About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Wednesday, January 30, 2008

Post Card from Bali (4)


Dari Jimbaran ke Seminyak
Dear...
pantai bukan lagi milik kita..
Jimbaran, 28 Januari - Seminyak, 29 Januari

Tuesday, January 29, 2008

Post Card from Bali (3)


hohoho...
Adakah yang lebih lucu dibandingkan kematian Soeharto,
satu hari menjelang Konferensi Tingkat Tinggi United Nations Convention Against Corruption?
hohoho...
aku benar-benar bingung dengan ini semua....
Nusa Dua, 29 Januari

Post Card from Bali (2)



Hi...
Bisakah kau beri tahu aku
tentang sebuah tempat menyerupai surga
mungkin dengan deburan ombak yang cukup besar
sehingga aku bisa terus bermain dengan papan panjang itu
yang berpasir putih dan kering
sehingga aku bisa merasakan bulir-bulirnya menusuk telapak kaki
pastikan tak ada sinyal apapun..
tak ada jaringan internet
berita radio dan televisi
dan bahkan tak pernah didatangi surat kabar
sebuah surga yang membuatku tak mendengar apapun
tentang Pollycarpus
tentang upacara kematian yang megah
atau tentang Gubernur Bank Sentral yang mencuri uang...
Tanjung Benoa, 27 Januari



Post Card from Bali (1)


Kau tak pernah benar-benar mencintai laut. Tak pernah kau rasakan gejolak rindu pada suara ombak atau bau garam. Pun tak pernah kau setia nantikan wujud terindahnya – saat perlahan emas dan lembayung terbentang di garis horizon.

Bagimu laut hanya sebuah keindahan yang itu-itu saja. Indah. Memang indah, tapi hanya seperti itu saja. “Sejauh apapun kau susuri tepinya, hanya akan begitu-begitu saja yang bisa kaulihat,” katamu waktu itu.

Lalu kau akan selalu membandingkan dengan gunung. Tentang perjalanan setapak demi setapak dengan berbagai keindahan yang – katamu - bukan itu-itu saja. “Tidak akan ada orang yang bosan mendaki gunung,” kamu meyakinkan.

Tapi kenapa kau tak juga bertanya kenapa aku begitu mencintai laut? Karena disanalah aku menemukan dirimu. Keindahan yang itu-itu saja....
Sanur, 24 Januari - Kuta 25 Januari

Sunday, January 13, 2008

Poligami dalam Sepotong Ayam

Satu siang yang terik dengan debu-debu kering berterbangan yang nyaris terhirup dalam tiap tarikan napas. Beratapkan terpal di belakang gedung tempat mengadili para koruptor, kami- berlima -berbincang tentang makanan sambil menikmati gado-gado, tong seng, dan ayam bakar. Bukan soal rasa atau bumbu dibalik masakan karena kami bukan tengah berwisata kuliner.

Kami membicarakan tempat-tempat makan yang tak lagi kami datangi justru bukan karena rasanya. Mungkin karena pantangan diet, kepercayaan, atau bahkan karena idealisme tertentu.

Restoran cepat saji misalnya, kini telah banyak dicoret dari daftar alternative tempat makan. Ada yang melakukannya karena diet, mulai dari diet untuk menurunkan berat badan hingga diet pola hidup sehat. Makanan cepat saji selalu identik dengan daging – yang sudah dimasak beberapa saat sebelum waktu makan. Seluruh rekomendasi ahli gizi akan selalu menyarankan setiap orang menghindarinya dengan menyebutkan berbagai kemungkinan akibat mulai kolesterol hingga kanker.

Apalagi saat ini tengah berkembang trend pola makan vegetarian alias menghindari daging dan segala sesuatu yang berbau daging seperti telur dan susu. Vegetarian pun dilakukan dengan berbagai alasan yang tak melulu soal kesehatan. Lebih jauh lagi, vegetarian dipercaya sebagai bagian laku spiritual dan ekspresi rasa cinta terhadap sesama makhluk hidup.

Saya sendiri belum mencoret fast food dari bagian kehidupan saya. Selain karena saya masih makan daging hingga saat ini, masih cukup sulit bagi saya untuk 100% menghindari fast food di tengah kehidupan Jakarta. Restoran jenis ini tersebar di setiap sudut kota – mulai dari ayam goreng, pizza, sea food, hingga masakan Jepang.

Kalaupun saya selalu menempatkan fast food pada prioritas terakhir, semata-mata karena saya lebih menyukai masakan tradisional dalam menu sayur asem dan sambel terasi.

Saya lebih memilih mencoret nama satu rumah makan waralaba milik pengusaha lokal, Puspo Wardoyo : Ayam Bakar Wong Solo. Sebenarnya, saya begitu menyukai ayam bakar dari restoran ini, lengkap dengan sayur asem dan sambel terasinya.

Pilihan saya untuk tidak lagi ke restoran tersebut atau sekedar makan produk Wong Solo semata-mata karena kehidupan poligami yang dilakukan pemiliknya. Ayam Bakar Wong Solo juga menjadi bagian dari praktik poligami tersebut – dimana setiap istrinya di berbagai kota Indonesia dipercaya untuk mengelola satu rumah makan.

Berlebihan ? Mungkin, tapi itu sudah pilihan saya.

Mendebatkan poligami berdasarkan tafsir kitab suci tidak akan pernah selesai sampai kapanpun. Pilihannya adalah kita memilih yang mana. Saya sendiri memilih untuk tidak sepakat dengan poligami. Tidak hanya dengan mengecam laki-laki yang berpoligami tapi juga sadar sebagai posisi perempuan untuk menolak dipoligami.

Saya teringat pada awal tahun 2000, ketika saya berjumpa pertama kali dengan beberapa orang yang menolak menggunakan produk satu perusahaan multinasional, dengan alasan yang cukup idealis dan menurut saya saat itu tidak proporsional : karena perusahaan itu berhubungan dengan Zionis. Konon, setiap tahunnya, laba perusahaan disumbangkan bagi kegiatan mereka.

Parahnya, perusahaan tersebut menjadi produsen dari semua produk kehidupan sehari-hari. Mulai dari sabun hingga kecap. Sungguh pilihan yang sangat berat.

Beberapa tahun kemudian, saya melihat gerakan moral seperti ini dengan lebih proporsional. Tentu akan lebih menguntungkan bagi masyarakat Indonesia sendiri untuk menggunakan produk yang dihasilkan perusahaan lokal daripada perusahaan asing. Mulai dari keuntungan financial bagi masyarakat lokal sampai ke kekuatan politik.

Saya sendiri, hingga sekarang masih belum bisa meninggalkan produk dari MNC tersebut. Bukan tak sepakat dengan tujuan yang ingin dicapai, tapi lebih karena faktor personal. Dan saya rasa itu juga bagian dari pilihan saya.

Terlepas dari apapun pilihannya, seperti tidak makan Ayam Bakar Wong Solo bagi saya atau tidak memakai produk dari perusahaan Zionis bagi beberapa teman, merupakan gerakan moral yang dimulai dari diri sendiri.

Sesuatu yang nyata tanpa harus menunggu kesempatan berdialog di Gedung DPR atau menggalang kekuatan untuk melakukan demonstrasi besar-besaran.

Sebagaimana pilihan untuk sebisa mungkin menolak kantong plastik saat berbelanja, tanpa harus menunggu Konferensi Perubahan Iklim digelar lagi beberapa tahun mendatang.