About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Monday, May 28, 2007

Perempuan Kadaluwarsa?

Apa yang menakutkan bagi seorang perempuan muda yang berpendidikan, modern, memiliki karier gemilang, dan tentu saja mapan? Kadaluwarsa atau kalau dalam bahasa inggris disebut expired - sebagaimana yang sering tertulis di label makanan. Istilah yang berarti telah melewati batas waktu penggunaan yang semestinya.

Menjadi kadaluwarsa berarti tidak enak lagi dinikmati bahkan bisa membahayakan kesehatan. Sesuatu yang kadaluwarsa tidak akan lagi diminati orang, apalagi dibeli. Karenanya, yang sudah kadaluwarsa akan teronggok begitu saja, kalah bersaing dengan yang belum kadaluwarsa. Hingga akhirnya yang kadaluwarsa menghilang atau sengaja dibuang. Benarkah?


Setidaknya itulah kebenaran bagi Bapak dan Ibu Paduko. Pasangan Jawa yang masih kental mempertahankan kejawaannya. Orang tua miskin yang dengan kerja keras dan doa bisa mengantarkan anak perempuannya – Narsih - mencapai tangga kesuksesan. Narsih pun bermetamorfosis sesuai keadaannya saat ini. Namanya diganti dengan Narcici agar terdengar lebih keren. Tinggal di apartemen di belantara metropolitan – terpisah dengan orang tuanya yang tinggal di kampung. Menjalani kehidupan urban yang serba kemilau dan hangar bingar, namun sesungguhnya terjebak dalam kesepian dan keterasingan.

Hingga akhirnya Narcici menjalin cinta hingga kumpul kebo dengan Fauzi – Dokter muda spesialis kandungan, ganteng, kaya, lulusan luar negeri, dan pintar memikat perempuan. Sosok laki-laki yang sering dijadikan standart ideal masyarakat masa kini. Tak ada yang menduga kalau sesungguhnya Fauzi juga bersedia melakukan praktik aborsi, seorang playboy yang tidur dengan banyak perempuan termasuk pasiennya, dan tipe pria yang tidak mau membuat komitmen termasuk menikah.

Tentu tak ada yang tahu Narcici dan Fauzi telah tinggal bersama – termasuk orang tuanya. Yang diketahui Bapak dan Ibu Duko, Narcici berpacaran dengan Fauzi – lelaki yang terlihat sempurna itu. Sudah dua tahun –terlalu lama menurut mereka. Apalagi usia Narcici alias Narsih sudah tidak muda lagi. Keponakan mereka yang usianya sama dengan Narcici saja tengah hamil anak ketiga. Maka tak ada alasan lain untuk tidak segera menikah. Sebelum jadi kadaluwarsa. Sebelum jadi bosok.


Perempuan bukan Makanan


Itulah penggalan cerita yang diangkat dalam pementasan teater Miss Kadaluwarsa produksi EKI Production yang pentas di Gedung Kesenian Jakarta 23 – 27 Mei lalu. Saya sendiri menonton pada malam minggu – hari yang menurut penyelenggara paling banyak penontonnya. Terbukti dari penuhnya kursi di ruang pertunjukan. Dalam hati saya berpikir apakah ini semata hanya karena malam minggu atau karena pertunjukan teaternya yang benar-benar bagus? Atau jangan-jangan karena promosinya yang cukup gencar dengan pemain selebritis seperti Uli Herdiansyah dan Sarah Sechan?

Dua jam lebih pertunjungan berlangsung. Dari awal hingga akhir, tepuk tangan dan tawa penonton selalu mengiringi. Tampak sekali penonton sangat mengerti apa yang dipertunjukkan. Dan yang lebih penting, cerita yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan nyata yang kemungkinan besar dialami juga oleh sebagian penonton. Itulah menurut saya kuncinya.

Menonton Miss Kadaluwarsa seperti sedang menyimak drama kehidupan mereka sendiri terutama bagi penonton perempuan. Miss Kadaluwarsa menggambarkan bagaimana ‘ribetnya’ menjadi perempuan dengan segala tata nilai dan tradisi. “Kewajiban” untuk menikah pada waktunya adalah salah satunya.

Perempuan yang memiliki segalanya – karier, prestasi, dan kehidupan yang menyenangkan – tidak ada artinya jika tidak menikah. Norma telah membentuk perkawinan sebagai kewajiban yang harus dilakukan dan bukan sebagai pilihan yang dilakukan karena dibutuhkan. Dan perempuan harus memasuki jenjang tersebut pada usia yang – meski tidak tertulis – telah dianut masyarakat sebagai usia yang semestinya untuk menikah. Jika melewati batas usia itu, perempuan tersebut telah kadaluwarsa.

