagian tubuh. Berusaha memejamkan mata sebentar setelah 5 jam menempuh perjalanan dari Magetan sampai ke tempat ini melalui Pasuruan.

Jam tiga pagi. Kami membuka sedikit bekal yang kami bawa. Hanya kacang hijau, tahu goreng, dan air putih. Bekal ini sebenarnya memang bukan makanan sahur. Hanya camilan selama perjalanan. Untuk sahur, rencananya kami akan mampir di warung makan-warung makan yang pasti berjajar di lokasi obyek wisata yang sudah dikenal banyak orang itu. Ternyata kami salah.

Bromo dini hari adalah Bromo yang senyap dan tak ada kehidupan. Rumah-rumah tertutup rapat. Beberapa penginapan dan rumah makan yang kami jumpai tampak tak beraktivitas. Sempat kami berpikir untuk menumpang sahur di rumah penduduk. Kami lupa, orang-orang Tengger adalah penganut Hindu.

Jam empat pagi. Dari balik kaca mobil kami melihat langit agak kemerahan. Ternyata kami memilih posisi yang benar. Timur ada di hadapan kami. Di depan sana, kami akan menyaksikan matahari perlahan-lahan naik, dan kami akan menjadi saksi salah satu detik-detik magis yang dimiliki alam.

Dari jauh sana, di ujung jurang, muncul cahaya beriringan. Seperti obor yang berjalan menuju ke arah kami. Makin lama makin dekat. Lalu terdengar bunyi mesin menderu-deru. Terlalu gelap untuk tahu apa sumber suara itu. Hingga satu persatu mobil hard top muncul di jalanan, di samping tempat kami berhenti. Ternyata barisan cahaya di jurang itu adalah lampu hard top yang tadi sempat ditawarkan pada kami untuk menyusuri jalanan Bromo. Tarifnya 350 ribu tiap mobil. Kami menolak dan memilih membujuk si yaris untuk lebih mau bekerja keras.

Kami sudah tak lagi melihat jam. Perubahan waktu terlihat dengan penambahan warna merah di depan sana. Hingga kemudian lingkaran energi itu muncul, seiris, separuh, lalu penuh. Semuanya telah menjadi terang. Kami bisa melihat semuanya.

Gundukan tanah di depan kami terlihat seperti puding dengan lapisan yang bergelombang. Di sekililing kami adalah tebing yang dipenuhi pinus. Jurang di hadapan kami adalah hamparan pasir yang dipenuhi rumput-rumput berwarna coklat. Di belakang kami, monyet berlarian, bergantian dengan hard top yang kembali lagi dengan wisatawan. Hampir semuanya wisatawan asing.

Kami mengikuti hard top-hard top itu. Menyusuri jalanan berpasir, kami seperti berkendara di tengah gurun. Ban mobil terperosok ke pasir, berpanas-panas mendorongnya kembali, menjadi hal yang harus dilalui. Sabar ya, yaris sayang ...namanya juga mau ngirit :D

Tuesday, September 08, 2009

on the Road : Kidul

Ini kedatangan saya yang entah sudah keberapa ke Gunung Kidul. Masih tetap sama. Sinar matahari yang mellimpah, langit yang bersih dan biru, jalanan naik turun yang membelah hutan jati, dan tentu saja jajaran pantai yang mempesona.

Kali ini saya datang di tengah garangnya musim kemarau. Daun-daun jati yang kering dan berwarna coklat berguguran, berserakan di sepanjang saya memandang. Setiap mendongak ke atas, saya jumpai batang-batang tanpa daun atau batang-batang dengan sedikit daun yang berwarna coklat, terlihat kontras dengan latar belakang birunya langit.

Sudah begitu banyak cerita yang saya rekam dari jalanan ini. Tentang pacar lama (ehem), tentang semangat persahabatan, juga tentang obsesi naif yang terhenti di tengah jalan. Iya, berbekal kecintaan pada tempat ini, saya pernah mengikuti kompetisi di universitas. Menyusun bayangan ideal tentang sebuah daerah kering yang eksotis dalam lembaran-lembaran kertas. Dan ide itu masih tersimpan dengan rapi dalam satu arsip ingatan.

