A WORD FROM OKKY

from a word to my personal reflection of many little things in life - about poverty, peace, nature, culture, and human being - and sometimes, also my personal moments.

My Photo
Name: Okky Puspa Madasari
Location: Jakarta, Indonesia

Seorang Jurnalis. Lahir dan besar di Magetan, Jawa Timur. Belajar ilmu politik di Jurusan Hubungan Internasional, UGM. Peminat fotografi, sastra dan karya seni. Suka melakukan perjalanan, pecandu berat suara ombak dan bau gunung. Baginya, hidup bukan sekedar untuk dijalani.

Monday, March 31, 2008

Sidang Sandiwara


Adakah kebenaran dalam pentas sandiwara?

Pertama kali saya melihat persidangan lewat televisi, pada pertengahan tahun 1990, ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Sekilas saja, karena hanya bagian kecil dari sebuah film. Biasanya adegan pembacaan vonis seorang penjahat oleh hakim yang berpakaian toga hitam-hitam. Hanya sekilas saja, karena persidangan itu bukan bagian utama cerita film itu sendiri.

Potongan adegan itu memberi saya pemahaman, persidangan di pengadilan adalah hukuman bagi orang-orang jahat. Orang-orang yang telah membunuh orang, mencuri, atau memerkosa. Jaksa dan hakim dengan toga hitamnya adalah orang-orang baik. Si pencari kebenaran, pemberi keadilan.

Tahun-tahun berikutnya, ketika saya duduk di bangku sekolah menengah, saya mulai menyaksikan persidangan dalam porsi yang sedikit lebih banyak. Meskipun tetap melalui televisi. Beberapa film atau serial dengan kisah utama proses persidangan mulai saya kenal pada masa-masa itu. Diantaranya adalah serial Ally Mc Beal atau Judge Bao.

Referensi saya mulai bertambah. Tidak selamanya orang yang dibawa ke persidangan adalah orang-orang jahat. Dalam beberapa kisah detektif ditunjukan, bagaimana seseorang sering dijebak atau terjebak sebagai pelaku pembunuhan. Dia ada di lokasi pembunuhan, sidik jari di tubuh korban, dan tidak ada saksi seorang pun. Padahal, kebetulan saja di berada di lokasi tersebut saat pembunuhan terjadi.

Dalam keadaan seperti inilah muncul pahlawan baru. Seorang pengacara. Mereka tampil sebagai pembela kebenaran. Membantah dakwaan jaksa, meyakinkan pendapat hakim. Mereka mengajukan segala bukti dan saksi. Dan mereka yang menang.

Persidangan dan pengadilan dalam potongan adegan layar kaca menjelaskan permasalahan kehidupan dengan sederhana. Benar atau salah. Pahlawan atau penjahat. Hitam atau putih. Semua dalam satu sudut pandang : kebenaran adalah apa yang nanti dikatakan oleh hakim.

Saat ini - beberapa tahun setelah saya menjadi salah satu penganut logika sederhana itu - saya terjebak dalam adegan persidangan yang seutuhnya. Tidak lagi melalui film ataupun potongan berita sekilas di layar televisi.

Masih ada hakim dan jaksa berpakaian toga, orang yang melakukan kejahatan di kursi terdakwa, dan tentu saja pengacara yang siap membela. Persidangan tidak hanya adegan pembacaan putusan hakim atau penampilan prima pengacara yang mampu mematahkan semua dakwaan jaksa.

Persidangan adalah penyatuan segala skenario. Skenario jaksa, skenario pengacara, skenario pesakitan, skenario saksi, hingga akhirnya skenario hakim. Masing-masing mengemukakan kebenaran dari sudut pandangnya. Sulit melihat mana yang hitam, mana yang putih.

Rokhmin Dahuri, misalnya, tampil sebagai korban sistem. Seorang menteri yang tak tahu apa-apa, melanjutkan kebijakan menteri sebelumnya, lalu membagi uang yang bukan hak nya untuk berbagai pihak. Calon presiden, politisi, mahasiswa, wartawan, hingga korban bencana.

