About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Thursday, March 22, 2007

Candu yang Nikmat




Suatu malam di Plaza Senayan.

"Apa kenikmatan dalam hidupmu?"


Sesuatu yang adiktif, yang membuatmu ketagihan, membuatmu bahagia saat merasakannya, namun bak cacing meregang nyawa ketika terlambat mendapatkannya.

"Rokok, kopi, ganja, sabu-sabu, atau...bahkan seks,"

Hmm...pertanyaan yang cerdas. Saya tidak merokok tidak minum kopi dan bukan juga seorang pecandu. Seks? sebuah kenikmatan memang, tapi bagi seorang seperti saya yang belum jua bisa mendapatkannya secara rutin, tidak merasakannya pun tidak membuat saya terglepar-glepar.

Pertanyaan itu berhasil juga membuat saya berpikir. Seorang teman memiliki kecanduan yang sangat besar pada komik. Dia tidak akan pernah bisa makan tanpa memegang komik di tangan kirinya. Mungkin itulah kenikmatan baginya.

Ada juga seorang kawan yang begitu menggilai barang-barang bermerk. Belanja barang bermerk baginya bukanlah kebutuhan. Bukan pula demi menjaga prestise. Sesuatu yang dilakukan karena memang harus dilakukan. Jika tidak, kepalanya bisa pusing tujuh keliling.

Hendra He He, pencipta karakter Moboo dan mantan calon sarjana seni dari ISI, mengaku tak bisa hidup tanpa internet. Baginya internet tak ubahnya bagai agama. Google Tuhannya dan Yahoo yang menjadi nabinya. Yahoo Massenger tempat ibadahnya. Chatting dan Friendster sebagai ibadahnya.

Seorang wartawan yang meja kerjanya tepat di sebelah saya, berkata : aku suka menulis, kenikmatanku datang saat aku menulis. Saya diam tak membantah. Adakah kenikmatan itu hadir ketika segalanya telah menjadi tuntutan dan kewajiban?

Diskusi yang 'berat' menjelang long weekend. Saat-saat dimana saya paling enggan melihat layar komputer atau menyelesaikan membaca 'Posfeminisme' yang sudah dua minggu lalu saya beli namun tak jua beranjak dari halaman 20.

Yang terbayang hanyalah warna hijau, biru, dan kilatan blitz kamera.

Kenikmatan yang sudah dua bulan tidak saya dapatkan.

Oooops...!!!

Kenikmatan?

yaa... saya sudah seperti gelas penuh dengan air.

Jika isinya tak segera dikosongkan, akan terus membludak dan tak bisa menerima apa-apa lagi.

Alarm waktu saya telah berbunyi

Seakan berteriak : mana 'jatahnya' ?

Saya kecanduan.

Ternyata itulah kenikmatan bagi saya.



*) Picture by Yusuf Arifin. Pantai Kukup, Gunung Kidul. 18 Maret 2007















Wednesday, March 21, 2007

Berburu Warung Kopi


JAM 23.30. Hotel melati tempat saya menginap sudah senyap. Kamar sebelah yang sore tadi ramai dengan obrolan sudah gelap. Begitu juga dengan kamar lainnya. Padahal, hari ini seluruh kamar habis dipesan. Pihak hotel terpaksa menolak beberapa tamu yang hendak menginap. Maklum, long weekend. Jogja nampaknya masih menjadi pilihan banyak orang untuk berlibur. Sekedar melepaskan diri dari rutinitas dan tekanan hidup. Di parkiran hotel, nampak kendaraan dengan plat dari luar kota, seperti B, D, atau L.

Bukan tanpa alasan, jika kami bertiga malah keluar dari hotel menjelang tengah malam. Kami ingin menghirup udara malam Jogja. Lagipula ini malam minggu. Kemeriahan pasti akan dijumpai dimana-mana meski malam telah larut. Selain itu, kami punya tujuan jelas : coffee shop. Tempat tongkrongan favorit saya – selain angkringan.

Warung Kopi, Angkringan, Wedangan, hingga Coffee Shop dan Café. Semuanya punya fungsi sama. Randezvous. Refreshing. Kebutuhan untuk bersosialisasi dan melakukan pertemuan. Berbincang sembari menyeruput minuman dan menikmati kudapan. Sekedar melepaskan penat sembari menikmati alunan musik. Sederhana, tapi bukan di rumah, tidak di kampus, atau di kantor. Tempat yang berbeda.

