A WORD FROM OKKY

from a word to my personal reflection of many little things in life - about poverty, peace, nature, culture, and human being - and sometimes, also my personal moments.

My Photo
Name: Okky Puspa Madasari
Location: Jakarta, Indonesia

Seorang Jurnalis. Lahir dan besar di Magetan, Jawa Timur. Belajar ilmu politik di Jurusan Hubungan Internasional, UGM. Peminat fotografi, sastra dan karya seni. Suka melakukan perjalanan, pecandu berat suara ombak dan bau gunung. Baginya, hidup bukan sekedar untuk dijalani.

Sunday, February 25, 2007

Ini Halal Bukan?



NAMANYA Matsukawa Nozomi. Seorang Jepang totok yang fasih berbahasa Indonesia. Wajar saja, karena dia wartawan The Daily Jakarta Shimbun-koran Jepang yang terbit di Jakarta. Malam itu kami berjumpa saat menonton pementasan balet asli dari Rusia "Sleeping Beauty". Pertunjukan yang terbilang langka di Jakarta dan Indonesia pada umumnya.

Matsukawa pecinta balet sejati. Menurutnya, di Jepang menonton balet adalah hal yang menjadi bagian keseharianya. "Sayang sekali di Indonesia jarang ada," ujarnya.

Selama 2,5 jam pertunjukkan, Matsukawa memperhatikan dengan sangat antusias. Tampak sekali dia sangat mengerti setiap detail gerakan yang dilakukan para pemain. Tak jarang dia mendahuli bertepuk tangan di saat penonton yang lain merasa belum perlu bertepuk tangan. "Ups sorry, bagus sekali," bisiknya saat menyadari tepuk tanganya menyita perhatian.

"Kamu bisa mengerti?" tanyanya pada saya. Matsukawa tahu ini kali pertama saya menonton balet, apalagi balet asli dari Rusia. Saya menggeleng sambil tertawa. "Aku hanya tahu ini dongeng Putri Tidur. Selebihnya, aku lebih menikmati gerakan dan tarian mereka, sangat indah," jawabku jujur.

Pembicaraan kami pun berlanjut. "Kamu kan muslim, apa pendapatmu melihat pementasan yang menggunakan busana yang sangat minim dan gerakan yang tidak sopan seperti ini?" tanyanya.

"Tidak masalah, ini adalah seni," jawab saya penuh keyakinan.

Sekilas saya lihat, Matsukawa setengah tak percaya dengan jawaban tersebut. Dia lalu memaparkan persepsinya tentang RUU Pornografi dan Pornoaksi yang sempat menggegerkan itu. Menurutnya, pementasan balet jarang diadakan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim tak bisa menerimanya. Andai RUU APP jadi disahkan, pementasan balet akan dilarang di Indonesia. "Ini tidak halal kan?"

Hmm, saya agak terpukau mendengar paparannya. Mungkin apa yang ada di pikiran matsukawa juga ada di benak orang di berbagai negara di seluruh dunia. Saya pun mulai menyampaikan apa yang ada dalam pikiran saya. Secara pribadi, saya tidak setuju dengan RUU APP. Dalam pandangan saya, hal seperti itu tidak selayaknya diatur oleh negara. Meski demikian, saya mengoreksi pendapat Matsukawa. "Andai RUU APP disahkan, pertunjukkan seperti ini juga tidak mungkin dilarang," jelas saya.

Matsukawa tak percaya. Lalu saya menyampaikan bahwa RUU APP juga tidak semena-mena menentukan mana yang pornografi dan mana yang tidak. Sebuah tarian balet yang dimainkan dengan indah, pada sebuah panggung pertunjukkan dengan penonton yang jelas, tentu bukan pornografi. Berbeda halnya jika seseorang menari telanjang di tengah jalan. Pun walaupun pakaian yang dikenakan penari balet minim, itu juga tidak salah. Apa bedanya dengan kita yang mengenakan bikini saat berenang?

