About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Friday, May 23, 2008

Itung-Itungan

Kenaikan BBM 28,7 % segera diumumkan. Kata Ibu Menteri cantik mantan pegawai IMF itu, ini semua demi menyelematkan APBN. Harga minyak dunia yang sudah sampai 130 Dollar per barel membuat beban subsidi tambah berat. Jadi, subsidi harus dicabut demi keutuhan hidup berbangsa dan bernegara.

Kata Pak Menteri yang punya Lapindo, subsidi akan diberikan pada orang-orang Indonesia yang lebih membutuhkan. Orang yang memenuhi kategori miskin yang ditetapkan pemerintah,punya KTP, juga punya Kartu Keluarga, dan tentu saja sudah Terdaftar. Kalau sudah memenuhi syarat, mereka akan dapat Rp700 ribu tunai setelah antri di Kantor Pos dengan menunjukkan kartu kecil tanda ia terdaftar dan diakui sebagai warga miskin.

Sampai saat ini saya belum didaftar buat dapat BLT. Yaiyalah...! Secara saya seorang karyawan swasta dengan penghasilan di atas upah minimum Provinsi DKI Jakarta, yang sekitar Rp850 ribu.

Saya juga tidak ikut demo menentang kenaikan BBM. Malu sama Pak Presiden, kan pencabutan subsidi demi keutuhan hidup berbangsa dan bernegara. Lagipula, katanya, BBM itu hanya dibeli orang kaya. Mobil mereka yang sebangsa Nissan, Lexus, sampai Land Rover, yang menghabiskan stok BBM. Pengguna motor seperti saya paling cukup 4 liter untuk tiga hari. Jadi kenaikan dari 4500 menjadi 6000 enteng deh!

Sebenarnya sejak awal saya berada pada kubu yang menolak pencabutan subsidi BBM. Menurut saya, masih ada cara lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan APBN. Misalnya dengan melakukan penghematan pada anggaran departemen, mengusut larinya pajak yang entah kemana, dan terutama memberantas korupsi. Saya tahu, subsidi memang tidak bisa diberlakukan selamanya. Tapi pencabutan subsidi harus terlebih dulu didahului dengan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat. Jadi tidak sekarang.

Argumen yang mengatakan BBM lebih banyak digunakan golongan ekonomi atas juga tidak relevan. Memang sih, saya hanya butuh empat liter bensin untuk tiga hari. Tapi coba lihat imbas kenaikan BBM pada harga-harga lain.

Semalem mie goreng langganan di depan kost naik jadi 7000. Padahal tiga bulan lalu baru naik dari harga awal 5000 menjadi 6000. Pindah tempat makan, nasi pecel ayam yang biasanya 6000 sekarang sudah 9000.

Ibu kost juga ikut bawel. Katanya karena uang keamanan dan listrik naik, kost juga dinaikkan 50 ribu. Lhadalah, mbak-mbak yang biasa mbantu nyetrika baju juga minta kenaikan upah, yang biasanya 50 ribu sebulan jadi 70 ribu.

Koran-koran langganan juga sudah naikkin harga. Itu The Jakarta Post yang biasanya saya baca biar sedikit-sedikit melek bahasa inggris naik dari 5000 jadi 5500. Walah! Tambah mumet pas obat muka habis. Dua bulan lalu naik 10 ribu dari harga awal. Hmm...ya walaupun kerjanya berpanas-panas dan keringatan tiap hari, jaga penampilan muka kan tetep penting :)

Kekasih saya punya pendapat yang berbeda dengan saya. Selama dua minggu terakhir sebelum malam ini akhirnya Pak SBY mengumumkan kenaikan, diskusi tentang BBM mewarnai hari-hari kami. Dia, yang pro pencabutan subsidi, berulangkali berkata, "BBM memang harus naik." Kata dia, bahkan sudah saatnya semua subsidi dicabut. Sudah tidak zamannya lagi negara memberi subsidi.

Khusus untuk subsidi BBM, pencabutan adalah langkah jangka pendek yang harus dilakukan. "Soal pajak dan pemberantasan korupsi itu solusi jangka panjang, Sayang," katanya.

Ya..ya..ya..kami tak harus menyatukan pendapat. Hanya mungkin kita perlu menghitung ulang estimasi biaya pernikahan,Sayang :)


*)Catatan menjelang detik-detik kenaikan BBM. Versi asli dipublikasikan pertama kali di milis internal perusahaan untuk mendorong penyesuaian gaji dengan inflasi tahun 2008 terutama setelah BBM dinaikkan



Friday, May 09, 2008

Daendels dan Desember

Kami mengenang Herman Willem Daendels. Gubernur Jenderal Hinda Belanda inilah yang punya gagasan spektakuler sekaligus setengah sinting untuk membangun jalan raya di sepanjang pantai utara Jawa, mulai Anyer sampai Panarukan. Daendels mempekerjakan orang Indonesia dengan paksa, mencambuk saat dirasa bekerja terlalu lambat, membunuh jika ada yang hendak melarikan diri. Tercatat sedikitnya dua belas ribu nyawa melayang dalam proyek seribu kilometer ini.

