A WORD FROM OKKY

from a word to my personal reflection of many little things in life - about poverty, peace, nature, culture, and human being - and sometimes, also my personal moments.

My Photo
Name: Okky Puspa Madasari
Location: Jakarta, Indonesia

Seorang Jurnalis. Lahir dan besar di Magetan, Jawa Timur. Belajar ilmu politik di Jurusan Hubungan Internasional, UGM. Peminat fotografi, sastra dan karya seni. Suka melakukan perjalanan, pecandu berat suara ombak dan bau gunung. Baginya, hidup bukan sekedar untuk dijalani.

Monday, April 30, 2007

Bukan Kamera, tapi Manusia di Balik Kamera

DAISAKU IKEDA bukan seorang fotografer profesional. Presiden Sokka Gakai Internasional - organisasi nirlaba pemeluk agama Budha - ini berkenalan dengan kamera secara tak sengaja. Seorang sahabat memberinya hadiah kamera Nikon di saat usianya sudah mencapai 43 tahun. Tanpa tahu teknik fotografi, Daisaku membawa kamera tersebut dalam setiap perjalanan.

Ketika tengah menyetir mobil di malam hari dan didapatinya sinar rembulan memancar dengan indah, dia turun dari mobil dan memotretnya. Sekuntum bunga yang mekar, dibidiknya juga. Jepretannya bertambah lengkap dalam perjalananannya ke berbagai negara. Tempat-tempat indah di dunia diabadikannya. Tanpa tahu apa itu filter, kecepatan (speed), flash, atau tone dan komposisi.

Bahkan, dalam sebuah biografinya ditulis bahwa Daisaku menjepret gambar tanpa melihatnya. Dia tak menempelkan kamera di kedua matanya, tapi justru merapatkan ke dadanya. Begitulah caranya setiap kali memotret.

Tanpa melihat, Daisaku tak kehilangan fokus obyek yang dibidiknya. Ketika melihat koleksi karyanya yang dipamerkan di beberapa kota di Indonesia sepanjang tahun 2006 dengan tajuk “Dialogue with Nature”, tak akan ada yang menyangka Daisaku bukan fotografer profesional.

Foto-foto milik Daisaku sangat ‘halus’. Obyek-obyek yang sebenarnya telah sering dibidik orang lain, tampil dengan gaya yang berbeda. Dan sesuai dengan sosok Daisaku yang tenang dan bijaksana dengan misinya untuk menciptakan perdamaian di dunia, semua fotonya membawa satu pesan : kedamaian.

Seni Fotografi

Perdebatan apakah fotografi merupakan bagian dari seni atau bukan telah berlangsung sejak lama. Bagi sebagian besar pelukis atau seniman karya seni rupa pada umumnya, fotografi bukanlah bagian seni. Mereka menganggap, fotografi merupakan karya yang dihasilkan oleh sebuah alat – kamera – yang teknik penggunaannya bisa dipelajari oleh setiap orang.

Dalam fotografi, peranan alat jauh lebih dominan dibandingkan manusia dengan segala rasa dan ide kreasinya. Tinggal jepret sebuah obyek, maka jadilah. Berbeda dengan proses pembuatan sebuah lukisan, dimana imajinasi dan peranan manusia pembuatnya menjadi penentu. Lamanya waktu pembuatan sebuah karya lukis dengan karya fotografi juga sering dijadikan aspek pertimbangan untuk tidak memasukkan fotografi sebagai bagian karya seni. Untuk menghasilkan sebuah lukisan, bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Sementara sebuah foto bisa dihasilkan dalam hitungan menit saja. Kalaupun butuh waktu lama, itu karena proses pencarian obyek foto (hunting).

Sebuah pertanyaan besar kemudian timbul : Kenapa foto yang dengan obyek yang sama, menggunakan kamera dan teknik fotografi yang serupa, bisa sangat berbeda ketika dihasilkan oleh dua orang yang berbeda? Mengapa juga, ada kalanya sebuah kamera pocket yang memiliki teknologi sederhana ketika digunakan seseorang bisa menghasilkan foto yang lebih indah dibandingkan kamera Lyca seri terbaru yang digunakan orang lain?

Jawabannya adalah karena di balik kamera ada orang yang berbeda. Ada insting, rasa, dan selera akan keindahan yang berbeda. Mengambil gambar manusia hanya dengan teknik yang sempurna, tentu sangat berbeda jika sang fotografer memiliki insting manusiawi. Mengambil foto landscape dengan menggunakan filter, tentu tak sekedar memencet tombol di kamera, namun juga disertai rasa dan selera keindahan dalam menenentukan komposisi warna.

