About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Wednesday, February 25, 2009

Yangbeng

Semua orang memanggilnya Yangbeng. Katanya singkatan dari Yang Gembeng. Yang, Bahasa Jawa setara artinya dengan Sang. Gembeng berarti gampang menangis. Dia memang gampang sekali menangis. Sedih, terharu, rasa senang, semua akan diekspresikannya dengan air mata. Entah itu di tempat umum atau dia sendiri yang tahu.

Aku tidak pernah tahu berapa usianya. Diapun demikian. Yang dia tahu, dia lahir waktu zaman Jepang. Tapi coba tanyakan apa yang dia tahu tentang zaman itu. Tak akan ada yang diketahuinya selain kemelaratan.

Dia anak satu-satunya dari orang tua yang tak kenal bentuk huruf dan tak jelas mata pencaharian. Bapaknya minggat saat dia mulai bisa membantu ibunya mengankat air yang sedang direbus. Lalu dia hanya tinggal berdua dengan ibunya, di gubuk reyot bersebelahan dengan gubuk dua adik ibunya yang juga sudah beranak.

Cerita itu terus diulangnya. Tidak terlalu detail. Tidak selalu sama setiap kali bercerita. Ingatannya terlalu pendek, untuk sebuah ingatan panjang tentang kemelaratan.

Satu-satunya cerita masa mudanya yang selalu sama dan terus kuingat tentang entrok. Entrok, itu kata yang dia tahu untuk menyebut kutang atau BH.

Saat itu, ketika gumpalan daging mulai menyembul di dadanya, dia merasakan kekecewaan. Sepupunya,yang seumuran dengannya, mendapat sebuah entrok dari orang tuanya. Entrok putih berbahan kain goni. Dua kantongnya bisa menutupi dan menahan dada yang bergerak naik turun. Itulah kali pertama Yangbeng melihat entrok.

Yangbeng muda meminta entrok yang sama kepada bibinya. Tapi ia tak mendapatkanya. Yangbeng marah dan kecewa. "Aku bersumpah akan membeli entrok sendiri," kata Yangbeng setiap kali bercerita padaku.

Demi entrok, Yangbeng muda mulai berkenalan dengan pasar. Pada kokok ayam pertama, dia berjalan kaki dari gubuknya ke pasar yang berada di lain desa. Dari pasar di membawa bawang, brambang, lombok, yang kemudian dijualnya keliling desa. Bukan dalam jumlah besar.

Yangbeng menjalani, tanpa menghitung bulan atau tahun. Yang dia hitung hanya uang yang pelan-pelan terkumpul. Untuk sebuah entrok, uang yang dimilikinya sudah bisa membeli sepuluh sekaligus.

Tapi entrok ternyata bukan lagi satu-satunya tujuan Yangbeng. Uang yang dikumpulkannya terus digunakan untuk membeli dagangan, dalam jumlah yang lebih besar.

Yangbeng tidak lagi hanya berjualan bawang dan brambang. Ia berdagang wajan, panci, pisau, kadang juga kain batik. Dia bolehkan orang membeli dengan mencicil. Bukan cicilan bulanan, tapi cicilan harian. Setiap hari Yangbeng berkeliling mengambil uang cicilan. Rata-rata seratus rupiah sehari.

***

Saat Gestok, begitu Yangbeng menyebut peristiwa berdarah 31 September 1965, Yangbeng sudah memiliki dua anak yang berumur tiga tahun dan dua bulan. Dia sudah tidak lagi tinggal di gubuk, tapi rumah yang dibangun dengan bata. Sebuah sepeda onta sudah dimilikinya.

Yangbeng tidak hanya berjualan barang, tapi uang. Ia meminjamkan uang pada penjual di pasar juga pada langganannya di seluruh desa. Dia mengambil bunga 5% dari uang yang dipinjamkan, lalu orang boleh mencicil setiap hari.

Orang menyebutnya rentenir. Pekerjaan yang dilaknat dalam agama Yangbeng. Tapi benarkah dia beragama sesuai KTP nya? Sejak kecil ia tidak tahu bagaimana cara sholat dan tak mengenal satupun doa.

Dia memang berdoa tiap malam, tidak dengan sholat, tapi dengan terdiam di halaman yang gelap. Di memohon, bukan pada Allah, tapi pada penguasa langit dan bumi. Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa, begitu katanya.

Dia hanya mencari makan dengan bekerja, apakah itu dosa? "Yang dosa itu orang yang berdoa siang malam tapi membiarkan anak istrinya keleleran," kata dia suatu ketika.

Dengan hasil kerjanya, Yangbeng yang tak mengenal satu huruf dan angkapun, menyekolahkan anak-anaknya. Tahun 1982, anak pertamanya masuk di perguruan tinggi. Ia menjadi orang pertama di desanya yang punya anak sarjana.

"Keinginanku terkabul. Aku buta huruf, tapi anakku sarjana," kata dia.

Masa itu, Yangbeng mencapai punjak kejayaan. Rumah batanya dibangun dengan cara modern. Ada empat bangunan rumah kampung yang digabung menjadi satu rumah. Di rumah, dia membangun toko. Yangbeng membeli diesel, disewakan pada orang yang punya hajat. Dia juga punya dua truk. YAngbeng juga membeli tanah untuk ditanami jeruk dan padi.

Meski punya toko di rumah, Yangbeng tetap berkeliling dari rumah ke rumah. Namun ia tak lagi mengayuh sepeda ontanya. Motor Yamaha Bebek mengantarkanya berkeliling. Ia sudah menggaji sopir.

***

Oktober 2008, dua bulan sebelum pernikahanku, kami mengobrol berdua di kamar. Yangbeng, sebagaimana namanya, sudah siap mengucurkan air matanya. Dia menangis, tidak bisa memberikan apa-apa di hari pernikahanku.

Yangbeng memang sudah tak memiliki apa-apa. Hanya rumah megahnya yang menjadi saksi kejayaanya. Kebon jeruk masih ada, namun dengan panen seadanya.

Tahun 90an menjadi saksi bagaimana uang sedikit demi sedikit meninggalkan Yangbeng. Yangbeng bangkrut. Uangnya yang dipinjam orang susah kembali. Dia pelan-pelan menjual hartanya, untuk mendapat modal, kembali meminjamkan orang lain. Tapi uang pun tak kembali.

Yangbeng juga makin tersisih dengan banyaknya orang yang pekerjaanya sama denganya, dengan berbagai bank suwek, kredit dari bank umum.

Tapi Yangbeng tetap Yangbeng. Jika dulu dia bekerja keras demi entrok, kini dia bekerja keras untuk mempertahankan hidup. Bukan sekedar uang, tapi harga diri.

Dialah Sainem. Ibu dari Ibuku.

Monday, February 16, 2009

Tentang Bunga Layu Itu...


Hari itu, saya baru tahu Rawa Belong adalah pusat penjualan bunga potong. Benar-benar pasar, bukan hanya deretan beberapa kios seperti yang ada di Cikini. Malam itu, dua hari sebelum valentine, penjual sudah mulai menata mawar holland di baris terdepan dagangan mereka. Mengalahkan krisant, lily, dan bunga-bunga yang lain. Kata Bob, besok malam dan 14 Februari malam - seperti tahun-tahun sebelumnya - jalan masuk ke pasar akan dipenuhi oleh penjual mawar.

Saya dan Bob masuk ke setiap kios. Bukan untuk menanyakan mawar holland atau mawar lokal, melainkan bunga-bunga yang sudah tidak layak jual. Yang agak layu, agak kering, atau jenis-jenis bunga yang jarang diminati saat valentine, seperti krisant.

Semua orang menatap aneh, bertanya keheranan. "Untuk demo," kata saya setiap menjawab pertanyaan pedagang. Dari dua kios, kami mendapat setumpuk bunga yang kami cari.

Tak ada bunga yang benar-benar layu. Penjual menyuruh kami menggantung bunga dengan posisi terbalik.

Malam itu saya juga baru tahu kertas tidak bisa ditempelkan pada kanvas dengan lem UHU biasa. Pelayan di Gramedia, Plaza Semanggi, menyarankan menggunakan lem UHU khusus untuk tekstile yang harganya Rp50 ribu. Mahal! Bob menyarankan memilih lem lain. Ada lem untuk kulit ukuran paling kecil, harganya jauh lebih murah.

Pagi itu, saya dan Abdul baru menyadari kerupuk tidak bisa melempem begitu saja meski sehari sebelumnya dibiarkan dalam plastik terbuka. Lalu Abdul memasukkan dalam kulkas (what?). Dia tetap melakukannya, dan gagal. Tak menyerah, Abdul memanaskan kerupuk dalam rice cooker (tadi dingin, sekarang panas). Lagi-lagi gagal.

Sudah jam 10. Nando sudah berkali-kali menelpon. Saya sibuk dandan, dan tak lagi sempat berpikir tentang kerupuku. Lalu Abdul berteriak dari dapur, "Berhasil Sayang, aku celupin air."

Siang itu, di KPK, saya baru tahu, bunga yang hampir layu tidak mudah menjadi layu. Kami menjemur bunga di depan KPK. Tentu saja menarik perhatian. Petugas kebersihan hampir membuangnya ke tong sampah.

Jam 1/2 2, saya baru tahu Sekretaris Antasari Azhar mempertanyakan bunga layu itu. "Mau ngasih bunga kok bunga layu," Arsa menirukan lewat telepon.Wartawan, fotografer, terus berdatangan. Tepat jam 2, Johan Budi bertanya tentang kerupuk dan bunga layu. Ia kecewa kami hendak memberi bunga layu dan kerupuk melempem. Kami tidak boleh membawa bunga dan kerupuk ke lantai atas.

Anak-anak menolak untuk naik. Kami sepakat tidak naik.

Lalu semuanya berjalan cepat, telepon dari Johan, Antasari turun, kilatan blitz, dan pengumuman tersangka baru dari dua kasus yang (nyaris) luput dari ingatan.

Semuanya selesai. Anak-anak sibuk merajut kata demi kata. Tentang bunga layu, tentang tersangka, tentang anggaran, tentang KPK.

Hari itu saya baru tahu, kebersamaan kami telah menghasilkan sesuatu yang sangat berharga. Lebih dari sekedar berita penetapan tersangka (yang tidak penting itu...).


foto-foto oleh Wienda Parwitasari (narsis dikit oiii:P)
More about 'Bunga Layu dan Kerupuk Melempem' :
>Antara
Kompas dot Com
The Jakarta Post
Sinar Harapan
Detik
Kontan