Seperti membuka kembali arsip lama, kedatangan kali ini menjadi laboratorium berbagai ide dari dua orang naif yang percaya alam telah menyediakan segalanya. Tentang Gunung Kidul masa depan yang memiliki landasan helikopter ( dulu sebenarnya ada, saya sempat berfoto di landasan itu, entah pertimbangan apa sehingga landasan itu dihilangkan :(), tentang penginapan-penginapan yang lebih beradab di sepanjang pantai, dan bagaimana memadukan keindahan pantai dengan tradisi orang-orang Gunung Kidul yang - menurut kami - mencerminkan potret nyata masyarakat Jawa.Dari Baron, Kukup, Drini, Sundak, Siung, hingga Wedi Ombo. Ide-ide itu makin meletup-letup, bersaing dengan rasa marah dan sesal, ketika kami ingat bagaimana jajaran pantai di Phuket menyolek diri dan menjadi tempat yang selalu didatangi. Ide itu juga melemah dibawa angin, ketika kami menyadari hanya Bali lah tempat di negeri ini yang telah diolah dengan sinergi, menyatukan segenap potensi, dan dikenal di seluruh penjuru bumi. Tidak pulau-pulau di Nusa Tenggara, tak juga di Bunaken, atau kepulauan di sepanjang pantai Sumatera.

Memang, pantai-pantai Gunung Kidul adalah pantai yang curam. Beralas karang, berombak besar. Bukan pantai landai beralas pasir yang bisa kami nikmati dengan berenang-renang seharian. Tapi bukankah alam hadir dengan segala ciri khasnya? Lagipula jika ingin berenang, Pantai Baron menyediakan sebuah mukjizat, sebuah muara tempat bersatunya sungai dan air laut. Di situlah kami bisa berenang, di antara dinding-dinding karang, bahkan hingga gelap datang.

Di Sundak, ide-ide kami tertahan oleh sebuah teriakan. Orang-orang berlarian ke pantai. Di salah satu karang sekelompok pemuda terlihat panik. Salah satu diantara mereka terbawa ombak.

"Ya seperti ini, sebenarnya karena manusianya. Manusianya yang ceroboh. Tapi Nyai Roro Kidul yang disalahkan," kata Parti, perempuan yang membuka warung makan di pinggir pantai itu.

Orang yang terbawa ombak telah diselamatkan. Sekelompok pemuda yang ternyata mahasiswa itu meninggalkan karang, menepi ke bibir pantai. Semuanya lega. Kami melanjutkan perjalanan.

Monday, September 07, 2009

on the Road : Dieng

Namaku Si Biri-Biri. Aku tinggal di tempat yang tinggi yang selalu dingin dan dipenuhi kabut. Di tempatku ini, langit menjadi begitu rendah, menggelantung di atas kepalaku.

Di sinilah para dewa tinggal. Bersemayam lalu dipuja banyak orang. Walaupun aku tak pernah melihatnya, aku mempercayainya. Bukankah dewa memang menyukai tempat yang tinggi?

Berkat para dewa tempat ini menjadi begitu indah. Pematang rumput yang luas, tempat aku sepanjang hari menikmati hangatnya matahari. Tanah subur yang menjadi sawah-sawah bertingkat, sumber makanan manusia. Telaga berwarna di tengah taman bunga, tempat mandi para bidadari. Lubang-lubang besar dengan air mendidih yang selalu bergolak. Juga satu sumur dengan air hijaunya yang tak pernah surut. Di sumur itu para dewa bermain dadu, menunggu manusia datang mencari peruntungan. Mereka akan berlomba melemparkan batu ke dalam sumur. Huup! Yang batunya jatuh di tengah sumur akan mendapatkan kemenangan.

Dulu sekali, ketika manusia mulai datang mencari dewa, mereka membangun tempat-tempat itu. Menumpuk batu-batu hingga tinggi, lalu menyimpan patung dewa di dalamnya. Di situ mereka menyembah, memuja, menyajikan berbagai sesembahan. Makanan. Juga emas permata.Lalu manusia-manusia baru datang, membuat bangunan pemujaan yang baru. Bentuknya berbeda, lebih besar, dan lebih berwarna. Ada banyak jumlahnya, berdiri di seluruh daratan. Dari sana, lima kali sehari aku mendengar suara-suara pemujaan. Mereka sedang bertemu dengan dewa mereka.

Di sinilah tempat tinggalnya berbagai dewa. Pesonanya menjerat lalu mengikat siapa saja yang pernah singgah. Sebuah keindahan yang bercampur dengan misteri dan keimanan hati. Dieng.

Sunday, September 06, 2009

on the Road : Losari

Ini semua berawal dari selembar potret. Bukan potret di artikel perjalanan atau brosur wisata melainkan potret Pak Beye dan Bu Ani :P. Well, saya mengaku norak. Tapi memang gara-gara potret dua orang itulah saya ingin datang ke perkebunan kopi di Losari, desa di perbatasan Semarang-Magelang.

