About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Sunday, June 28, 2009

Pasar Malam


Malam itu, saat bianglala pasar malam mulai berputar, sebuah ingatan panjang kembali berjalan. Dari satu tikungan waktu masa kini, saya kembali ke sebuah masa dimana pasar malam tidak hanya menjadi obyek kamera dan secuil pengobat rindu. Sebuah masa dimana ia menjelma sebagai harapan, perayaan, sekaligus simbol derita.


Kami menemukan pasar malam itu tak sengaja dalam perjalanan dari satu bukit kapur di pinggiran Jakarta. Kerlap-kerlip lampu bianglala dan keramaian orang di lapangan menggoda kami untuk mampir. Awalnya hanya mau memotret, tapi kemudian malah ingin naik bianglala. Harga karcisnya Rp4000 untuk tiap orang.


Bertahun-tahun telah berlalu sejak terakhir kali saya naik bianglala di pasar malam. Terakhir saat saya SD, dalam sebuah pasar malam yang menjadi penanda dimulainya musim penggilingan tebu, di Magetan sana. Pabrik gula mengadakan pasar malam sebagai ungkapan syukur dan harapan agar penggilingan tebu berjalan lancar, bisa menghasilkan gula dengan kualitas baik.


Pasar malam buka giling menjadi pesta yang selalu ditunggu semua orang. Kami berbondong-bondong kesana, larut dalam suka cita. Ya, sejatinya dimulainya masa giling tak sekedar simbol keuntungan pabrik gula tapi juga simbol uang bagi petani tebu dan buruh-buruh yang ikut menebang.


Pembukaan pasar malam saat itu selalu diawali dengan arak-arakan tebu temanten. Dua batang tebu dihias dengan janur lalu diangkut dengan tandu yang juga sudah dihias. Sepasang tebu temanten ini akan diarak sampai ke tempat penggilingan, menjadi simbol mulai bekerjanya alat giling. Prosesi itu akan dilanjutkan dengan pasar malam yang diselenggarakan hingga sebulan lamanya.


Tebu saat itu menjadi satu tanaman yang diidolakan petani-petani di desa saya. Dengan menanam tebu, orang-orang tidak perlu repot-repot mencari pembeli. Pabrik gula akan siap menampung berapapun banyaknya. Orang juga percaya tebu akan selalu dicari selama manusia masih memerlukan gula.


Saya ingat bagaimana saat panen tebu tiba, semua orang di desa saya menjadi sangat sibuk. Buruh-buruh berangkat sejak pagi dengan mengenakan sarung tangan tebal dan penutup muka. Pemilik tanah mengawasi orang-orang itu bekerja sambil menyiapkan makanan dan minuman. Anak-anak kecil ikut berebut batang tebu untuk dihisap airnya. Dikupas, dikeret menjadi ruas-ruas yang kecil, lalu dihisap di bawah matahari. Segala kesibukan berakhir saat pekerja mulai membakar sisa-sisa batang tebu. Api membesar dan asap hitam membumbung ke langit. Lalu lori yang mengangkut tebu mulai bergerak perlahan, menuju tempat penggilingan.


Pada masa itu, pabrik gula menjadi sebuah lambang kekuatan dan kejayaan. Ingatan masa kecil saya merekam bagaimana orang-orang membicarakan Pak A atau Pak B, pegawai pabrik gula yang memiliki kekayaan melimpah. Maka wajar saja kalau kemudian orang-orang berlomba-lomba nyogok agar anak-anaknya bisa diterima sebagai pegawai pabrik gula.


Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa memberi gambaran yang sangat hidup tentang pabrik gula zaman kolonial. Pimpinan pabrik gula adalah seorang Belanda yang memiliki kedudukan tinggi. Mereka seperti penguasa lokal yang mengalahkan kekuasaan bupati. Seseorang akan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hati direktur pabrik gula. Termasuk menjual anak gadisnya agar bisa diangkat sebagai pegawai pabrik gula.


Kekuatan dan kejayaan pabrik gula kini hanya menjadi bagian dari kenangan. Sejak awal 1990, keuntungan pabrik gula menurun Mereka mulai mengurangi pembelian tebu petani. Manajemen pabrik gula yang korup dan amburadul menjadi penyebab utama. Lalu bencana lain datang tahun 1998. Pemerintah mengizinkan gula dari luar negeri masuk tanpa hambatan. Harga gula menjadi murah, demikian juga tebu. Petani-petani di desa saya mulai putus asa. Mereka mengganti tebu dengan tanaman lain. Beberapa orang yang masih setia pada manisnya kenangan tetap bertahan.