Waktu yang sama, hari yang sama, udara yang sama, di kota yang juga sama. Namun ketika berada di sebuah café sembari menikmati slow music, untuk sejenak sebuah dunia baru tercipta. Maka, tak heran, jika sebelumnya ke café berarti bertemu dengan orang lain, kini bukan hal yang aneh jika seseorang duduk di sebuah café seorang diri. Tanpa merasa canggung atau malu. Bahkan, bisa jadi tak peduli pada orang-orang sekitarnya. Dia bisa sekedar membaca atau melamun. Tidak ada yang melarang. Dan kadang do it nothing seperti itu memang menyenangkan dan dibutuhkan.

Coffee shop
menjadi salah satu agenda wajib tiap ke Jogja. Kapan lagi bisa menikmati segelas coklat white cream, dengan harga Rp 8 ribu. Saya pilih coklat karena saya memang tidak suka minum kopi – meski mengaku sebagai pecinta coffee shop. Di Jakarta, paling tidak harus mengeluarkan Rp 35 ribu untuk menikmati minuman bersuasana café. Sebut saja sederet nama café di Jakarta mulai dari Sturbucks, Coffee Bean, Bakoel Cafe, atau café-café di mal-mal yang sebenarnya belumlah terkenal.

Atoz merah yang kami tumpangi langsung menuju ke Gejayan. Ada cafe di daerah tersebut yang menjadi favorit saya : Snap Café. Kelebihan café ini dibanding yang lainnya adalah balkonnya. Di situ pengunjung bisa menikmati minuman sambil merasakan semilirnya angin. Salad buah menjadi favorit saya kalau kesana. Harganya Rp 8.500. Cukup terjangkau juga.


Begitu sampai, kamipun langsung masuk ke ruangan utama. Sebuah sofa merah, alunan musik, dan beberapa waitress yang nampak menganggur. “Maaf mbak, sudah tutup,” ujarnya pelan. “Tutup?” saya tak percaya. Betapa tidak, dalam benak saya, coffee shop – sebagaimana angkringan dan warung kopi – merupakan bagian dari kehidupan malam. Baru buka sore hari hingga lewat tengah malam bahkan menjelang pagi.


Kami tak buang banyak waktu. Mungkin Snap Café memang punya kebiasaan sendiri. Segera kami bergerak mencari café lainnya. Melintasi Jalan Solo – yang kini telah banyak kehilangan wajah Jogja nya – hanya ada dua café yang masih buka. Itupun pengunjungnya sangat membludak tanpa menyisakan tempat lagi buat kami. Memang sih, ada beberapa café yang masih hangar bingar. Sepertti TJ’s atau Hugos. Tapi tentu saja bukan café seperti itu yang kami cari.


Menuju daerah Sagan, tepatnya ke Koa Café. Semuanya sudah gelap gulita. Bangunanya keliatan suram-sebagamana aslinya bangunan tua di daerah tersebut. Sungguh wajah yang sangat berbeda jika dibandingkan suasana empat jam sebelumnya. Gabah Resto yang berada tepat di sebelahnya juga sudah tutup.


Saya sudah hampir putus asa. Daftar ingatan nama-nama coffe shop di Jogja kembali dibuka. Djendela, Coffee break, Kedai Kopi, dan beberapa nama di daerah atas. Terlalu membuang waktu untuk ke daerah atas. Akhirnya kami menjadikan café di sekitar selokan Mataram sebagai alternatif terakhir. Jika tidak ada, lupakan coffee shop. "Mungkin memang hanya angkringan the truly coffee shop," kata teman saya pasrah.


Hanya ada satu café di selokan yang masih buka. Cheers café. Itupun dengan pengunjung yang sangat penuh. Baru beberapa langkah dari mobil, seorang waitress menghampiri dan mengatakan bahwa café hanya buka sampai pukul 00.30. Berarti tinggal 15 menit lagi.