Sosok manusia di belakang kamera menjadi lebih dominant dibandingkan kamera itu sendiri. Seorang Daisaku Ikeda dengan insting, rasa, dan seleranya akan keindahan, mampu menghasilkan foto yang (nyaris) sempurna tanpa ambil pusing dengan teknik dan jenis kamera.

Daisaku percaya kemampuan inderanya untuk melihat obyek dan merasakan cahaya. Karena pada dasarnya fotografi adalah melukis dengan cahaya.

Jakarta, 24 April 2007

*) Photograph by Yudhi Sukma, Elnusa Building, Jakarta

Labels: ,

Tuesday, April 17, 2007

Senyum Sang Perempuan


Ada kalanya, satu lembar potret bisa bercerita lebih banyak dibanding ribuan kata-kata. Karena itu, kali ini saya mencoba bercerita tentang kehidupan perempuan bukan dengan kata. Kecuali potret pertama ini, seluruh potret adalah hasil jepretan saya. Diambil dengan kamera Casio Z-60, secara teknik hasilnya sudah pasti sangat biasa. Tapi sesuai keyakinan saya, fotografi adalah bagian dari seni. Rasa lebih penting dari alat dan teknik. Dengan rasa seorang perempuan, saya abadikan "Senyum Sang Perempuan". Selamat Hari Kartini.

picture by Yudhi Sukma, Tangkuban Perahu, Jawa Barat



"Senyum Sang Perempuan"
Pictures and text by Okky P. Madasari


"Bukan Penari Jalanan"
Pelawak terkenal, Yati Pesek, menari di jalanan kota Yogyakarta untuk menggalang dana bantuan bagi korban gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei 2006.


"Metik Teh"
Kerja mulai pagi hingga sore, memetik pucuk teh di perkebunan teh kaki Tangkuban Perahu. Tak apa tangan kasar dan muka gosong. Yang penting tetap tersenyum dan masih bisa makan hari ini.



"Aisyah"
Aisyah, seorang petani penggarap di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Saat padi mulai menguning dan panen hendak tiba, Ia harus menunggui padinya sepanjang hari. Jangan sampai rombongan burung mendahului memanen padi.



"Kemana Mbah?"
Usia boleh tua, kulit boleh keriput, tapi semangat dan kekuatan tak akan ada habisnya. Perempuan suku Baduy Luar tengah melakukan perjalanan.



"Boneka"
Dengan malu-malu, dia mengintip dari balik jendela rumah kayunya. Melihat matanya, senyumnya, dan seluruh penampilannya, mengingatkan saya padasebuah boneka plastik. Harta berharga bagi satu keluarga miskin.




"Belajar Dandan"
Di tengah ribuan hektar perkebunan kelapa sawit, Kabupaten Siak, Riau, satu keluarga miskin tinggal. Kontras dengan segala kekayaan alam yang ada di sekitar mereka. Tapi, tak beda dengan perempuan yang tinggal di rumah gedongan, perempuan di keluarga ini tetap menggunakan gincu dan bedak. Tak apa meski belepotan, maklum baru belajar.



"Cantik ala Kami"
Beberapa gadis suku Baduy Dalam memiliki dandanan dan pakaian yang khas. Mereka gemar mengenakan perhiasan manik-manik yang bisa dibeli ketika hari pasaran tiba di sebuah pasar tiban dengan berjalan kaki sekitar 30 kilometer. Suku Baduy Dalam melarang pengunjung memotret ketika berada di kampung mereka. Hari pasaran menjadi kesempatan untuk mendapatkan potret Suku Baduy - termasuk gadis-gadis Baduy Dalam. Mereka tetap terlihat cantik dengan caranya sendiri.



Labels:

Monday, April 09, 2007

Anggrek tuk Cliff Muntu

Hari Jumat sepanjang tahun 1996, hati saya gelisah. Sekuat tenaga saya ingin hentikan gerakan matahari agar tidak segera terbenam dan terbit lagi esok pagi. Saya ingin hari ini lebih panjang. Dan kalau bisa, biarkan matahari melakukan dua putaran sekaligus sehingga saat mata terbuka esok pagi, bukan Sabtu yang saya songsong, tapi Minggu.

Sabtu sepanjang tahun itu saya merasakan bagaimana menjadi orang yang takut dan tak berdaya. Sejak kelas dimulai jam setengah tujuh pagi, klebatan baju coklat muda dan coklat tua dengan segitiga merah tertempel di lengan berlewatan di kepala. Saya melirik ke teman sebangku : sama. Ke bangku belakang dan samping : tiada beda.

