TODAY WORD
"... In the beginning, God created the heaven and the earth. In the 20th century, man acted to destroy the planet. Let it be written that in the 21st century man worked to heal his world..."
(Pembaca Times dari Virginia saat Times mengetengahkan sampul muka Endangered Earth : Planet Of The Year, tahun 1989)
Thursday, June 22, 2006
Wednesday, June 21, 2006
DI TENGAH BENCANA ITU...
"Kebahagiaan itu hadir saat sedikit hal yang kita lakukan bermakna bagi orang lain"
Tadi malam saya bertukar kabar dengan salah seorang sahabat saya. Dia masih ada di Jogja. Tergabung dalam sebuah crisis centre yang membantu memulihkan trauma anak-anak korban gempa.
Seketika saya merasa sedih dan malu pada diri sendiri. Rasanya belum ada sesuatu yang saya lakukan secara langsung untuk membantu korban bencana sebagaimana yang dilakukan teman saya tersebut. Walaupun beberapa hari saya berada di lokasi bencana, yang saya lakukan tak lebih dari sekedar "menonton".Karena memang seperti itu pekerjaan saya, melihat, mengamati, dan kemudian menulis.
Sebenarnya saat itu juga sudah tercetus keinginan di hati untuk melakukan hal lebih. Saya sempat merumuskan langkah-langkah untuk memberikan bantuan dengan beberapa teman kuliah yang masih ada di Jogja. tapi apa daya, beberapa saat setelah ide tercetus, kantor memanggil agar saya kembali ke Jakarta saat itu juga.
Sebelumnya, saya juga pernah berada di tengah bencana longsor Banjarnegara. tapi lagi-lagi, yang saya lakukan tak lebih dari sekedar "menonton". Bahkan, karena saat itu saya bekerja di TV, saya sempat melakukan hal "bodoh" dengan melakukan on screen di depan orang yang sedang histeris karena trauma. Saya juga membuat paket wawancara langsung dengan dua anak yang seluruh keluarganya telah tiada. Saya menjadikan mereka "tontonan".Tanpa berbuat sedikitpun bagi mereka. Bahkan, sekedar mengucapkan turut berbela sungkawa pada kedua anak itu tidak saya lakukan, saking ribetnya mikirin kualitas tayangan.
Tapi sudahlah, saya tidak akan menyesal dan menyalahkan diri terlalu dalam. Semua orang punya peran masing-masing.Mungkin suatu saat saya bisa melakukan sesuatu untuk mereka, sesuai peran yang saya jalani sekarang.
Tuesday, June 20, 2006

SEPEDA OH SEPEDA....
"Kapan terakhir kali anda bersepeda?"
Pertanyaan ini tiba-tiba saja pingin saya tanyakan pada semua orang hari ini. Apa sebab? Tidak jelas juga, yang pasti tiba-tiba saja saya sangat rindu bersepeda. Kalau pertanyaan itu diajukan pada saya, saya akan jawab sudah nggak inget lagi. Saking lamanya.
Aktivitas bersepeda sekarang memang sudah jarang dilakukan. Semua orang asyik dengan teknologi yang lebih canggih, lebih menawarkan kecepatan, dan dianggap lebih nyaman karena ga perlu ngeluarin tenaga buat nggenjot. raktis kehadiran sepeda dilupakan. Apalagi di kota metropolitan yang menuntut segalanya serba cepat seperti Jakarta.
Saya juga mengakui, kalau kemana-mana kita masih menggunakan sepeda pasti cukup merepotkan dan nggak praktis. jadi saya ngga akan mengkampanyekan untuk mengganti semua kendaraan yang anda gunakan dengan sepeda.
Tapi kayaknya, sesekali menyempatkan diri untuk bersepeda di tengah segala kesibukan akan menjadi salah satu cara efektif untuk mendapatkan pencerahan.
Betapa indahnya, bersepeda sambil menikmati hijaunya sawah dan birunya langit. Di tengah semilirnya air, tanpa banyak suara bising kendaraan, yang kita dengar adalah suara hati kita sendiri.
Monday, June 19, 2006

SUSAHNYA MELIHAT BIRUNYA LANGIT DI JAKARTA
Hari ini saya baru benar-benar menyadari bahwa langit Jakarta tidak berwarna biru. Selama ini, saya cuma menganggap bahwa program langit biru yang digagas Gubernur Sutiyoso hanya gerakan kampanye normatif saja untuk mengurangi polusi di Jakarta. Begitu juga ketika tadi di balaikota ada tamu dari Korea yang katanya akan memberikan bantuan untuk mewujudkan program langit biru di Jakarta. Tapi sekarang, saya benar-benar berani bicara bahwa langit Jakarta tidak berwarna biru. Ini bukan kiasan atau hiperbola. Tapi kata-kata yang menunjukkan keadaan sebenarnya.