Lagi-lagi gagal. Tinggal satu kemungkinan lagi, Lorkali Café. Salah satu tempat favorit sejak zaman kuliah, yang hanya beberapa meter jaraknya dari Cheers Café. Berkunjung ke Lorkali, tentu tak bisa dilepaskan dari dua nama : Dody dan Manahara. Di café ini, dulu kami rela mengeluarkan uang – yang saat itu terasa sangat mahal – hanya untuk mencari perhatian sang public relations. Bahkan, Dodi sengaja memesan satu meja di café ini khusus untuk menaklukan hati sang calon mertua sebagai kado pernikahan.


Dan malam ini, ternyata hanya Lorkali yang berjodoh dengan kami. Itupun dengan embel-embel : café hanya buka sampai jam 02.00. Tak masalah, mungkin hanya ini yang bertahan di Jogja. Meski banyak wajahnya yang telah terganti, akar budayanya masih tak tergantikan. Jam malam di Jogja tak perlu sama dengan Jakarta. Biarkan seperti adanya. Justru perbedaan itu lah yang selalu saya rindukan. Kalaupun kami nekat mencari warung kopi lewat tengah malam, itu tak lebih dari sebuah ekspresi kerinduan - bukan kekurangajaran dan ketidakpahaman pada budaya setempat.


Saya pun hanya terbahak ketika seorang kawan di Jogja mendengar cerita saya berburu café beberapa hari sesudahnya. “Busyed, Asuuu, disamain Jakarta aja,” tulisnya lewat Yahoo Massenger.

*) Picture by Okky P. Madasari. Lorkali Cafe, Jogjakarta, 17 Maret 2007

Sunday, March 11, 2007

REUNI


"Mbak, kayaknya saya sering lihat Mbak dech," ujar seorang laki-laki sambil menyodorkan tangan kanannya. Saya pun berusaha memutar ingatan. Pelan-pelan saya amati mukanya dan seluruh atribut yang dikenakannya. Kaos putihnya serupa dengan beberapa orang yang tadi berjejer di pintu masuk. Ada ID Card yang dikalunginya. Sudah pasti dia salah seorang dari panitia acara. Teman jurusan? Sudah pasti bukan. Fakultas? UKM? BEM? Mungkin saja. Tapi saya tak jua berhasil mengingatnya.

"Oh ya?" jawab saya singkat setengah bertanya. Saya pikir itu jawaban paling aman dan paling sopan saat itu.

"Iya, sering banget," jawabnya tegas. "Emang dulu Fakultas apa? Saya dari Ekonomi? Pernah ikut Balairung?," lanjutnya.

"Oh..mungkin emang kita pernah ketemu. Bisa di Balairung atau jangan-jangan di jalan," saya jawab dengan nada bercanda. Tanpa buang-buang waktu, saya sebutkan nama, jurusan, dan angkatan. Disertai dengan sedikit bertukar info tentang kegiatan kuliah. Tak penting lagi apakah saya pernah bertemu atau mengenalnya sebelumnya. Toh, bagi orang seperti saya - yang belum ada dua tahun menanggalkan status mahasiswa - Reuni bukanlah semata ajang klangenan, untuk bertemu dengan kawan lama yang puluhan tahun terpisahkan jarak dan kesibukan. Lebih dari itu, Reuni menyediakan sebuah pintu untuk berbagai kemungkinan yang belum diketahui.

******
DARI asal usul katanya, Reuni konon berasal dari kata Re dan Uni. Re merupakan koleksi kata Bahasa Inggris yang berarti kembali. Uni, juga vocabulary dari negeri tersebut. Artinya satu. Dua kata dalam bahasa Inggris disatukan sehingga menjadi sebuah kata dalam Bahasa Indonesia. Secara harfiah, artinya kembali menjadi satu. Epistemologi bahasa yang amburadul. Benar-benar bagian dari 'kekhasan' Indonesia.

Secara istilah, Reuni merujuk pada kegiatan berkumpul kembali 'komunitas' yang telah terpecah. Teman sekolah, teman kerja, dan berbagai persamaan identitas lainnya. Senafas dengan peribahasa "Mengumpulkan Tulang berserakan", Reuni merupakan wadah orang-orang yang dulu pernah menjadi satu bagian dalam kehidupan namun kemudian terpisahkan sesuai jalan hidup masing-masing dalam jangka waktu yang lama.