Tahukah rasanya bagaimana seseorang yang phobia ketinggian tengah mengantri untuk ikut naik jet coster? Ingin melarikan diri tapi kaki tak mau diajak kompromi, berdoa tanpa tahu apa yang diminta, membayangkan tiba-tiba tubuh pingsan sehingga dapat meninggalkan gelanggang tanpa harus melakukan apa-apa. Kira-kira seperti itulah rasanya hari Sabtu saat itu. Saya yang phobia kekerasan dan senioritas menunggu bel berdering jam 3 sore, tanda dimulainya aktivitas yang wajib diikuti : Pramuka.

Terasa berlebihan memang. Apalagi jika menyimak lagi bagaimana tunas kelapa diperkenalakan pertama kali saat masih mengenakan seragam merah putih. Keceriaan, kerja sama, kegiatan luar ruangan, kemah, kekompakan regu, penjelajahan, dan menyanyi bersama. Tanpa dimintapun saya mengacungkan diri untuk ikut serta.

Semua jadi berbeda di tahun itu. Tahun pertama saya mengenakan seragam biru putih. Pramuka tak lagi bersahabat. Pramuka berarti bentakan, teriakan, push up, squat jump, amarah, dan tangisan. Semuanya berbingkai pelatihan mental. Senior yang berarti anak-anak yang duduk di kelas 2 dan 3 akan melatih mental yuniornya. Mereka memberi perintah yang kadang tak masuk akal, hanya untuk sekedar memberi hukuman. Membentak tanpa alasan hanya tuk menyiutkan nyali. Hanya karena ada senior dan yunior.

Setahun saya lewati tanpa bisa mengerti apa sebenarnya yang dicari. Ketika banyak teman yang bersorak menyambut hadirnya masa dimana mereka bisa disebut senior balas melakukan hal yang sama pada yunior, saya malah berkata tak akan ikut Pramuka lagi seumur hidup.

*****
Kemarin, kami membuat janji wawancara sambil makan siang di sebuah resto. Seorang alumni STPDN yang sekarang menjadi PNS di Pemerintah Kota Bekasi. Saya menarik nafas lega ketika dia muncul juga di depan resto, mengingat cukup alotnya proses janjian ini. “Saya orang yang cinta almamater,” ucapnya tegas di telpon.

Satu setengah jam kami berbincang. Ditemani sepiring nasi ayam goreng mentega dan segelas jus. Setiap pertanyaan diucapkannya kembali, dipikirkan beberapa menit, baru kemudian dijawab.

Kerangka tulisan yang sudah mengendap di pikiran saya luruh seketika. Seluruh kata-katanya membalikkan semuanya. Sebuah omongan yang berbeda dengan setiap hal yang saya dengar saat ini.

“Yang digambarkan media itu berlebihan, STPDN tidak seperti itu,” ujarnya.

Ia menguraikan bagaimana kekerasan dan hukuman fisik hanyalah sebuah cara untuk menegakkan disiplin. “Kalau tidak melakukan kesalahan ya tidak mungkin dihukum.”

Pun jika kekerasan terpaksa dilakukan, masing-masing senior pasti punya batasan. Mereka tidak akan memukul di bagian leher keatas yang bisa menyebabkan kematian. Jika pada akhirnya seorang Cliff Muntu atau Wahyu Hidayat meninggal, kemungkinan memang ada penyakit tertentu yang diidap tanpa diketahui.

Ia pun memaparkan bagaimana pola pendidikan di STPDN berhasil membentuk kedisiplinan, sopan santun, dan ikatan yang sangat kuat antar alumni. Saling berkunjung, datang jika ada yang menikah, dan membantu di kala ada yang tertimpa musibah.

******

Saya hapus kalimat “Bubarkan IPDN”. Bagaimanapun saya telah mendapatkan keterangan yang berbeda dengan opini saya. Saya tuliskan apa adanya, tanpa harus menindas keyakinan bahwa kekerasan, plonco, senioritas, hukuman fisik, amarah tak akan menghasilkan apa-apa.

Seekor anjing pun akan paham maksud tuan nya dengan dibelai di tengkuknya. Tak perlu dipukul dan dihajar. Bukankah manusia akan lebih bisa mengerti karena punya akal budi?

Orang tua yang bertindak bijak, penuh kasih, mengingatkan ketika ada kesalahan tanpa harus melakukan kekerasan, tentu lebih akan dihormati dan diperlakukan secara santun oleh yang lebih muda. Bukankah pada dasarnya manusia punya nurani?