Tapi lagi-lagi saya bilang, saya tak sepakat RUU APP diserahkan. Batasan pornografi adalah ruang dan waktu. Jika tempatnya benar dan waktunya tepat, tentu tak ada masalah. Dan itu sudah terwakili dalam UU Penyiaran. Kalau misalnya, ada seorang menari telanjang di tengah jalan, tanpa UU anti pornografi, dia bisa dikenai pasal mengganggu ketertiban umum. Atau bisa jadi membawa orang tersebut ke rumah sakit jiwa menjadi pilihan tepat. Jangan-jangan dia memang wong edan.

*) Picture by Dedy Priambodo. Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Labels:

Saturday, February 17, 2007

February Rain


SEBENARNYA, saya menyukai hujan. Sebuah kalimat yang jarang saya ucapkan-di tengah beragam tuntutan aktivitas yang seringkali terganggu ketika guyuran air jatuh ke bumi. Hujan datang bersama kedamaian. Suaranya yang membasahi genting merupakan melodi alam yang indah. Suasana hari yang berubah menjadi kelabu-justru memberi kehangatan. Menikmati hujan dari balik jendela - bak membuka lembaran album foto yang kadang terlupa.

"Kita tak pernah tahu kita sedang membuat kenangan." Kalimat ini saya dapatkan dari buku Chicken Soup (saya lupa serinya karena buku pinjaman) yang saya baca sekitar enam tahun silam. Kalimat itu begitu menginspirasi saya. Hari-hari saya di SMU saya jalankan dengan satu prinsip : Semuanya akan menjadi kenangan, mari membuat kenangan yang layak dikenang!

Februari enam tahun lalu, saya masih menikmati hujan sepanjang perjalanan Magetan-Madiun. Membawa tumpukan berkas majalah sekolah yang harus dicetak tepat pada waktunya. Di bawah guyuran hujan sebuah semangat untuk menghasilkan karya terbaik lahir.

Tiga tahun itu, energi yang maha dahsyat hadir. Sebuah kreativitas yang tiada batas. Kelelahan dan keputusasaan tak pernah dikenal. Ada karya, ada persahabatan, beragam permasalahan, ketulusan dan juga keindahan. Kini semua terangkum menjadi sebuah kenangan.

Februari tahun lalu, saya melalui waktu dengan cepat - tak disangka itulah hari-hari terakhir saya tinggal di Jogja. Kadang saya berpikir, andai saya tahu dua bulan kemudian saya harus meninggalkan kota itu, apa yang akan saya lakukan? Mungkinkah saya akan mengundurkan diri sebagai reporter TVRI Jogja saat itu juga? Menikmati lebih banyak hujan. Hujan di Merbabu atau di Wedi Ombo.

Tiga tahun juga saya mengukir kenangan di Bulaksumur. Tentu dengan kisah yang berbeda dengan tiga tahun sebelumnya. Sebuah penjelajahan dimulai. Berbagai perjalanan yang tak pernah dilakukan sebelumnya.

Februari ini, saya memandang awan hitam dari jendela lantai empat. Mengimbangi dinginnya AC dengan segelas teh hangat. Merajut kata demi kata, kalimat demi kalimat. Sembari membayangkan : dimanakah saya Februari yang akan datang?

Akankah hujan menjadi berbeda jika jatuh di negara dengan empat musim? Tak akan terjawab sebelum merasakan. Bukankah hidup menjadi berarti ketika masih ada sesuatu yang diharapkan?

*) Picture by RA Vadin. Lokasi : Pemuda 34




Labels:

Friday, February 16, 2007

Perempuan, Pram, dan Poligami

NYAI Ontosoroh dan Gadis Pantai, malam ini menyita begitu banyak perhatian dan energi. Galeri 3, Taman Ismail Marzuki, menjadi saksi bagaimana tokoh ciptaan Pramudya ini tak sekedar dianggap rekaan – melainkan telah menjadi bagian dari sejarah.