Saya teringat perbincangan Pak Duko dengan Narcici pada epilog teater ini. Pak Duko yang akhirnya menyadari kesalahannya, menggunakan wine sebagai analogi. Minuman yang terbuat dari anggur ini tidak mengenal batas kadaluwarsa. Bahkan makin lama rasanya enak dan harganya makin mahal. Narcici pun menyahut. Dengan sinis dia berkata, saking mahalnya tidak akan ada yang mampu membeli wine itu. Sebuah kenyataan juga : Ada kadaluwarsa yang tidak dibeli karena tidak enak tapi ada juga kadaluwarsa yang sangat enak tapi tidak dibeli karena harganya sangat mahal.

Tapi benarkah perempuan – sebagaimana wine dan makanan lainnya – bisa kadaluwarsa?

Perempuan memang punya jam biologis. Kodratnya untuk melahirkan keturunan memberikan batasan-batsan usia dimana kemampuan itu ada, berakhir, atau bahkan belum dimulai. Karenanya kemudian ada masa-masa yang secara ilmiah terbukti terbaik untuk memiliki keturunan termasuk untuk kemudian memberikan ASI. Hanya alasan itulah yang menurut saya layak dijadikan alasan bagi perempuan untuk ‘mengejar target’ menikah. Kecuali jika memang dia telah memilih untuk tidak punya keturunan.

Lupakan mitos, lupakan tradisi, dan lupakan apa kata orang. Menikah dan memutuskan kapan akan menikah adalah sebuah pilihan termasuk dengan konsekuensi yang mengikutinya. Tidak ada yang kadaluwarsa selama seorang perempuan terus berkarya dan melakukan banyak hal untuk banyak orang. Kecuali jika dia sengaja memilih menjadi kadaluwarsa dengan hanya teronggok dan tak berguna hingga akhirnya menghilang.

27 Mei 2007
10.35 pm
foto-foto oleh Doddi AF, Gedung Kesenian Jakarta

Thursday, May 17, 2007

Sisakan Hutan buat Saya

Rilis terbaru dari Guinness Book of Record menyebutkan : Indonesia merupakan negara penghancur hutan nomor satu di dunia. Memang bukan hal yang bijak untuk langsung percaya, tapi juga akan menjadi sangat bodoh jika kita mengabaikannya. Bentuk kepedulian orang bisa beragam. Bagi seorang jurnalis tentu lewat tulisan, apalagi jika jurnalis itu berkecimpung di isu lingkungan.

Meski saat ini saya tidak "mengurusi" soal lingkungan, kecanduan saya pada segala bentuk keindahan alam - termasuk hutan - membuat saya tidak rela jika keindahan itu harus rusak dan hilang.

Jujur, saya belum pernah masuk ke dalam hutan '
yang sebenar-benarnya'. Sebuah hutan yang benar-benar lembab, basah, heterogen, penuh dengan tumbuhan langka dan binatang buas. Perjalanan saya menembus hutan baru sebatas pada hutan-hutan di lereng pegunungan, yang tentu saja sudah sangat ' beradab'.

Itu pun masih bisa dibilang sebagai bonus. Lahir dan besar di Pulau Jawa, membuat saya cukup puas mengenal hutan homogen yang hanya ditumbuhi pohon Jati di daerah Ngawi dan Madiun. Di lereng Gunung Lawu, hutan pun tampil sangat anggun dengan hanya pohon cemara - yang selalu mengepulkan asap setiap kemarau tiba.


Iri rasanya menyimak perjalanan si Butet Manurung yang menjadikan belantara Jambi dan Suku Anak Dalam sebagai bagian dari keseharian. Saya yakin situasinya berbeda dengan belantara Baduy dan suku Baduy Dalam yang sudah cukup populer sebagai obyek wisata.

Masih terus saya tunggu kesempatan untuk bermalam
di tengah rimba Borneo atau Papua. Tentu saya tidak rela jika semuanya rusak sebelum saya berkesempatan melihatnya.