Lori tebu pengangkut hasil panen tak pernah lagi datang. Relnya yang sekarang masih ada menjadi saksi sebuah kejayaan yang tergilas roda zaman. Pasar Malam masih diselenggarakan tiap masa buka giling tiba. Ada bianglala dan berbagai mainan anak-anak, ada bermacam-macam penjual makanan. Sayang, tebu itu tak lagi manis…


Pasar Malam Sawangan, 27 Juni 2009

Sunday, June 14, 2009

Co Pilot

“Aku bc statusmu di fb. Tidak tahu hrs berkomentar apa, Ky. Co pilot heli yg jatuh tadi siang adalah teman baikku saat SMP di Solo.”


Pesan itu baru saja masuk ke handphone saya. Datar, tapi saya rasakan ada nada menggugat. Pemberitahuan, tapi saya rasakan sebagai ungkapan kekecewaan. Saya merasa SMS itu ingin berkata, “Kamu tidak peduli” atau “Kamu tidak tahu rasanya kehilangan”. Pengaruhnya dahsyat, saya merasa kosong, terharu dan berkaca-kaca.


Lalu saya mengeja kembali status yang saya tuliskan di facebook tadi sore, beberapa saat setelah media menurunkan berita jatuhnya helikopter di Bogor.


“Bukan soal anggaran yang harus dinaikkan, tapi bagaimana anggarannya digunakan dgn tepat buat pemeliharaan alat. Bukan untuk yang lainnya, apalagi dikorupsi.”


Saya memang tidak mendukung kenaikan anggaran pertahanan.Dalam kondisi APBN yang serba terbatas, saya melihat ada yang perlu diprioritaskan, dan itu bukan pertahanan. Menurut saya, prioritas utama adalah pendidikan dan kesehatan. Soal pertahanan, bolehlah menjadi prioritas ketiga. Namanya juga sedang terbatas ya harus ada yang dipilih, meskipun sebenarnya berat.


Anggaran pertahanan tahun 2009 diturunkan menjadi Rp35 triliun dari sebelumnya Rp36,39 triliun. Padahal konon, harusnya anggaran pertahanan itu sebesar Rp127 triliun. Dengan penurunan anggaran seperti ini, TNI harus menghemat pengeluarannya. Tidak akan ada pembelian alat-alat baru, hanya pemeliharaan alat-alat yang sudah ada. Mengganti bagian yang harus diganti, memperbarui komponen yang dipandang tidak layak. Dan itu semua baru bisa dilakukan dengan benar jika anggaran yang ada digunakandengan tepat, tak ada sunat sana sunat sini. Dan saya yakin memang disitu sumber masalahnya.


Lalu seorang teman bertanya, bagaimana jika memang alat-alatnya sudah usang dan tidak layak pakai semua? Saya jawab, ya sudahlah. Tidak usah latihan-latihan terbang dulu. Toh apa sih yang mau dicapai? Perang? Saya rasa negara kita masih akan tetap memilih penyelesaian melalui diplomasi dalam menyelesaikan permasalahan.


Saya tidak percaya pada mazhab orang-orang realis tentang keseimbangan kekuatan (balance of power) untuk mencegah perang. Bolehlah kepemilikan nuklir menjadi bukti mazhab ini. Dua negara yang sama-sama punya nuklir tidak akan pernah berperang. Tapi saya justru mempertanyakan untuk apa menghabiskan duit membuat senjata nuklir jika ternyata untuk pajangan saja. Sementara pada saat bersamaan masih ada kelaparan, wabah penyakit, dan orang-orang buta huruf.

Waktu berjalan dan kebutuhan selalu berubah. Pada era sebelum kemerdekaan, Bangsa Indonesia memang harus mengorbankan semua yang dimilikinya untuk mendapatkan kedaulatan atas negerinya sendiri. Tapi sekarang, 64 tahun setelah merdeka, sudah tidak ada lagi penjajah yang mesti diusir dengan senjata. Justru yang harus diusir adalah kemiskinan, kebodohan.


Urusan Ambalat, misalnya, harusnya bisa diselesaikan dengan jalur diplomasi asalkan diplomat-diplomatnya berkualitas. Dan memang penyelesaian sengketa lewat diplomasi butuh waktu lama, tapi kita harus menerima. Yang lebih urgent dan mendesak adalah jalan penyelesaian bagi seorang Siti Hajar yang dihajar habis-habisan di Malaysia. Apalagi sumber masalahnya kalau bukan kemiskinan.Ya, saya percaya keamanan manusia (human security) jauh lebih penting dari keamanan batas wilayah (state security).


Jatuhnya helikopter tadi sore, yang merupakan kecelakaan ketiga pesawat TNI selama sebulan ini, semakin menggugat pertanyaan : sampai kapan prajurit-prajurit itu mati konyol? SMS yang baru saya terima, juga saya maknai sebagai gugatan. Gugatan atas sebuah kematian yang sia-sia, pengorbanan nyawa yang seharusnya tidak perlu.