Dua minggu lalu, saya menyempatkan pulang ke Magetan melalui Jogja dengan menggunakan kereta api. Sepanjang perjalanan, hati saya bersorak menyaksikan hamparan hijau sawah dan birunya langit. Di Jogja, walaupun tingkat polusi sudah sangat tinggi, saya juga masih bisa melihat bahwa langit memang diciptakan berwarna biru.
Di sepanjang perjalanan Jogja - Magetan melalui Solo, Sragen, Ngawi, saya juga benar-benar menikmati karya Ilahi yang dibuat dengan lukisan biru ini. Di Magetan, jangan ditanya. Semuanya masih bertahan dengan keperawananya.
Saya semakin merindukan birunya langit di berbagai tempat yang pernah saya singgahi. Seperti Dieng atau sepanjang pantai di laut selatan mulai dari Wedi Ombo, Kukup, Krakal, Parangtritis, hingga Pangandaran.
Sementara, di pantai Ancol, Jakarta, langitnya pun sudah tidak berwarna biru. Mungkin bisa dikatakan di Jakarta langitnya sudah berwarna abu-abu.
Hiruk pikuk Jakarta dengan segala aktivitasnya memang telah merubah segalanya. Termasuk sesuatu yang telah ada bersamaan dengan hadirnya alam.
Sunday, June 18, 2006
BIARKAN JOGJA ISTIRAHAT...
Saya baru saja melihat tayangan di TV, hari ini ada ritual langkah mbisu yang dilakukan masyarakat Jogja di perempatan alun-alun utara. Wah, suatu kerugian besar tidak bisa melihat upacara yang cukup jarang dilakukan itu. Sebelum gempa, saya juga mendapat informasi bahwa Mbah Marijan melakukan ritual lampah mbisu tiap malam Jum'at. Dan kini, lampah mbisu dilakukan dengan jumlah yang lebih besar di tempat yang lebih representatif bagi Jogja secara keseluruhan.
Terlepas dari masalah percaya atau tidak, saya melihat langkah mbisu sebagai sebuah kesempatan untuk merenung sejenak di tengah segala hiruk pikuk rutinitas sehari-hari. Pun dengan bencana bertubi-tubi yang terjadi di Jogja, saya merasa ini adalah momentum yang diberikan Yang Kuasa untuk melakukan sebuah revitalisasi bagi Jogja dan isinya.
Saat gempa terjadi (27/5), saya kebetulan sedang ada di Parangtritis. Jujur, apa yang sedang saya pikirkan pada saat goncangan hebat itu terjadi adalah "Betapa menyedihkannya ditemukan dalam keadaan tewas saat sedang melakukan hal yang kurang bermakna". Boleh percaya boleh tidak, karena pikiran itu yang justru ada pertama kali, saya sampai tidak tahu harus berbuat apa selama beberapa menit.
Beruntung, Yang Kuasa masih memberikan saya kesempatan untuk menikmati keindahan dunia. Karena gempa pula, saya diberi "bonus" oleh kantor untuk tidak segera kembali ke Jakarta, untuk ikut meliput peristiwa nahas tersebut.
Malam pertama pasca gempa, saya berkeliling Jogja. Dari sini saya menemukan wajah lain dari kota yang sangat saya cintai ini. Semua gelap. Malioboro yang biasanya menjadi urat nadi kehidupan sunyi senyap. Semua aktivitas terhenti.Keramaian justru berpusat di rumah sakit dan beberapa hotel yang menjadi tempat penginapan para sukarelawan, pejabat, dan wartawan dari luar kota. Tapi, melihat jauh kedalam, dalam suasana yang agak mencekam dan sunyi ini, ada sebersit keheningan. Keheningan yang menyiratkan kedamaian.
Dari sini saya berpikir, inikah yang sedang diinginkan Jogja? beberapa saat saja beristirahat dari segala beban yang dipanggulnya?
Ibarat bekerja, kadang kita pun butuh waktu untuk citu, melepas semua beban sambil mensyukuri birunya langit dan hijaunya tanaman. Ibarat HP yang digunakan penuh sepanjang hari, batereinya pun harus dicharge lagi. Ibarat perjalanan panjang, kita harus berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah selanjutnya.