Bertemu di suatu tempat, bersalaman, berciuman, dan berpelukan. Berbagi cerita tentang hidup mereka masing-masing, tentang keluarga, anak, bahkan jumlah cucu yang telah dimiliki. Juga tentang rambut yang mulai memutih, gigi yang mulai ompong, badan yang jadi gembrot, juga keriput yang dulu tak pernah ada.

Diiringi lagu-lagu yang populer pada zamannya, pembicaraan pun berlanjut. Ingatan mereka berjalan. Semua yang selama ini terlupa kembali bisa diceritakan dengan runtut. Tentang kebodohan masa muda, manis dan pahit percintaan, tentang cita-cita yang gagal tercapai. Tawa berderai. Sesekali bahkan ada teriakan. Mungkin ada juga yang mengumpat dalam hati. Menyesalkan waktu yang tlah berlalu, tanpa sempat melakukan hal bodoh yang bisa dipamerkan hari ini. Sungguh, semua telah lupa dengan usia dan hidup yang sebenarnya. Untuk sesaat semua telah turut dalam kereta waktu yang membawa ke masa lalu.

Seolah Reuni telah membawa nafas baru bagi mereka semua. Meniupkan semangat kehidupan. Sebuah kebahagiaan, kesetiaan, dan kejujuran. Pemahamam akan kebutuhan seorang manusia : menjadi bagian dari yang lainnya. Bahkan, mereka telah lupa bahwa hidup tak selamanya. Tak ada kematian khusus hari ini.

******
REUNI juga bisa disejajarkan dengan beberapa kata lainnya, meski maknanya bisa berbeda : Gathering, Arisan, Pesta, atau Pertemuan saja. Semua orang datang untuk tertawa dan berbagi suka. Tak ada tempat untuk duka dan air mata.

Semua orang mengenakan pakaian terindah. Perhiasan terbaru. Tampilan fisik yang serba menawan. Film Arisan karya Nia Dinata, telah menggambarkan dengan cukup cerdas bagimana sahabat menjadi satu (Reuni) dan melakukan arisan. Semuanya menjadi orang lain. Menceritakan dirinya sebagaimana yang diharapkannya-bukan dirinya sebagaimana adanya. Semua masalah terlupakan - atau lebih tepatnya pura-pura dilupakan. Terkunci rapat dalam sebuah peti rahasia di sudut hati dan di bongkahan memori. Tetap ada dan kerap mengganggu. Namun tetap tak boleh terlihat.

Reuni - mau tidak mau - sering menjadi ajang mencari pengakuan atas pencapaian. Jabatan, karier, nama besar, kekayaan, atau bahkan istri yang rupawan. Semua orang saling bercerita, namun secara bersamaan, dalam hati mereka terus mencari tahu pencapaian lawan bicaranya. Diam-diam mengagumi atau bahkan iri, hingga akhirnya bermuara pada ketidakpuasan pada diri sendiri.

Lihat saja, bagaimana sesorang yang kebetulan merasa 'tidak sukses' akhirnya tidak berani datang dalam Reuni. Seolah dia ingin tenggelam dalam perut bumi. Jauh dari segala hiruk pikuk. "Biarlah semua kenangan kusimpan dalam ingatan indahku," mungkin itu katanya dalam hati.


*) foto mahasiswa Fakultas Jurnal Nasional, Universitas Gadjah Mada, usai menghadiri Reuni Kagama di Gedung Pewayangan, TMII, 11 Maret 2007. "Semangat sebuah kebersamaan." Picture by Januarti Sinarra Tjahjadi. Lokasi : atap gedung Jurnas, Pemuda 34








Friday, March 02, 2007

Gore dan Marco



KEMENANGAN AL GORE dan film dokumenternya An Incovenient Truth mengingatkan saya pada obrolan singkat dengan Pakar Tata Kota, Marco Kusumawijaya, hampir sebulan yang lalu- sebelum Oscar diumumkan. Mas Marco dengan sangat antusiasnya bercerita tentang fenomena global warming (pemanasan global) yang diungkap dengan sangat apik oleh Gore. "Dari film itu kita semua akan tahu global warming bukan mitos tapi sesuatu yang nyata," ujarnya.

