A WORD FROM OKKY

from a word to my personal reflection of many little things in life - about poverty, peace, nature, culture, and human being - and sometimes, also my personal moments.

My Photo
Name: Okky Puspa Madasari
Location: Jakarta, Indonesia

Seorang Jurnalis. Lahir dan besar di Magetan, Jawa Timur. Belajar ilmu politik di Jurusan Hubungan Internasional, UGM. Peminat fotografi, sastra dan karya seni. Suka melakukan perjalanan, pecandu berat suara ombak dan bau gunung. Baginya, hidup bukan sekedar untuk dijalani.

Monday, July 23, 2007

Lestari

MELIHAT Lestari mengingatkan pada almarhum nenek saya.

Ada beberapa kesamaan di antara keduanya. Cara berpakaian, uban di rambut, kerut di wajah, dan badan yang sudah tidak tegak lagi.

“Sekarang sudah 75 tahun,” Lestari menyebut usianya.

Pada usia yang sama nenek saya telah meninggal. Sementara Lestari masih lancar berdiskusi dan mengikuti konferensi bertaraf internasional.

Tema diskusi-nya pun tak tanggung-tanggung. Soal politik, ketimpangan sosial, hingga masalah hak asasi manusia.

Hari itu misalnya, kami berjumpa dalam sebuah konferensi tentang Internasional Criminal Court di Jakarta.

Konferensi internasional ini dihadiri aktivis NGO dari berbagai negara juga beberapa duta besar yang ditempatkan di Indonesia. Lestari hadir sebagai salah satu korban pelanggaran HAM tahun 1965.

Pada 1968, Lestari ditangkap aparat di Malang, Jawa Timur (Jatim) karena dituduh terkait dengan aktivitas Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), salah satu organisasi di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejak itu, Lestari menjadi tahanan politik bersama ratusan orang lainnya yang dianggap melakukan kesalahan serupa.

“Anggap Ibu mati, kapan pulang jangan dipikir,” Lestari menirukan apa yang diucapkan kepada lima anaknya saat ditangkap aparat.

Saat itu Lestari sudah bisa membayangkan beban yang harus ditanggung seorang anak yang memiliki ibu seorang tapol.

Masa orde baru yang represif menciptakan banyak ketidakadilan bagi anak-anak Lestari.

Mereka tidak bisa menjadi pegawai negeri karena saat pelaksanaan litsus diketahui bahwa ibunya mantan tapol.

“Sampai sekarang anak-anak juga masih disebut anak tapol,” ujar Lestari.

Tak ingin membebani lima anaknya nya dengan cap tapol PKI yang masih melekat, Lestari kini memilih untuk tidak tinggal bersama anaknya.

Sekarang, perempuan tersebut tinggal bersama rekan-rekannya berusia lanjut di sebuah rumah mungil di Jalan Kramat V Nomor 1 C Jakarta Pusat.

Di tempat yang bernama Panti Jompo Yayasan Waluya Sejati Abadi tersebut terdapat delapan wanita dan tiga pria lanjut usia (lansia). Mereka ini semuanya mantan tahanan politik (tapol) kasus G-30-S/PKI.

Selain Lestari, ada penghuni panti lainnya yang juga hadir dalam konferensi tersebut. Namanya Sri Sulistiyawati, 70. Berbeda dengan Lestari yang aktif di Gerwani, Sri dulunya seorang wartawan.

Begitu pula dengan Soedjinah, 78. Perempuan ini salah seorang pengurus Gerwani Pusat. Mantan wartawati Harian Rakjat dan Bintang Timoer itu, memilih hidup sendiri setelah suaminya meninggal dunia saat bergerilya melawan pendudukan Jepang.Lestari dan Soedjinah merupakan sahabat lama saat menghadiri kongres Gerwani di Surabaya, pada 1951.

Setiap hari, mulai matahari terbit para penghuni panti ini mulai beraktivitas layaknya ibu rumah tangga.

Urusan masak-memasak dikerjakan Lestari, sedangkan mencuci pakaian dilakukan mereka secara bergantian, begitu pula dengan membersihkan rumah dikerjakan secara gotong-royong.