Irawady Joenoes, melakonkan peran seorang detektif. Seorang agen rahasia yang hendak membongkar kasus penyuapan dengan cara menerima suap.

Dalam kasus lain yang belum masuk ruang sidang, Jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani yang tertangkap basah melakukan serah terima uang Rp6 miliar, menyusun skenario jual beli permata.

Ruang persidangan menjadi saksi, bagaimana masing-masing skenario saling diadu dan diuji kebenarannya. Hingga pada akhirnya Hakim membacakan skenario yang mereka susun sendiri. Sebuah kebenaran akhir yang disusun berdasarkan skenario-skenario sebelumnya.

Sebuah film Hollywood yang saat ini tengah diputar di bioskop - Vantage Point - menyajikan dengan sangat apik bagaimana skenario dari berbagai orang bertemu di satu titik : kebenaran.

Film ini bercerita tentang aksi terorisme yang hendak melakukan pembunuhan pada Presiden Amerika. Yang menarik, film ini menampilkan 13 menit sebelum penembakan terjadi dari sudut pandang masing-masing pelaku. Sudut pandang media, pengawal Presiden, Presiden, pelaku teror, hingga seorang turis yang kebetulan tengah melancong di Spanyol.

Film ini menyindir dengan sangat tepat bahwa apa yang kita ketahui hanya setitik bagian dari kebenaran itu sendiri. Termasuk fakta bahwa yang disampaikan media hanya selaput tipis paling luar dari kenyataan yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan skenario kebenaran versi hakim? Adakah juri bagi hati nurani?

Labels: ,

Thursday, March 13, 2008

Zonder Peta

Seberapa berharga nilai selembar peta?

Sejak kecil saya suka melihat peta. Saya sering membuka selembar peta besar lalu melemparkan satu koin dan melihat di titik mana koin terjatuh. Lalu saya membayangkan saya akan melakukan perjalanan menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh koin. Tempat yang jauh, baru, belum pernah saya datangi sebelumnya.

Di bangku sekolah, pelajaran ilmu bumi begitu menyita perhatian saya. Yang paling saya suka adalah menghafalkan nama-nama ibukota tiap negara dan menjawab pertanyaan tentang peta buta. Saya memiliki beberapa buku atlas, peta Indonesia yang dipajang di dinding kamar, dan tiruan bumi yang dipajang di meja belajar atau yang menjadi gantungan kunci.

Makin dewasa imajinasi saya makin liar. Tak sekedar melempar koin di selembar peta, tapi justru melalui tiap-tiap garis dalam peta - tak hanya dalam mimpi. Saya mulai sering mengumpulkan peta dengan skala kecil, yang hanya menggambarkan satu kota, satu pulau, atau satu provinsi saja.

Saya mulai melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Berbekal selembar peta, mengikuti setiap petunjuk yang tertera, dan percaya penuh pada kebenarannya.

Di perjalanan terakhir saya ke tiga negara, peta merupakan bekal utama selain kamera dan kaca mata hitam. Membaca jalur MRT di Singapura, mencari terminal bus di Malaysia, hingga menyusuri pantai demi pantai di Phuket.

Saya menjadi sebuah mesin berjalan. Mengikuti garis merah, menuju kotak hitam, berhenti di titik merah. Saya mengetahui jarak satu tempat dengan tempat lain bukan berdasarkan banyaknya langkah kaki, melainkan dari panjang garis dalam peta. Saya mengukur perbedaan kedalaman laut Andaman dan perairan di sekitar Phi Phi Island bukan dari tekanan air saat berenang tapi dari perbedaan warna biru dalam peta.

Saya melupakan insting, kepekaan perasaan, arah hembusan angin, atau isyarat matahari. Saya telah menyerahkan sepenuhnya diri, perjalanan, dan akhir perjalanan saya pada selembar peta.

Di tengah perjalanan saya kehilangan peta yang hanya selembar. Angin ribut menerbangkannya beberapa meter dari tempat saya berdiri. Lalu hujan deras melumatkannya sebelum saya berhasil menggapai dan menyimpannya di tempat yang aman. Saya kebingungan. Saya tersesat.