Kedua perempuan ini memiliki 'kisahnya' masing-masing. Nyai Ontosoroh yang begitu sempurna, pintar, dan berpengaruh. Gadis Pantai yang lemah, lugu, meski belakangan memiliki kesadaran kemanusiaan. Ada satu garis merah yang menjadi pengikat tiga perempuan Pram ini : Perempuan yang menjadi korban sistem patriarki. Masing-masing dalam bentuk yang berbeda. Nyai Ontosoroh dalam konteks kolonialisme, sedangkan Gadis Pantai dalam belenggu feodalisme.

Sebuah karya sastra memang multitafsir. Apalagi ketika sang pengarang telah tiada. Masing-masing pihak seolah hanya mereka dan mencoba 'sok tahu' tentang jalan pikiran Pram. Seorang feminiskah Pram? Apa yang dia pikirkan saat memainkan peran perempuan-perempuan tersebut? Apakah Pram menjadikan seorang perempuan sebagai subyek atau hanya sekedar obyek?

Bagi saya pribadi, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidaklah terlalu penting. Saya lebih peduli pada klemahiran Pram menangkap sebuah realitas di sekitarnya. Sebuah kenyataan yang seringkali dilupakan banyak orang karena dianggap telah biasa. Meski, ditulis hampir tiga puluh tahun lalu dan mengambil setting kehidupan di awal abad 20, rekaman peristiwa yang diangkat Pram sejatinya masih kerap dijumpai dalam kehidupan saat ini.

Kisah pernikahan Gadis Pantai, misalnya, apa bedanya dengan 'cerita indah' poligami? Poligami merupakan sebuah dunia yang diciptakan dan dimainkan oleh laki-laki. Poligami mensyaratkan penerimaan perempuan dalam konteks keterpaksaan. Sampai kini, saya masih percaya, tak ada satupun perempuan yang dengan senang hati bisa menerima keputusan suaminya untuk berpoligami.

Dalam situasi yang berbeda, saya menjumpai seorang perempuan yang memilih untuk tidak dipoligami dan hidup mandiri lepas dari suaminya. Di usia yang tak lagi muda, dia memulai segalanya dari nol. Karier yang sempat ditinggalkan demi suami dan anak-anaknya kini mulai dirintis kembali. Kemewahan, kenyamanan, dan status sosial yang dirasakan saat menjadi istri seorang priyayi masa kini lenyap sudah. Di usia yang sebenanrnya sudah tidak layak lagi untuk mengalami itu semua.

Kini, posisinya digantikan dengan seseorang yang baru. Perempuan yang lebih muda. Tentu saja, penggantinya tak pernah merasakan berliku-likunya kehidupan yang pernah dirintisnya bersama sang mantan suami. Istri yang baru hanya tinggal menikmati.

Dan sang perempuan kini menikmati kesendirian. Anak-anaknya memilih untuk ikut suaminya. Pilihan yang cukup masuk akal, karena mereka masih membutuhkan banyak biaya. Sampai kini saya tak bisa membayangkan bagimana hari-hari perempuan tersebut. Beratnya kehidupannya di tengah masyarakat yang masih suka mencibir dan tak mau memahami.

Perempuan ini bukanlah tokoh ciptaan. Dia benar-benar ada dan menjadi bagian kehidupan kita. Di era yang semangat feminisme begitu menggelora, keberadaanya bagai sebuah pukulan yang tepat mengenai idealisme dan semangat saya. Ternyata ide dan pemikiran tak cukup untuk menolongnya.









Labels:

Monday, February 12, 2007

Karena Saya Perempuan...



PRAMUDYA Ananta Toer hanya menyebutnya Gadis Pantai. Tak ada nama lain. Entah apa tujuannya, mungkin agar setiap orang bisa mengembangkan imajinasinya masing-masing untuk menggambarkan sosok perempuan tersebut.