Aktivitas lainnya, secara rutin mereka membaca koran pagi serta nongkrong di muka televisi menyaksikan sinetron, tidak lupa program berita sebagai acara favorit.

Selebihnya para mantan aktivis politik ini melakukan diskusi dengan beragam tema, mulai sosial, budaya sampai politik. “Kadang-kadang ya ikut seminar kayak gini, kadang ikut demo juga,” ujar Lestari.

Untuk melakukan semua kegiatan di rumah tersebut, Yayasan Waluya Sejati Abadi harus merogoh kocek Rp2 juta per bulan. Selain yayasan, tidak sedikit pula donatur yang menggelontorkan rupiah ke rumah itu. “Alhamdulilah, kita tidak pernah merasa kekurangan,” ujar Sri.

Sri menolak jika tempat dimana mereka tinggal saat ini semata-mata dilihat sebagai panti jompo. “Bagi kami ini pengabdian, membantu mereka yang keluarganya masih kena stigma PKI,” ujar Sri.


*) Foto : Agung Kuncahya Banua, Bidakara, Jakarta, 17 Juli 2007

Labels:

Monday, July 16, 2007

Sisa Senja


SENO Gumira Adjidarma telah memotong senja itu untuk pacarnya, Alina.

Membungkus angin, debur ombak, matahari terbenam, burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, perahu yang tampak dari kejauhan dan tentu saja cahaya keemasan.


Dikeratnya senja itu dalam sisi segi empat, lalu dimasukkan ke saku dan dibawa pulang. Meski dikejar polisi dan diburu banyak orang, potongan senja tak juga diserahkan. Dia terus berlari dengan potongan senja yang tersembunyi di saku. Untuk Alina seorang.

Tak ada lagi senja kemerahan. Hanya tinggal hitam dan pekat. Senja yang indah telah hilang untuk Alina seorang.

Hari itu aku mencari sisanya. Siapa tahu Alina belum mendapatkan semuanya. Bisa jadi Seno belum mengambil senja seutuhnya.

Kusib
ak satu demi satu bias ungu. Menyelami pantulan emas yang bergerak terbawa arus. Mencari batu-batu kemilau diantara pasir yang basah.

Aku menyukai senja sebagaimana aku kecanduan suara ombak dan bau gunung. Awalnya aku sempat tak percaya ketika semua
buku motivasi dan inspirasi memasukkan senja sebagai salah satu cara untuk lebih bahagia dalam hidup.

"Meluangkan waktu beberapa menit setiap hari melihat matahari terbenam," begitu bunyi kalimat dalam buku-buku itu.

Tapi aku tak juga mengikuti cara sederhana itu. Selalu jauh kucari senja ke batas cakrawala. Mengabaikan senja dari celah jendela kamar.

Tak ku artikan juga pantulan senja pada kaca spion saat aku pulang dari pusat kota setiap harinya.

Hari itu aku sengaja mencari senja.
Mencari sisa dari potongan yang telah diambil Seno untuk pacarnya, Alina.

Kubuat siluet dari tubuhku sendiri tuk menggantikan siluet karang yang telah hilang. Mencoba meniru senja yang sempurna dalam potongan empat sisi yang sempat kulihat sebelumhya.

Namun tetap tak bisa kuciptakan burung dan cahaya keemasan. Angin dan debur ombak nya pun telah berbeda. Matahari terbenam dan terbit lagi esok paginya dengan cara yang sama, tapi kenapa juga keindahannya tak bisa sama?

Masihkah ada senja dengan keindahan yang sama setelah dipotong bagian paling indahnya?

Pantas saja polisi dan orang-orang mengejar Seno dan ingin merebut potongan senja itu. Haruskah aku be
rgabung dengan mereka untuk mengambil kembali potongan senja?

Alina, aku tak yakin kamu menginginkan potongan senja itu.



*) foto : Nurdhian Santoso. Le Bridge, 15 Juli 2007

Labels:

Tuesday, July 10, 2007

Kampung Jawara

Dua wartawan senior berdebat seru di depan saya.

Masing-masing mempertahankan pendapatnya tentang ritual ziarah dan berdoa di sebuah makam. Tema yang kurang menarik dibicarakan saat menikmati makan malam di sebuah hotel bintang empat di Serang, Banten.