Film garapan sutradara Davis Guggenheim ini menuturkan perjuangan mantan Wakil Presiden dan calon Presiden Amerika Al Gore dalam meyakinkan masyarakat dan pemimpin Amerika serta dunia tentang pemanasan global. "Kita harus memecahkan krisis iklim, ini bukan isu politik tapi isu moral," ujar Al Gore saat menerima Oscar di Kodak Theater.

Film ini dimulai dengan gambar alam yang masih murni, sungai jernih, dan pohon menghijau. Gore lalu memulai penjelasan tentang efek rumah kaca, yaitu pemantulan sinar infra merah dari sinar matahari yang tidak dapat menembus atap gelas rumah kaca sehingga suhu di dalam rumah kaca lebih hangat dari luar. Untuk Bumi, yang bertindak sebagai rumah kaca adalah emisi gas-gas polutan, terutama CO2.

Meski berbagai laporan ilmiah menegaskan bukti naiknya jumlah CO2 di atmosfer sejalan dengan naiknya suhu Bumi, Pemerintah Amerika tak mau mengakuinya. Padahal mereka adalah pembuang CO2 terbesar di dunia.

Gore lalu menghubungkan pemanasan Bumi dengan perubahan alam. Badai lebih kerap dan besar sebab memanasnya suhu laut memberi banyak uap air untuk disumbangkan pada hujan badai, seperti Katrina di New Oeleans. Bersamaan dengan itu, es meleleh di Kutub Utara, Eropa, Amerika Selatan, dan Himalaya. Hujan dan banjir terjadi di Asia diikuti dengan kekeringan.

Marco telah menggambarkan kepada saya dengan cukup detail gambaran film dokumenter tersebut, sebelum saya sendiri menontonnya. Sebagai seorang enviromentalis, dia berusaha memberikan pemahaman tentang lingkungan, kerusakan yang saat ini tengah terjadi, dan membangun kesadaran untuk bersama-sama melakukan perubahan.

Banjir yang saat itu baru saja surut dari Jakarta, diyakininya sebagai akibat dari kesalahan kita dalam memahami ekologi. "Banjir itu masalah ekologi, bukan konsep pemerintahan," ujarnya tegas. Marco menolak solusi seperti pemindahan ibukota ataupun konsep megapolitan yang tengah diributkan. "Tidak harus megapolitan, yang penting bagaimana mengatur daerah tangkapan air bersama-sama," tegasnya.

Marco tidak melihat Jakarta sebagai sebuah kota yang kelebihan beban. Pun dia tidak menolak konsep pembangunan. "Ibarat bumi terasa sesak, akankah kita membuat koloni di Planet Mars," kata-kata dia yang selalu saya ingat.

Konsep yang ditawarkan Marco adalah harmoni antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Setiap ada pembangunan, sekaligus juga harus dipikirkan agar lahan yang kini telah dibangun tak kehilangan daya dukung lingkungannya. Paling tidak, setiap bangunan harus mampu menahan bebannya sendiri. Air yang semula mampu diserap lahan kosong, harus tetap terserap dalam kapasitas yang sama besar, meski telah berdiri bangunan. Karena itu, pembuat bangunan harus berpikir untuk membuat serapan atau menyediakan sisa tanah. Bukan dengan mengalirkan air ke got atau ke lahan lain.

Marco tak sekedar berbual dengan pengetahuannya. Di rumahnya yang asri, Ketua Dewan Kesenian Jakarta ini juga telah memberi contoh bagaimana rumahnya mampu menahan bebannya sendiri. Penataan halamannya yang tak luas, namun penuh rumput bukan tanpa alasan. Tentu saja agar air terserap dengan baik. Jendela rumahnya lebar, tanpa kaca, tidak tanpa tujuan. Melainkan agar udara bebas keluar masuk ke dalam rumahnya. Dengan begitu, Marco bisa konsisten dengan ketidaksukaanya pada pendingin udara (AC). AC membuat udara dalam ruangan dingin, namun bersamaan dengan itu, udara di luar ruangan bertambah panas. "Memakai AC adalah dosa terbesar," ujar Marco tegas.


*) Picture by Okky P. Madasari. Tanah Abang, Jakarta Pusat
**)Picture by Budi Baskoro. Baduy Dalam, Banten