Saya sendiri lebih memilih tidak ada tentara dan senjata. Meskipun Anda semua akan berkata saya naïf.

Wednesday, June 10, 2009

Ikan Bule


Sara Ting nama perempuan itu. Dia keturunan Sangir – suku yang mendiami Kepulauan Sangihe dan Talaud di Laut Sulawesi. Keinginan untuk bertahan hidup membawanya ke Manado di usia belia. Di kota itu ia menemukan jodohnya, Yoseph, seorang pemuda Bunaken. Mereka menikah dan menetap di Bunaken hingga saat ini.

Kami bertemu dengannya tanpa sengaja setelah puas menikmati keindahan terumbu karang Bunaken, Mei lalu. Dari pesisir pulau, kami berjalan ke tengah pulau, menyusuri jalan setapak yang rapi dengan deretan pohon kelapa tinggi menjulang, lalu berhenti di rumah Sara Ting. Suara orang membelah kelapa yang membuat kami berhenti di rumah itu.


Sara Ting tertawa waktu saya minta izin memotretnya. Perempuan berumur 47 tahun itu terus bekerja, membelah kelapa satu persatu, lalu melemparnya ke tempat pembakaran.


Dia tertawa waktu Abdul mengambil bakal biji kelapa yang disisihkan. “Itu Apel Manado,” kata Sara.


“Apel Manado?” Saya dan Abdul tertawa. Abdul bilang rasa nya enak dan segar.


Sara Ting tertawa nyengir. “Biasanya untuk makanan babi,” katanya.


Membuat kopra adalah mata pencaharian Sara Ting dan suaminya. Setiap hari mereka bersama-sama membelah kelapa, memisahkan bakal biji, menumpuk di tempat pembakaran, lalu membakar saat sudah penuh. Ada kelapa yang berasal dari pohon sendiri ada yang dibeli dari orang lain, seratus Rupiah untuk sebiji kelapa.

Sampai tempat pembakaran penuh dengan kelapa, Sara biasanya membutuhkan waktu paling cepat sebulan. Setelah proses pembakaran, biasanya akan dihasilkan hingga 1 kwintal kopra. Suami Sara akan membawa kopra-kopra itu ke Manado, dijual ke tengkulak di pasar, 350 ribu untuk 1 kwintal kopra. Tengkulak akan mengantar kopra-kopra itu ke pabrik-pabrik pembuatan minyak goreng. Di rumah kami kopra itu menjelma menjadi Bimoli atau Sunrise yang harganya Rp22 ribu tiap dua liter.


Dari kopra, Sara Ting dan Yoseph mempertahankan hidup dan menanggung biaya sekolah anak bungsunya di SD Bunaken. Anak sulungnya sudah menikah dan sekarang bekerja sebagai kuli bangunan di Manado.


Soal makan, sebenarnya mereka tak pernah risau. Sara dan Yoseph hanya perlu memberi beras. Mereka tak pernah membeli lauk, semua sudah disediakan alam. Setiap hari Yoseph ke laut, mencari ikan untuk makan anak istrinya. Tapi sudah tiga hari ini, kata Sara, Yoseph gagal mendapat ikan.Hari itu, kami juga melihat Yoseph pulang dengan tangan kosong.


“Tidak dapat ikan. Ikannya takut sama bule,” kata Yoseph. Saya dan Abdul tertawa. Kami kira ini lelucon. Tapi ternyata bukan. Kata Yoseph, banyaknya orang-orang terutama bule yang berenang atau menyelam, membuat ikan sulit ditangkap. Mereka bersembunyi di balik terumbu dan enggan menangkap umpan.


Kami jadi menebak-nebak, jangan-jangan tiga hari ini Yoseph tak mendapat ikan karena banyaknya orang-orang yang datang ke Bunaken.Mereka sedang mengikuti konferensi kelautan internasional - World Ocean Conference- di Manado


“Bule marah kalau ikan diambil,” kata Sara. Ya, kalau itu kami paham. Siapapun akan marah kalau ikan-ikan itu diambil manusia. Kami sangat tahu keindahan terumbu Bunaken tak akan sempurna tanpa ikan-ikan itu. Tapi sedikitpun tak pernah kami berpikir menikmati keindahan Bunaken berarti mengurangi satu nikmat bagi keluarga Sara dan Yoseph.


Ah, tiba-tiba saya jadi ingat minyak goreng saya sudah habis. Asalnya dari kopra, bukan?


North Celebes, May 16-19



Atap 234


Ini sepenggal kisah tentang atap satu bangunan berlantai empat di JakartaRaya. Bagian yang seringkali terlupakan dan hanya dihampiri seperlunya saja. Bahkan seringkali orang mampir karena terpaksa. Terpaksa menunggu antrian sholat di mushola atau terpaksa menghindari orang karena ingin menerima telepon dari seseorang yang dirahasiakan.