Semuanya berawal dari cerita 'petualangan' saya saat meninggalkan kegiatan di hotel untuk menuju Banten Lama, wilayah yang disebut sebagai pusat kebudayaan Banten.

Di situlah terdapat sisa-sisa Istana Surosowan, yang dibangun Maulana Hasanudin dan Fatahilah. Sebuah benteng- berupa tembok tinggi- yang mengelilingi reruntuhan istana, museum, Masjid Agung Banten Lama, dan komplek makam keluarga kerajaan termasuk makam Maulana Hasanudin.

Sebagaimana makam-makam keluarga kerajaan dan pemuka agama, kompleks makam di Banten Lama selalu dipadati pengunjung. Banyak yang percaya ziarah dan berdoa di makam ini akan memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.

Permohonan yang diucapakan di makam, diyakini akan lebih mudah terkabul dibandingkan jika hanya memohon di rumah.

Tak berbeda dengan kepercayaan terhadap makam raja-raja Mataram di Imogiri, Jogja, makam-makam Walisongo, bahkan makam Nabi di Mekah.

Orang-orang pun mulai memetik rezeki dari kepercayaan ini. Pengemis-pengemis, penjual bunga, dan yang paling parah di Banten Lama, orang mengaku sebagai ahli waris orang dalam makam dan memaksa pengunjung memasukkan uang di atas nisan. Tak hanya satu, namun setiap makam.

"Itu namanya tidak menghargai. Kalau minta uang langsung saja bilang minta. Jangan seperti itu. Dosa," kalimat pertama yang memancing perdebatan.

"Kamu pikir, berdoa di sana tidak dosa? Itu sama dosanya dengan mereka," perdebatan dimulai.

Lalu mereka semakin asyik berdebat. Berbagai ayat dan mahzab dikeluarkan. Beberapa saat saya diam, tak berusaha mengehentikan dan tak ikut memberikan pendapat.

Saya rasa percuma, karena saya tahu maksud keduanya dan saya yakin keduanya benar. Hingga akhirnya mereka berhenti berdebat dan malah tertawa.

"Sudahlah, ini soal keyakinan," celetuk salah satu.

Tampaknya keduanya paham benar tentang arti diskusi dan perbedaan pendapat. Bertukar pikiran bukan berarti menyamakan pikiran.

"Kalau menurut kamu sendiri gimana, Ky?" pertanyaan diarahkan pada saya.

Saya pun langsung menyambar umpan yang diberikan. Saya kemukakan pendapat saya. Bukan dari kacamata keduanya, melainkan dari kacamata traveller.

Sebagai wisatawan yang kesana bukan untuk ziarah atau berdoa tapi untuk menyaksikan sisa peradaban lampau, saya merasa terganggu dengan pemaksaan menaruh uang dalam nisan tersebut. Hal seperti ini jelas tidak boleh dibiarkan.

Banten, sebagai wilayah yang diidentikkan dengan para 'Jawara', harusnya memiliki masyarakat yang bermental dan bersikap sebagai 'Jawara' yang sesungguhnya. Bukan orang sok jagoan yang hanya mengandalkan kemampuan fisik dalam bentuk perkelahian untuk menyelesaikan beragam permasalahan. Mencari penghasilan dengan keahlian, pikiran, dan tenaga, bukan dengan menengadah.

Sayang jika sampai eksotisme Banten - pusat peradaban lama, 'habitat' suku Baduy, Anyer hingga Tanjung Lesung - pudar oleh tangan-tangan "jawara gadungan".

Mungkin perlu ditiru langkah Jawara Banten sesungguhnya - Gola Gong - yang telah berbuat banyak untuk masyarakat hanya dari halaman rumahnya saja. Membangun sebuah 'Rumah Dunia' dengan niat dan ketulusan.



*) foto by Okky P. Madasari. Banten, 7 Juli 2007
**) foto bawah diambil tukang ojek yang disewa satu hari. Sayang, nggak sempat nanya nama:)







Labels:

Wednesday, July 04, 2007

Tentang Perjalanan


Seribu delapan ratus hari sejak kita langkahkan kaki memulai perjalanan ini.