Di potret yang diambil tahun 2006 itu, Pak Beye yang berbaju putih tampak serius menulis. Badannya membungkuk ke meja. Di sampingnya, Bu Ani menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Mereka berdua duduk di teras atau bisa jadi sebuah balkon. Di depan mereka terhampar perkebunan kopi dengan kabut yang tebal. Potret itu benar-benar menggambarkan kesempurnaan pesona perkebunan kopi. Mereka sedang berada di Losari Coffee Plantation Resort and Spa, sebuah resort di tengah perkebunan kopi Desa Losari.

Sejak itu saya mulai mencari tahu tentang tempat itu. Saya membaca berbagai versi penulisan daya tarik resort itu. Saya ikut merasakan dinginnya, melihat kabut tebal menyelimuti sekeliling resort, dan mencium aroma kopi yang baru digiling atau aroma seduhan kopi. Berbagai penggambaran suasana tempo doeloe, bangunan loji peninggalan zaman Belanda dan mebel yang antik, membentuk imaginasi sempurna tentang seorang noni Belanda yang sedang merajut dan menikmati secangkir kopi di tengah-tengah pohon-pohon kopi berselimut kabut.

Malam itu saya berdiri di depan pagar-pagar putih itu. Sejak awal saya tahu resort ini bukan penginapan seharga 500 ribu semalam. Tarifnya 250 USD semalam, dengan sedikit potongan untuk orang lokal. Dan ketika saya berada begitu dekat, keinginan itu menjadi luntur. Apalagi di depan saya terdapat jalanan aspal menanjak yang kanan kirinya ditanami dengan kopi. Kami tinggalkan resort - yang kata satpam - milik Sandiaga Uno itu, menuju Losari yang sesungguhnya.

Tiba di perkampungan penduduk, kami disambut dengan sebuah gereja dan masjid yang berdiri berhadapan. Di sebelah gereja ada kantor kepala desa, lalu di sebelahnya lagi sekolah dasar. Perempuan-perempuan berkerudung mukena putih dan laki-laki bersarung keluar dari masjid. Mereka baru selesai sholat tarawih.Kami berkeliling desa, melihat-lihat suasana sambil mencari kemungkinan untuk menumpang di salah satu rumah penduduk. Resort mewah itu adalah satu-satunya penginapan di desa ini. Saya menghampiri seorang perempuan yang berdiri di depan rumah. Tanpa membuang waktu, dia langsung menawari kami menginap di rumahnya. Suaminya, Sukidi, seorang ketua RT.

Lukisan Perjamuan Terakhir terpajang di ruang tamu Sukidi. Di ruang keluarga, Patung Yesus dan Bunda Maria berjajar di sudut ruangan. Timbul sedikit keraguan di benak kami. Bukan masalah yang besar, hanya memikirkan bagaimana kami makan sahur kalau menginap di rumah ini. Pelan-pelan saya katakan itu ke Sukidi. Ternyata dia malah menepis keraguan kami.

Jam 3 pagi, istri Sukidi dan anak perempuannya sudah menyiapkan berbagai sajian di meja makan. Tak lupa secangkir kopi khas Desa Losari. Kata Sukidi rasanya memang masih kalah enak dengan kopi yang ada di resort. Entah apa yang membuatnya berbeda. Orang-orang desa tak pernah tahu apa rahasianya. Tapi di lidah saya dan Abdul, kopi itu begitu nyamleng tanpa rasa pahit yang berlebihan.

Usai makan sahur, sayamelirik termometer yang terpasang di dinding rumah Sukidi. Tanda merahnya menunjukkan angka 22 derajat celcius. Suara berbagai burung terdengar. Di luar rumah, rumput-rumput basah, angin bertiup lembut, dan kabut tebal turun sampai ke tanah. Ah, inilah Losari yang sesungguhnya.

The Days on the Road

Tidak ada alasan yang spesial sehingga kami melakukan perjalanan panjang saat sedang melakukan ibadah puasa. Hanya sebuah pertimbangan waktu dan kesempatan yang memang datangnya saat ini. Dua hari setelah Lebaran kami sudah harus berada di Jakarta karena urusan pekerjaan. Karena itu, perjalanan yang awalnya akan dilakukan setelah Lebaran dimajukan sebelum Lebaran.

Ini akan menjadi perjalanan yang berbeda dengan perjalanan kami sebelumnya. Kami akan bermobil, menempuh jarak ribuan kilometer, singgah di berbagai tempat, membingkai apa yang kami lihat dan kami rasakan dalam ingatan. Tujuan utama kami adalah Jawa bagian timur yang eksotis dan kaya dengan tempat-tempat indah yang belum banyak dijamah.

Sejauh mana roda kami berputar dan sebanyak apa ingatan baru yang mampu terekam, akan tergantung sampai dimana uang, tenaga dan waktu mencukupi. Jadi, mari kita berjalan. *tuing*