Besi panjang itu
tinggalkan Padang
tanpa penumpang.
Ia penuhi janjinya
untuk selalu pulang
tiap akhir pekan.
Duka mengemudikannya,
Sepi duduk di bangkunya,
Tangis berdiri di tiap deritnya.
Tiap bukit yang ia lalui
menyeka air matanya.
Tiap sungai yang ia jumpai
membasuh pedihnya.
Sawah-sawah hijau
mengairi kering hatinya.
Besi panjang itu
pulang ke Pariaman
yang telah hilang.
(Pariaman, Oktober 2009)
Showing posts with label gempa. Show all posts
Showing posts with label gempa. Show all posts
Thursday, January 12, 2012
Puing
masuk ke rongga puing
yang kemarin adalah rumah,
menyusul ayah ibu mereka
yang sedang terbaring.
Mereka susuri dinding,
mengikuti bau anyir
seperti suara ibu memanggil,
mengendus desah
untuk temukan ayah.
Berhari-hari mencari
sampai mereka dapati
ayah ibu menari-nari
di celah sempit
yang tak bisa dimasuki kaki.
(Padang, Oktober 2009)
yang kemarin adalah rumah,
menyusul ayah ibu mereka
yang sedang terbaring.
Mereka susuri dinding,
mengikuti bau anyir
seperti suara ibu memanggil,
mengendus desah
untuk temukan ayah.
Berhari-hari mencari
sampai mereka dapati
ayah ibu menari-nari
di celah sempit
yang tak bisa dimasuki kaki.
(Padang, Oktober 2009)
Subscribe to:
Posts (Atom)