Umurnya baru 14 tahun ketika orang tuanya membawa Gadis Pantai pada seorang bendoro di kota. Dari sebuah desa nelayan miskin, Gadis Pantai kemudian tinggal dalam sebuah rumah gedung yang menyediakan segala bentuk kemewahan. Rumah itu pula yang kemudian memberinya sebuah nama : Mas Nganten. Gelar kehormatan untuk seseorang yang menjadi "istri" seorang bendoro.

Hari-hari Gadis Pantai selanjutnya berjalan sangat lambat. Dia mendapat emas permata dan pakaian yang indah. Tak ada lagi beban kerja berat yang mesti dilakukan. Untuk mengisi hari, beberapa kali dalam seminggu seorang guru datang untuk mengajarinya membatik, menjahit, merenda, dan membuat kue. Selebihnya, dia hanya akan berada di dalam kamar menanti sang bendoro datang - dan selanjutnya Gadis Pantai akan menjalankan tugasnya : melayani nafsu seks sang Bendoro.

Gadis Pantai hanya melayani. Dia tidak akan pernah berani bertanya ataupun meminta. Sekedar duduk bersama bendoro dan bercerita berbagai halpun tak bisa dilakukan. Karena dia bukanlah istri tapi seorang abdi yang dinikahi resmi dan bertugas memenuhi nafsu sang bendoro. Dia seorang abdi yang dipandang dengan hormat oleh masyarakat lainnya hanya karena dia punya banyak emas dan tinggal di istana megah.

*****
I'm Javanese. Bukan bermaksud memunculkan sentimen primordial-tapi hanya ingin menggambarkan persamaan situasi dengan setting cerita Gadis Pantai : Feodalisme Jawa.

Awalnya saya dua bersaudara-keduanya perempuan. Hingga kemudian adik saya yang paling kecil lahir-juga perempuan. Sejak kecil kami tumbuh dan dididik dalam lingkungan yang sama sekali tidak pernah mempermasalahkan keperempuan kami. Kami didorong untuk maju, untuk memiliki prestasi, kebanggaan, kesuksesan, dan tentu saja ketegaran.

Pun, ketika saya sekarang tinggal jauh dengan ortu di usia yang tidak lagi remaja, tak ada beban yang membatasi gerak langkah saya. Kalaupun sekarang pembicaraan mengenai pernikahan telah mulai disiratkan, semunya tak lebih dari sebuah diskusi tentang rencana hidup selanjutnya - bukan sebuah kewajiban yang tengah menanti.

Sejak kecil saya selalu tahu apa yang saya inginkan. Dan setiap hal dalam hidup saya adalah sebuah pilihan dan keputusan yang saya ambil. Nasib saya tidak pernah dipilihkan atau diputuskan oleh orang lain termasuk orang tua.

******
Kedua orang tua saya punya latar belakang berbeda. Papa lahir dalam sebuah keluarga priyayi Jawa. Kakek saya seorang yang mengenyam pendidikan tinggi pada masa pendudukan Belanda. Mereka selalu berpindah tempat tinggal karena penugasan. Pada masa hidupnya, dia aktif dalam berbagai kegiatan sosial kebudayaan. Jabatan terakhir yang didudukinya adalah Kepala Dinas P dan K Kabupaten Ngawi.

Nenek saya benar-benar mencerminkan figur istri priyayi kala itu. Mengabdi dan melayani. Pintar masak dan bisa membatik. Penurut, kalem, aktif di beberapa organisasi sosial bekas teman-teman mendiang suaminya-hingga akhirnya ajal menjemput.

Sementara Mama, lahir dan besar dalam keluarga tani. Tanpa pendidikan dan pengetahuan agama-hanya tahu kerja keras untuk mendapatkan uang. Di keluarga Mama, Eyang Putri saya sangat dominan. Dia bekerja keras membanting tulang, mengumpulkan sen demi sen, hingga akhirnya memiliki harta yang berkecukupan. Mungkin itu yang membuatnya cenderung keras dan kurang mau mendengarkan pendapat orang lain. Kedua anaknya yang perempuan sekolah hingga menjadi sarjana.