Masih tergambar jelas saat kita menulis tempat tujuan, menggambar peta sederhana, memperkirakan bahaya di sepanjang jalan yang kita lewati, sekaligus membayangkan betapa indahnya tempat-tempat yang kan kita singgahi.

Kau persiapkan berbagai hal yang sama sekali tak kupikirkan. Mengapa kau pikirkan badai saat cuaca masih sangat cerah? Mengapa juga kau sarankan aku berpikir ulang tentang perjalanan ini?

"Santai lah, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa di perjalanan," kataku.

Yah, aku percaya tak akan terjadi apa-apa sepanjang perjalanan. Semua akan aman-aman saja. Yah, aku merasa aman. Entah karena benar-benar aman atau karena aku m
erasa ada orang bisa diandalkan?

"Banyak hal yang akan terjadi. Kita harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling buruk," ujarmu.

Aku diam, tak kutanggapi. Aku sibuk dengan kamera ku. Dengan angan-angan indah tentang perjalanan hebat dan tempat tujuan yang sempurna. Perjalanan antara aku dan kamu.

Kita lewati kota-kota yang belum pernah kita datangi. Membicarakan segala hal yang kita lihat. Ada keriangan bocah yang membuat kita tertawa, pengemis tua yang mengajari kita empati dan rasa syukur, sepasang kekasih yang mengajari kita cara memahami. Segalanya indah, segalanya sempurna, tanpa keraguan dan ketakutan.

Kita juga melewati musim gugur yang dingin. Saat daun-daun meranggas dan segalanya senyap. Tak ada orang-orang yang kita jumpai di sepanjang jalan. Tak ada bunga warna-warni yang bermekaran.

Badan kita terasa lelah. Semua membosankan. Kita terdiam sepanjang jalan, namun tetap bergandengan tangan. Saat kaki ku berdarah tertusuk duri, dengan sigap kau keluarkan obat dari dalam tas mu. Perkakas yang tak kutahu sebelumnya. Saat kau mulai menunjukkan kemanjaan, aku pun membuka tangan dengan lebar. Kita bersama melawan kehampaan.

Hingga musim semi datang kembali. Saat bunga-bunga bermekaran dan orang-orang meramaikan jalan, mencipta keriangan. Dan kita percaya keindahan akan abadi hingga nanti.

Di hari ke seribu delapan ratus ini, kita memandang gurun gersang tanpa kata. Tak ada penunjuk arah, tak ada keramaian orang. Keadaan yang tak ku bayangkan sebelum nya. Inikah kemungkinan terburuk yang dulu pernah kau katakan?

Kita yakin, kota tujuan itu masih tetap ada. Tapi kaki kita tak jua beranjak. Tidak melanjutkan perjalanan, tapi juga enggan kembali ke titik keberangkatan.

Mungkin kita memang perlu diam sejenak.
Menanti burung-burung memberikan kabar.
Menunggu sinar matahari memberikan tanda.

Akankah semua menjadi seuntai kenangan?


Labels:

Monday, July 02, 2007

Keindahan Lain

INSYINYUR lulusan ITB sekaligus teman SMU saya, Trian Hendro, berkata, bagi orang Jakarta, ke Bandung saat weekend bukan sekedar liburan melainkan lifestyle alias bagian dari gaya hidup. Trian sengaja berkata demikian melihat keengganan saya untuk memasukkan Bandung dalam daftar rencana liburan saat akhir pekan, apalagi saat liburan panjang.

Tentu saja saya lebih memilih ke Kepulauan Seribu untuk snorkling dan menghirup udara laut atau ke belantara pedalaman Baduy meski harus mengalami bengkak kaki akibat berjalan terlalu jauh. Dua tempat itu cukup dekat letaknya dari Jakarta, sehingga bisa dinikmati walau hanya punya kesempatan libur dua hari.

Kalau waktu libur lebih panjang lagi - atau sengaja mengambil cuti - tentu saja Bukit Tinggi, Karimun Jawa, dan Ujung Kulon masih menempati tiga peringkat teratas. Kalaupun anggaran sedang mepet, home sweet home di Magetan dan Jogja terasa lebih nyaman.