Praja IPDN mungkin belum pernah merasakan harmoni yang tercipta ketika dua angkatan yang berbeda berkumpul di sebuah rumah peristirahatan, menyanyi bersama, merenung dan berbagi cerita, ditemani segelas kopi dan kacang.

Ingin menguji loyalitas? Puncak Mahameru mungkin akan menjawab semuanya. Ditempat itu nanti seorang praja nindiya akan memetik setangkai anggrek – tanda cinta dan kasih sayang – untukmu, Cliff.

*) photograph by Yusuf Arifin. Kukup, Gunung Kidul

Labels:

Monday, April 02, 2007

Kanak-kanak (yang) Dewasa




NAGABONAR sengaja menahan anak-anak kecil yang tengah berusaha mengejar bola. Bonaga pun kebingungan sambil memandang bola tepat di depan kakinya.

“Tendang Bonaga, tendang ke gawang,” teriak Nagabonar sambil mengimbangi gerakan meronta empat anak

Tak tahu apa yang terjadi, Bonaga pun menuruti perintah Sang Ayah. Ditendangnya bola sekuat tenaga dan….

“Goool….!!!!”teriak Nagabonar seraya berjingkrak. Bonaga pun terhipnotis. Dia melonjak. Girang. Penuh semangat.

Dilepas jas yang dipakainya. Digulung kemeja putihnya hingga sepangkal lengan. Bonaga melanjutkan permainan. Lupa sudah ia pada pesawat yang telah menanti. Sesaat tak lagi hiraukan rencana proyek pendulang milyaran rupiah. Dia bermain bola. Di tengah perkebunan sawit, bersama ayahnya yang telah berbau tanah, dengan anak-anak yang masih bau kencur.

Sepotong kisah tersebut bisa dijumpai di film Nagabonar Jadi 2 yang saat ini tengah diputar di bioskop. Ketika menyaksikan premierenya pertengahan minggu lalu, adegan tersebut langsung menyita perhatian saya. Sebuah pembuka yang cukup memikat untuk mengantarkan ke adegan-adegan selanjutnya.

Kegirangan Bonaga saat berhasil menendang bola ke gawang menyentil kesadaran saya. Sosok sukses masa kini – muda, kaya, mapan, pengusaha papan atas, cerdas, lulusan luar negeri – menyimpan kerinduan yang begitu besar pada sepak bola. Permainan masa kecilnya. Sesuatu yang dulu selalu diperjuangkan, namun kini tak sempat dilakukannya karena ritme kehidupan yang dijalani saat ini.

******

“Manusia adalah makhluk yang bermain.”

“Pada setiap manusia dewasa selalu tersimpan jiwa kanak-kanak.”

Selintas, setiap mendengar kata-kata tersebut selalu saya teringat pada iklan ponsel Nokia sekitar 8 tahun silam. Saat itu, pabrikan ponsel asal Finlandia itu tengah meluncurkan produk terbaru berupa ponsel yang dilengkapi dengan fitur game.

Iklan menggambarkan bagaimana seorang businessman asyik bermain game di tengah suasana meeting. Ada juga visualisasi menarik dua orang dewasa tengah memainkan game ponsel di suatu taman bermain untuk anak-anak.

Entah karena kehadiran fitur game dibutuhkan oleh banyak orang ataukah iklannya yang berhasil memancing hasrat, ponsel nokia yang ditawarkan laris manis. Bahkan, ponsel Nokia seri 3310 mendapat predikat sebagai HP sejuta umat.

******

Dan hari itu kami semua kembali menjadi kanak-kanak.

Berteriak di atas kora-kora, menjerit di jet coster, dan kegirangan saat tubuh terbalik di atas kincir-kincir. Perahu kecil yang berjalan pelan pun tak memberi kepuasan sebelum tangan-tangan jahil bermain air dan membasahi pakaian kawan yang lain.

Kami makan es krim, memilih bando berhiaskan tanduk, juga mengamati boneka-boneka.

Kami menyetir mobil kecil bak pembalap sejati.

Hari itu di Dunia Fantasi. Tak ada lagi obsesi dan ambisi kehidupan. Tak perlu kenal norma dan aturan. Tak ada benar dan salah. Juga hak dan kewajiban. Lenyap malu dan takut.

Karena kami kanak-kanak.


*) Gambar diambil di Dunia Fantasi, Jakarta, akhir Maret 2007



Labels: