About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Sunday, December 28, 2008

Post Card from Gili Meno

After The Wedding


Kami terdampar. Satu tempat indah dan sepi. Tanpa gelak tawa pesta, dentingan sendok, undangan dan ucapan terima kasih. Hanya kami berdua. Benarkah ini menyerupai surga?


Harmoni


...tempat dimana kami tak perlu tergesa menghabiskan makan siang...

Jeda


...tanpa deru mesin, asap kendaraan, berita koran dan gambar televisi ...

Land for Sale


...kami datang sebelum tempat ini habis dibatasi pagar-pagar raksasa...

Di Atas Pasir


...pernahkah kau bayangkan, satu tempat dimana waktu dan keindahan hanya milikmu seutuhnya. tempat dimana kamu bisa bercumbu di atas pasir, disaksikan birunya langit dan diiringi deburan ombak...


The Sunset



...hanya kami berdua...

Thursday, December 04, 2008

Sebuah Undangan

"....
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
..."
Rendra dalam Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya
Penggalan puisi Rendra itu yang akhirnya kami cantumkan dalam undangan. Kami memang ingin menampilkan puisi cinta yang tidak sekedar berbicara tentang percintaan. Abdul Khalik mengatakan ingin puisi yang berbicara tentang kehidupan. Saya ingin puisi yang jarang dipakai ora ng dalam undangan pernikahan. Kenapa tidak membuat puisi sendiri? Karena kami berdua bukan penyair, tak punya hobby bersyair, dan t ak bisa membuat syair. Kami hanya sekedar ingin mencantumkan syair yang indah dalam undangan kami.
Lalu kenapa Rendra? bukankan dia poligami? huehehe...Jujur untuk yang satu ini kami memang 'kecolongan'. Saat memutuskan memilih puisi itu kami sama sekali tak ingat dan tak berpikir ada faktor eksternal dari puisi itu. Kami hanya memperhatikan sebatas sajak dan maknanya saja.

Dan meskipun kami mengutip puisi dari penyair yang berp oligami, bukan menjadi alasan untuk tidak hadir dalam pernikahan kami khan?? Datengg yaa.....


*foto oleh
Dedy Priambodo