Lalu seseorang datang. Mengajari saya membaca tanda matahari, arah hembusan angin, dan cara mendengar suara hati. Hal-hal yang sudah terlupakan sejak sepenuhnya saya bergantung pada peta. Dia mengingatkan saya cara untuk kembali menjadi manusia, bukan sebuah mesin pembaca peta.

Dia menjadi pemandu perjalanan saya. Panduan yang tak hanya bisa dibaca dan diikuti. Yang tak bisa terbang dibawa angin karena telah menjadi bagian dari diri saya.

Kini saya tak lagi tergantung pada selembar peta. Kami membuat sendiri peta perjalanan kami. Menentukan kota tujuan dan menggambar rute yang hendak dilewati.

"Do you love him?"

"Absolutely yes."

Pencarian sudah berakhir.


Singapura, Malaysia, Thailand, 2 Maret-9 Maret 2008



*) Palls, sorry gw lagi ga mode on buat nulis cerita perjalanan disini. Mungkin someday bakal bisa dinikmati di salah satu media woehehehehe. Nah, sekedar menuhin janji, ini gw catetin rincian biayanya aja ya..moga bisa jadi ancer-ancer kalau mau trip serupa.

Jakarta - Singapura
Jakarta - Batam : 205.000
Ferry Batam - Singapura : 180.000
Fiskal via Batam : 500.000
Penginapan di Singapura di daerah China Town : SGD 30 - SGD 100. (Salah satu yg recomended Hotel Dragon di Mosque Street tarifnya SGD50 untuk kelas standart)
Perjalanan dengan MRT rata-rata 1-2,5 SGD (transportasi dengan MRT yang terbaik. Murah meriah dan menjangkau setiap lokasi di SG)

Singapura - Malaysia
Perjalanan SG-Kuala Lumpur paling murah dan mudah naik bus. Lama perjalanan 4-5 jam. Bus langsung dari terminal Golden Miles, Singapura - terminal KL tarifnya 26 SGD.

Tapi ada cara lain yang lebih murah, itu yang kami pilih kemarin :
-naik MRT menuju stasiun Lavender
-menuju Queen Street langsung naik bus jurusan Johor Baru : SGD2,4 (Busnya lumayan bagus, bersih, AC)
-Bus menuju terminal Larkin Johor Baru. Dalam perjalanan penumpang mesti dua kali turun untuk pemeriksaan pasport di perbatasan. Dari Larkin naik bus jurusan KL : RM 25 (bus jauh lebih bagus).
-Di KL bus berhenti di depan terminal, Jalan Pundu Raya. tepat di seberang perhentian, berjajar banyak penginapan murah meriah. Tarifnya RM 28 - RM 70.

Malaysia -Thailand
Gw udah beli tiket KL-Phuket Air Asia RM135,99 atau setara dengan Rp339.975 (kurs 2500). Bandara Air Asia di Malaysia terpisah dari bandara lainnya, jadi ada airport khusus untuk low cost carrier. Transportasi ke bandara bisa menggunakan bus dengan tarif RM12.

Thailand
- Penginapan murah meriah di Phuket tersebar di sepanjang pantai wisata. Kemarin gw milih di daerah Phatong. Tarifnya antara 700 Bath - 1000 Bath tiap malem.
-Kalau ingin ke Phi Phi Island ( tempat shooting The Beach) paling enak ikut tour. Tarifnya 700 Bath seorang, meliputi perjalanan pakai kapal boat besar, fasilitas snorkling, kanoe di Maya Bay, lunch oke di tengah pulau Phi-Phi Island.
-Makanan di Thailand murah meriah dan enak bangeet. Tom-yam spesial harganya setara Rp12ribu.

Phuket-Singapura
-Naik Air Asia lagi harganya setara Rp 496.340.
-Nyebrang Singapura-Batam, harganya sama dengan pas berangkat
-Batam - Jakarta Air Asia lagi, Rp205 ribu



Labels: , ,