Perlu menjadi catatan, gempa terjadi di saat tingkat kunjungan masyarakat ke Jogja sangat tinggi. Saat itu sedang long weekend, dan sebuah iklan layanan masyarakat dalam ukuran 1/2 halaman berisi ajakan menyaksikan lava Merapi dipasang di harian nasional. harus diingat juga, Merapi mengamuk, justru setelah BPPTK menurunkan statusnya dari awas menjadi siaga.
Yah..mungkin Jogja lelah..butuh istirahat sebentar...
Mungkin kita memang harus "mbisu" sesaat, mengurangi suara yang menambah kegaduhan Jogja...
mungkin dengan memberi kesempatan Jogja beristirahat sebentar, Jogja akan kembali ramah...
(M)BEBENG YANG TINGGAL KENANGAN
Masih lekat di ingatan, ketika Jumat(26/5), tepatnya satu hari menjelang gempa saya datang ke bumi perkemahan Bebeng di wilayah Kaliadem. Waktu itu saya memang sengaja menyempatkan mampir kesana di sela-sela waktu liburan yang sangat sempit. Maklum, selain benar-benar kangen, saya juga ingin melihat Merapi yang sedang menjadi pusat perhatian bangsa Indonesia.Di hari Jumat yang cerah itu, kawasan yang merupakan salah satu tempat tujuan wisata tersebut ramai dengan pengunjung. Ternyata iklan layanan masyarakat yang di pasang di Harian Kompas, Rabu (24/5), berhasil mencapai tujuannya.
Bagaimana tidak, iklan berukuran 1/2 halaman tersebut dibuat sangat menarik dengan gambar lava pijar yang sedang mengalir dari Merapi. Di iklan yang bertajuk "LONG WEEKEND MENIKMATI LAVA PIJAR MERAPI" tersebut dituliskan beberapa titik yang dikatakan aman untuk melihat Merapi, salah satunya di Kaliadem.
Kaliadem memang merupakan titik yang tepat untuk menikmati pemandangan Merapi. pada susana normal saja, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana kegagahan gunung teraktif di dunia ini.Kaliadem juga menjadi salah satu titik pemberangkatan para pendaki Merapi.
Dulu, bersama-sama teman kuliah dan orang terkasih, saya juga sering melakukan aktivitas di tempat ini. Berkumpul bersama hingga fajar menyingsing sambil melingkari api unggun merupakan suatu kenangan yang tak terlupakan.
Tapi kini, Bebeng sudah berubah. Timbunan material telah mengubur keindahan tempat itu. Warung-warung kopi yang berjajarpun kini sudah tidak ada. Bahkan, di tempat ini pula, Warjono dan Sudarwanto, dua relawan yang menyelamatkan diri di bunker, ditemukan dalam keadaan tewas.
Entah kapan bisa menghirup semilirnya udara di keindahan panorama Kaliadem lagi.....
Friday, June 16, 2006
MENEMBUS KABUT LERENG LAWU
Senin (12/6), waktu menunjukkan pukul 16.00 saat kami tiba di telaga Sarangan. Telaga indah yang terletak di lereng lawu bagian timur ini akan menjadi tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan indah dari Magetan, sebuah kota kecil di Jawa Timur menuju Jogja melalui gunung Lawu.
Hawa dingin terasa menusuk tulang. Sebenarnya, dinginya udara sudah terasa sebelum tiba di telaga Sarangan. Tepatnya setelah meninggalkan pusat kecamatan Plaosan, di tengah jalan yang mulai menanjak tajam, konsentrasi kami terpecah antara indahnya alam dan tubuh yang mulai menggigil.
Kesempatan transit di Telaga Sarangan kami manfaatkan untuk menikmati secangkir teh hangat sambil memandang ke arah telaga yang airnya menyiratkan aroma kedamaian. Suara kapal boat memecah keheningan. Meski demikian, suara yang agak bising tersebut tak sampai merusak aura keindahan yang ada.
Setelah merasa tubuh lebih hangat, kami memutuskan mengelilingi telaga. Hijaunya hutan pinus di sekeliling telaga berbaur dengan kabut yang mulai turun, menambah kesempurnaan lukisan Ilahi di perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah ini. Pun dengan air telaga yang masih cukup pasang di awal bulan Juni. Hmmm... rasanya Kyai Pasir dan Nyai Pasir yang disebut sebagai pembuat telaga dulu tidak pernah membayangkan hasil karyanya akan menjadi tempat yang sedemikian memikat.
Berkeliling telaga sepanjang lebih kurang lima kilometer tentu sangat menguras tenaga.Tapi impas dengan sensasi yang didapat. Kedamaian, perasaan dekat denganNya, dan senyum yang selalu tersungging karena sudah tak mampu lagi mengucapkan pujian.