Lepas dari kultur kedua keluarga, keluarga kecil kami punya budaya dan role model sendiri. Mama tentu saja bukan seperti Nenek dari Papa, yang kalem dan hanya melayani. Sifat keras dan aktif dari ibunya masih tetap terbawa. Apalagi dalam bahasanya: sejak kecil biasa hidup tidak enak.

Begitupun Papa. Mungkin jauh di lubuk hatinya dia kerap membayangkan figur istri seperti ibunya. Namun, dia juga sadar : segalanya telah berubah dan berbeda. Istri bukan hanya bertugas melayani dan mengabdi. Tinggal di rumah menanti sang suami, hingga pelan-pelan daya pikirnya terkikis. Istri juga diperlukan untuk rekan diskusi. Penimbang berbagai keputusan, penguat di kala berbagai masalah menerjang. Lebih dari itu, seorang istri juga layak untuk mandiri secara finansial. Meski dalam kondisi tertentu perlu ditentukan sebuah prioritas.

Dan seperti itu pula yang entah sengaja atau tidak terpatrikan dalam jiwa kami. Anak-anaknya. Karena kami semua perempuan...

*) Picture by Yusuf Arifin. Pantai Kukup, Gunung Kidul
**) Picture by Budhi Baskoro. Baduy Dalam, Banten



Labels:

Wednesday, February 07, 2007

Relawan, Kontestan, dan Wisatawan




"Ada tiga kelompok orang yang datang di tempat bencana : relawan, kontestan, dan wisatawan" demikian sebuah satire yang berkembang di sebagaian masyarakat. Saya pun tercekat. Kegelisahan yang senantiasa hadir usai keluar dari lokasi bencana : Akankah saya masuk dalam kategori wisatawan?

Saya jelas bukan relawan. Bukan bagian tim search and rescue atau kelompok tim sukarelawan yang berusaha sekuat tenaga melakukan upaya penyelamatan pada korban. Ketika telah ditemukan seorang korban yang terluka parah, saya pun bukan seorang yang memiliki ketrampilan untuk melakukan tindakan perawatan dan pengobatan.

Kelompok kedua "peramai hajatan bencana" hampir bisa dipastikan para kontestan. Bisa kontestan Pemilu, Pilkada, maupun kontestan ajang popularitas lainnya. Partai politik senantiasa bertindak cepat ketika sebuah bencana datang. Mereka mendirikan posko dan memberikan bantuan pada masyarakat. Lengkap dengan berbagai umbul-umbul dan bendera partai.

Pada musibah banjir yang menimpa Jakarta, suasana juga dimeriahkan oleh kontestan Pilkada yang akan digelar tahun ini. Agum Gumelar, Fauzi Bowo, Sarwono Kusumaatmadja, Adang Dorodjatun, Faisal Basri, hingga Rano Karno, semuanya berlomba melakukan yang terbaik. Sementara untuk kontestan ajang popularitas diisi oleh para selebritis yang senantiasa diikuti puluhan kamera dalam setiap gerak langkahnya. Mereka melakukan bakti sosial, membagi nasi dan pakaian.

Sebuah fenomena yang sebenarnya sangat beralasan. Di saat segala sendi kehidupan bangsa ini masih didasarkan pada kemenangan popularitas. Setiap orang yang memiliki kepentingan dalam kehidupan politik hanya butuh untuk populer dan mendapat simpati dari rakyat.

Kelompok yang terakhir adalah wisatawan. Mereka adalah sebagaian besar masyarakat yang datang hanya untuk melihat, memotret, atau merekam. Memenuhi rasa penasaran. Keinginan untuk melihat dengan mata kepala sendiri sebuah kondisi yang jarang terjadi. Suasana yang setiap hari digambarkan sangat nyata oleh semua stasiun televisi.

Dan kadang sayapun merasa saya masuk dalam kelompok ini...

*) Picture by Okky P. Madasari. Kampung Melayu, Jakarta