Kami mengenangnya saat kami tengah menikmati peninggalan kekejamannya. Bukan sebagai ucapan terima kasih untuk Daendels tapi untuk orang-orang pribumi yang menyerahkan tenaga dan nyawa di sepanjang jalan ini.

Melalui Jalan Raya Pos, kami meninggalkan Jakarta menuju Magetan. Ada dua pilihan, menyusuri Jalan Pos sampai Semarang lalu berbelok ke selatan menuju Solo - Magetan atau meninggalkan jejak Daendels di Brebes-Tegal untuk berbelok ke arah Purwokerto lalu Jogja-Magetan. Kami memilih rute kedua.

Meninggalkan Jalan Daendels, kami juga menhentikan pembicaraan dengan setting tahun 1808-masa-masa pembangunan Jalan Raya Pos. Ibarat sebuah film dengan alur kilas balik, kini kami kembali ke setting masa kini. Tahun 2008, sepuluh tahun pasca reformasi 1998 dan setahun menjelang Pemilu 2009.

Di masa sekarang, kami dengan mudah mengenali tanda satu daerah. Kami cepat tahu apakah kami masih ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, atau sudah meninggalkan Jalan Raya Pos. Baliho besar bergambarkan Bibit Waluyo dan Rustriningsih atau Sukawi dan Sudharto menandakan kami sudah masuk wilayah Jawa Tengah. Spanduk terbentang di tempat-tempat strategis mengingatkan masyarakat Jawa Tengah untuk tidak lupa datang ke tempat pencoblosan 22 Juni nanti.

Sebenarnya ada lima pasangan calon Gubernur Jawa Tengah yang menjadi peserta Pilkada. Gambar mereka juga terpampang di sepanjang jalan. Tapi memang pasangan Bibit-Rustri dan Sukawi-Sudharto yang menarik perhatian kami dan menjadi subyek utama dalam satu sequel pembicaraan dengan setting masa kini. Mungkin karena dua pasangan calon itu yang namanya cukup kami kenal dan sering menjadi pembicaraan di tingkat nasional. Bibit adalam mantan Pangkostrad dan Rustri adalah Bupati Kebumen sekaligus Bupati perempuan pertama di Indonesia. Sementara Sukawi adalah Walikota Semarang yang beberapa kali dilaporkan KPK karena diduga tersangkut korupsi. Kini Sukawi sudah ditetapkan sebagai tersangka korupsi APBD.
Memasuki Kulon Progo, tidak ada lagi umbul-umbul dan berbagai penanda Pilkada. Kami telah memasuki wilayah Yogyakarta. Pembicaraan beralih ke tanah-tanah Sultan di seluruh penjuru Yogyakarta.

"UGM itu kan dibangun di atas tanah Sultan. Jadi sekritis-kritisnya akademisi UGM, tidak akan ada yang berani mengkritik Sultan. Mana pernah ada ide pemisahan jabatan Gubernur dan Sultan dari dosen UGM. Sekarang aja setelah Sultan Hamengkubuwono X jelas-jelas tidak mau lagi jadi Gubernur tetap aja wacana yang berkembang adalah Gubernur tetap dijabat Sultan," kata saya saat kami makan kepiting di seberang Grha sabha Pramana.

Kekasih saya lulusan Universitas Indonesia yang seumur hidup baru satu kali pergi ke Jogja untuk suatu tugas peliputan. Ini adalah kunjungan keduanya. "Terlalu macet dan terlalu ramai dimana-mana. Gua ngga dapet atmosfer Jogja," ujarnya di sela-sela kesibukan saya memilah-milah batik koleksi Mirota Batik.

Kami memasuki wilayah Ngawi hampir tengah malam. Umbul-umbul perayaan pesta rakyat kembali tampak dimana-mana. Ada gambar menteri perempuan era Gus Dur, Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Mujiono, mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Syaefullah Yusuf yang menjadi Calon Wakil Gubernur, anggota DPR dari PDIP Sutjipto, dan Achmady yang maju dengan restu dari Gus Dur.

Di Magetan, gambar calon gubernur bersaing dengan calon bupati. Magetan akan menggelar pesta rakyat bulan Juli nanti. Khusus untuk Pilkada Magetan, saya pernah menuliskannya dalam "Mama dan Koruptor"."Orang NU lagi rebutan jadi Gubernur Jawa Timur," kata saya saat kami berkumpul di meja makan bersama Papa dan Mama.

"Iya, apalagi setelah PKB ada dua kubu, masing-masing kubu punya calon," kata Papa. Khofifah adalah calon dari PKB kubu Muhaimin sementara Achmady dari kubu Gus Dur.

"Wah, kalau suara NU pecah bisa-bisa PDIP yang dapet untung," kata kekasih saya.

Pembicaraan tentang NU, Pilkada, bupati Magetan, dan goresan mobil saat lewat Jalan Daendels berakhir saat kami berkumpul di ruang tamu. Kami membahas tentang kehidupan yang lebih sempit. Tentang saya dan dia. Tentang sebuah cerita dengan setting masa depan. Skenario permainan yang akan dimulai bulan Desember.


Jakarta-Magetan, 30 April-4 Mei 2008