Toh, bagi yang masih malas berjalan kaki, menyewa kuda seharga Rp 15.000 bisa menjadi alternatif. Kami memilih menggunakan sepeda motor saja.
Menyadari waktu terus berjalan, sementara perjalanan masih panjang, kami putuskan untuk segera meninggalkan telaga yang juga disebut telaga pasir ini.
Kami meneruskan perjalanan, melalui jalan yang lebih curam.Jalan tembus Magetan-Karang anyar yang masih dalam tahap perbaikan memerlukan keberanian dan kecermatan tersendiri. Sekali lengah atau salah rem, nyawa taruhannya.
Terlebih, saat itu kabut sudah mulai menebal. jarak pandang tidak sampai 1/2 meter. Dan waktu yang menjelang petang membuat jalan ini sangat sepi. Bisa dibilang kamilah satu-satunya penghuni jalan.
Keadaan makin parah ketika masuk wilayah Tawangmangu, Karanganyar. Tapi bagi kami, dan anda semua perlu mencoba, suasana saat itu sangat menakjubkan. Kami seperti berjalan di atas awan, di sebuah dunia lain,sebuah sensasi yang sangat indah......
Meninggalkan Tawangmangu, kabut mulai berkurang. kami meneruskan perjalanan melalui Karanganyar, Solo, Klaten, hingga tiba di Jogja pada pukul 20.00.
Ada perasaan kehilangan...Merasa telah kembali ke kehidupan nyata... ke berbagai rutinitas dan aktivitas.........sedih memang... tapi hidup harus terus berjalan...
Hawa dingin terasa menusuk tulang. Sebenarnya, dinginya udara sudah terasa sebelum tiba di telaga Sarangan. Tepatnya setelah meninggalkan pusat kecamatan Plaosan, di tengah jalan yang mulai menanjak tajam, konsentrasi kami terpecah antara indahnya alam dan tubuh yang mulai menggigil.
Kesempatan transit di Telaga Sarangan kami manfaatkan untuk menikmati secangkir teh hangat sambil memandang ke arah telaga yang airnya menyiratkan aroma kedamaian. Suara kapal boat memecah keheningan. Meski demikian, suara yang agak bising tersebut tak sampai merusak aura keindahan yang ada.
Setelah merasa tubuh lebih hangat, kami memutuskan mengelilingi telaga. Hijaunya hutan pinus di sekeliling telaga berbaur dengan kabut yang mulai turun, menambah kesempurnaan lukisan Ilahi di perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah ini. Pun dengan air telaga yang masih cukup pasang di awal bulan Juni. Hmmm... rasanya Kyai Pasir dan Nyai Pasir yang disebut sebagai pembuat telaga dulu tidak pernah membayangkan hasil karyanya akan menjadi tempat yang sedemikian memikat.
Berkeliling telaga sepanjang lebih kurang lima kilometer tentu sangat menguras tenaga.Tapi impas dengan sensasi yang didapat. Kedamaian, perasaan dekat denganNya, dan senyum yang selalu tersungging karena sudah tak mampu lagi mengucapkan pujian.
Toh, bagi yang masih malas berjalan kaki, menyewa kuda seharga Rp 15.000 bisa menjadi alternatif. Kami memilih menggunakan sepeda motor saja.
Menyadari waktu terus berjalan, sementara perjalanan masih panjang, kami putuskan untuk segera meninggalkan telaga yang juga disebut telaga pasir ini.
Kami meneruskan perjalanan, melalui jalan yang lebih curam.Jalan tembus Magetan-Karang anyar yang masih dalam tahap perbaikan memerlukan keberanian dan kecermatan tersendiri. Sekali lengah atau salah rem, nyawa taruhannya.
Terlebih, saat itu kabut sudah mulai menebal. jarak pandang tidak sampai 1/2 meter. Dan waktu yang menjelang petang membuat jalan ini sangat sepi. Bisa dibilang kamilah satu-satunya penghuni jalan.
Keadaan makin parah ketika masuk wilayah Tawangmangu, Karanganyar. Tapi bagi kami, dan anda semua perlu mencoba, suasana saat itu sangat menakjubkan. Kami seperti berjalan di atas awan, di sebuah dunia lain,sebuah sensasi yang sangat indah......
Meninggalkan Tawangmangu, kabut mulai berkurang. kami meneruskan perjalanan melalui Karanganyar, Solo, Klaten, hingga tiba di Jogja pada pukul 20.00.
Ada perasaan kehilangan...Merasa telah kembali ke kehidupan nyata... ke berbagai rutinitas dan aktivitas.........sedih memang... tapi hidup harus terus berjalan...
Subscribe to:
Posts (Atom)