Selamatkan hutan untuk kita semua dan untuk lingkungan.

photograph by Dananjoyo Kusumo, Pemuda 34, Jakarta
payung CIFOR "Forest for People & Environment" dari workshop untuk Jurnalis tentang Climate Change oleh WWF, awal Mei 2007

Tuesday, May 08, 2007

Dan Laut pun Berbatas

*)photograph by Okky P. Madasari, Kepulauan Seribu


Saya percaya laut dan langit tidak berbatas. Tak seperti tanah yang diukur manusia dengan meter, hektar, petak, kemudian menjadi milikku, milikmu, dan miliknya, dengan batas pagar besi atau tumbuhan yang sengaja ditanam berderet dan tinggi.

Kalaupun laut kemudian diukur menjadi 12 mil atau 200 mil, disebut perairan negara, perairan bebas, atau perairan yang hanya bisa diambil sumber daya alamnya saja, semata-mata hanya sebuah batas imajinasi – tanpa pagar atau tumbuhan tinggi - yang sengaja dibuat untuk mempermudah penggambaran dalam peta.

Dalam perjalanan ke Kepulauan Seribu di lepas pantai utara Jakarta akhir pekan lalu, saya menyadari laut ternyata berbatas. Bukan batas yang hanya bisa dibayangkan dan dihafalkan, melainkan penanda yang nyata, bisa dilihat dan dirasakan.

Warna air dan kesegaran udara menjadi penanda dua wilayah, dua budaya, dan dua peradaban yang berbeda. Jakarta yang sesak, kotor, penuh polusi, dan tengah memaksakan diri menjadi kota modern, dengan Kepulauan Seribu (tentu saja kecuali Pulau Bidadari) yang masih bisa memempertahankan keindahan pesonanya.

Jika laut berwarna keruh, coklat kehitaman dan bukan biru jernih kehijauan, kapal belumlah terlalu jauh dari Jakarta atau kalaupun sudah memasuki Kepulauan Seribu pasti baru berada di sekitar Pulau Bidadari, Pulau Khayangan, atau Pulau Untung Jawa. Sampah yang mengapung di di permukaan juga bisa menjadi petunjuk dimana kita berada. Di sekitar Jakarta, laut bak tempat sampah raksasa yang bisa menampung apa saja. Begitu juga udara yang kita hirup dan warna langit. Bau asap pabrik, udara yang pekat dan langit berwarna abu-abu masih mengikuti kita hingga di tengah lautan. Berkilo-kilo meter atau sekitar satu jam perjalanan dari Muara Angke, Jakarta.

Ketika warna laut perlahan membiru bersamaan dengan hilangnya udara pekat dan bau asap, “kompas pikiran” kita akan berkata : Kita telah cukup jauh dari Jakarta dan semakin masuk ke perairan Kepulauan Seribu.


Menikmati tanpa Mengurangi

*) Photograph by Luther Kambaren,Kepulauan Seribu


Menikmati malam di Pulau Pramuka dan menghabiskan dua hari berendam di tengah laut sambil menikmati keindahan “dunia lain” di bawah permukaan laut. Karang, coral, ikan beraneka warna, ganggang, hinga tumbuhan beraneka rupa yang tidak mungkin kita lihat di kebun raya sekalipun.

Keindahan yang kadang juga menyimpan bahaya. Seperti bulu babi yang siap menusuk dan membuat gatal sekujur tubuh atau ubur-ubur yang akan membuat panas kulit yang tersentuh. Kadang juga terbesit imajinasi liar seekor hiu tiba-tiba datang dan mengamuk karena merasa ada yang mengusik habitatnya. Kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Namun bukankan alam dan manusia selalu diciptakan berdampingan? Alam akan memberikan berjuta pesonanya jika manusia mau bersahabat dan mengenal lebih jauh apa yang diinginkan dan apa yang tidak disukai alam. Taman laut memberi kesempatan bagi manusia untuk datang dan menikmati keindahan, bukan untuk mengambil satupun bagian ekosistem yang ada dengan alasan untuk dibudidayakan, diteliti, atau dijadikan kenangan.

Maka ketika salah satu dari kami jatuh cinta pada sebuah bintang laut warna biru, kami cukup puas hanya dengan mengabadikannya sebentar, lalu segera mengembalikkannya ke tempat semula. Kami tak ingin ketika minggu depan atau bulan depan ke tempat ini lagi bintang biru tidak dapat lagi dijumpai.

Dengan kesadaran yang sama pula, kami bawa satu kantong sampah hingga kembali ke Jakarta. Laut bukanlah tempat sampah raksasa tapi sebuah kotak harta karun yang mesti terjaga. Puas rasanya, ketika akhirnya kami buang sampah itu di sebuah tempat sampah di Terminal Grogol, Jakarta. Semoga petugas kebersihan tidak membawanya lagi ke laut.