Entah mengapa Bandung terasa kurang memiliki daya tarik. Pemberitaan di media massa pertengahan tahun 2006 tentang Bandung Lautan Sampah, berhasil membentuk image baru tentang Bandung. Bandung yang dulu terkenal sebagai kota yang dingin dengan banyak makanan enak, diidentikkan dengan sampah, panas, dan macet. Media telah menciptakan faktanya sendiri. Kata-kata terkenal si guru linguistik dari Amerika, Noam Chomsky.

Jenis liburan yang ditawarkan di kota itu juga terasa kurang pas dengan selera saya. Belanja di factory outlet, makan-makan, diakhiri dengan beli pisang m
olen khas Kartika Sari sebagai oleh-oleh. Asal tahu saja, saya jarang mendapatkan barang sesuai selera di FO. Meski harganya terbilang miring, menunggu discount di Sogo, Centro, atau Matahari, terasa lebih menyenangkan.

Bukan bagian dari gaya hidup jika akhirnya saya habiskan akhir pekan di Bandung. Tawaran seorang teman untuk menjadi fotografer "dadakan" dari survey yang dilakukanya, terasa sayang dilewatkan. Apalagi rute kali ini bukan lewat tol Cipularang, tapi lewat Puncak, Bogor.

Saya pun mencoba mengakrabi Bandung. Menantang diri sendiri untuk tidak menikmati kota ini hanya dari FO, Dago, atau Kartika Sari.

Saya teringat seorang wartawan senior yang satu kantor dengan saya, Agus Sopian. Kang Agus, yang seorang pegiat jurnalisme sastrawi sering membuat karya jurnalisme yang mengangkat dinamika Bandung dari sudut yang berbeda.

Pernah dia tuliskan tentang anak muda Punk yang berkembang di kota kembang. Tentu saja bukan dengan analisa tapi dengan berinteraksi dalam malam-malam panjang mereka. Karya terbarunya tentang Bandung adalah cerita tentang Saritem, sebuah lokalisasi yang cukup fenomenal di Bandung. Saya yakin, untuk mendapatkan informasi Kang Agus tidak hanya mereka-reka tapi juga menginap di Saritem.

Di satu simpang jalan di Bandung - yang bahkan tak sempat saya ketahui namanya - saya terdiam. Saya dekapkan kedua tangan tuk mengimbangi hawa dingin yang mulai terasa sambil mencari sudut-sudut baru yang luput dari perhatian.

Tak seperti Kang Agus - saya hanya tahu Bandung ternyata masih cukup nyaman untuk dinikmati. Hawa kota ini tak pernah berubah, hanya asap kendaraan yang meningkat tiap akhir pekan sehingga terasa penas. Begitu juga sampah. Mungkin wisatawan lokal dari Jakarta pula yang membuangnya.

Bukan salah Bandung juga jika promosi wisata belanja nya dilakukan dengan gencar. Meniru konsep Singapore
Great Sale, Bandung menawarkan discount 50% untuk hotel dan belanja jika menggunakan kartu kredit BNI. Pantas saja, di setiap papan penunjuk jalan ada petunjuk dimana ATM BNI berada.

Lalu saya coba berhitung. Harga tiket pesawat ke Jogja tentu tak berbeda jauh dengan ongkos perjalanan ke Bandung, menginap semalam di Novotel dengan discount 50% dari kartu kredit, dan belanja.

Masih sedangkal itu pikiran dan penglihatan saya. Melihat sesuatu dari yang kasat mata dan apa yang bisa disentuh.
Benarkah kata-kata Helen Kissinger, bahwa hal-hal terindah dalam hidup justru tak dapat dilihat dan disentuh, tapi hanya dapat dirasakan dengan hati?

Lalu bagaimana kita bisa menikmati keindahan setangkai anggrek tanpa melihatnya?

Bisakah hati merasakan kelembutan sutera tanpa harus menyentuhkan jari pada lembarannya?

Bisakah sebuah hubungan memberi keindahan hanya dengan dibiarkan?

Bisakah saya menikmati keindahan Bandung hanya dengan mendengar alunan musik satu group idola yang kebetulan asli dari Bandung, Kahitna:

...biar aku yang pergi
bila tak juga pasti...

...biar aku menepi
bukan lelah menanti...




*) foto-foto oleh Okky P. Madasari. Bogor -Bandung, 30 Juni 2007



Labels: ,