Di atap itu, aku pernah menyaksikan salah satu senja JakartaRaya yang paling indah. Sepanjang hari angin semilir, makin kencang setelah matahari terbenam. Saat malam, kalau menghadap ke arah barat, lampu-lampu kota terlihat seperti kunang-kunang. Di tengah bulan, aku sering mendapati purnama tepat berada di atas ubun-ubunku. Sayang, aku tak pernah melihat bintang.


Sebagai wong ndeso yang baru hijrah ke metropolitan, aku seperti menemukan satu tempat pelarian. Tempat yang memberiku rasa damai dan rasa nyaman. Tempat untuk sejenak melepaskan diri dari kemacetan jalanan, keruwetan bahan berita, dan kebebalan otak pemal as seperti aku. Kalau sudah ada di atap..rasanya b-e-b-a-s.


Tak ada satu kegiatan khusus yang kulakukan di atap. Paling-paling ya, melamunkan hal-hal tak penting. Ya, maklumlah..saat itu nasibku sebagai wong ndeso sedang apes-apesnya. Sebatang kara di Jakarta, jauh sama pacar, meskipun ujung-ujungnya putus juga.


Bulan-bulan selanjutnya, setelah tidak lagi ndeso dan agak ng(k)ota (ciyeeehh), aku mulai berbagi kenyamanan atap dengan orang-orang sekitarku. Foto-foto, ngobrol-ngobrol, ketawa-ketiwi, yah..lebih banyak nggosipnya sih. Di atap itu juga, aku pernah mendapat kejutan ulang tahun paling mengharukan dan menyenangkan dari sah

abat-sahabatku, disaat calon suamiku sendiri melupakannya.

Dua bulan lalu, bersama Tya dan Nunik, tiba-tiba terbesit ide untuk membuat sesuatu di atas atap. Sesuatu untuk perpisahanku, kata Tya (siapa yang mau perpisahan?). Tya membanyangkan sebuah acara yang hangat, romantis, dihiasi temaram lilin, dihadiri sedikit orang. Aku sendiri malah membayangkan pesta besar dihadiri banyak orang.


Hari terus berjalan, tanpa menyinggung lagi ide gila di atas atap itu. Lagipula, agak naïf berkeinginan mengumpulkan teman-teman yang berjibaku di pabrik berita untuk berkumpul dalam sebuah acara yang sama sekali tidak penting.


Aku merencanakan hal yang lebih membumi, tidak lagi di atap tapi menginjak tanah. Bernyanyi di ruang karaoke. Memang masih naïf juga. Bagaimana mengajak banyak orang yang dikejar deadline untuk karaokean. Paling ujung-ujungnya hanya elu lagi-elu lagi yang bisa ikut.


Tapi tenyata tidak. Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan, tak kalah menggembirakan dengan kejutan ulang tahun di atap.


Melihat Bang Pohan, Mas Koesworo, Pak Rihad, Pak Encung, Mas Iman, Pak Wahyudi bernyanyi, menjadi bagian dari kegilaan teman-teman semua, akupun bertanya dalam hati : Benarkah aku ingin berpisah? Siapkah aku untuk tidak lagi menjadi bagian dari mereka? Relakah aku kehilangan atapku? Akankah kudapatkan atapku yang nyaman di tempat lain?


Mungkin aku bisa menemukan atap lain, tapi tentu saja berbeda. Atap itu tetap akan menjadi yang terbaik. Menjadi saksi dari proses yang kujalani. Tempat aduan wong ndeso yang terdampar di ibukota. Sesuatu yang tak akan kutemui di tempat lain, di bangunan bercakar langit sekalipun.


Tapi toh, aku memang tetap harus undur diri. Bukan karena atapku tak lagi nyaman. Tapi semata-mata hanya karena waktu terus berjalan. Genap tiga tahun aku merasakan nyamannya atap itu, seperti ada genta berbunyi, mengingatkan aku untuk berdiri, kembali melangkah, melanjutkan perjalanan.


Tentu saja bukan perjalanan yang selalu indah. Belum pasti juga akan ada atap nyaman yang kutemukan. Tapi memang aku harus melangkah.


Aku hanya bisa berharap, sesekali aku masih bisa mampir ke atap itu. Masih bisa menjadi bagian dari orang-orang yang dinaunginya. Aku juga masih menyimpan impian pesta atapku. Di atap itu, bersama kalian semua. Sewaktu-waktu, sampai kapanpun, meski kita semua telah berada di jalan yang berlainan.


Kalibata, 26 Mei 2009 (first published on FB)