About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Friday, January 26, 2007

Berbagi Lahan Bagi Rakyat Siak




DALAM perjalanan singkat di Provinsi Riau - menjelajahi Pekanbaru hingga Siak - hampir saya terbuai dengan romantisme nasionalisme : Indonesia adalah negara yang kaya raya. Betapa tidak, di sepanjang jalan terbentang pipa-pipa berukuran besar yang didalamnya mengalir jutaan barel minyak bumi. Sementara di atas tanah, terhampar ribuan hektar kelapa sawit yang siap diolah menjadi minyak kelapa.

Di ibukota provinsi Pekanbaru, berbagai fasilitas ala metropolitan dengan mudah dijumpai. Kendaraan yang berlalu lalang paling tua keluaran awal tahun 90 an. Baliho himbauan sang Gubernur terpampang dimana-mana. Sebuah model pencarian popularitas pejabat publik yang marak sejak diberlakukan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung.

Provinsi satu ini memang salah satu provinsi terkaya dengan Pendapatan Asli Daerah yang cukup tinggi. Upah Minimum Provinsinya diatas Rp 900 ribu. Lebih besar dibanding Jakarta yang hanya Rp 860 ribu. Maka bisa dibayangkan berapa pemasukan pejabat teras provinsi dan anggota DPRD. Pemberlakuan PP no 37 tahun 2006 yang berisi peningkatan gaji anggota DPRD berdasarkan PAD bisa dipastikan akan semakin meningkatkan kesejahteraan mereka. Apalagi jika menengok kehidupan petinggi-petinggi perusahaan minyak Caltex-yang menguasai hampir seluruh minyak di propinsi itu. Tak kalah berkilau melihat kehidupan para petinggi PTPN V-BUMN yang mengelola ribuan hektar kebun kelapa sawit di propinsi tersebut.

Di Kabupaten Siak, susana lebih lengang. Belum ada infrastruktur yang serba modern apalagi hotel berbintang lima. Maklum, kabupaten yang satu ini baru berdiri pasca reformasi. Suasana sebuah kota yang baru dibangun sangat terasa. Jalanan lengang, lahan kosong dimana-mana. Meski begitu, kemegahan gedung DPRD, kantor bupati, masjid besar, dan jembatan yang tengah dibangun tak bisa menyembunyikan kekayaan yang dimiliki daerah ini. Lagipula, hanya daerah yang "merasa kaya" yang memilih untuk memisahkan diri dan menjadi kabupaten sendiri. Kenyataannya, kabupaten ini merupakan kabupaten dengan PAD tertinggi ketiga di Indonesia, mencapai Rp 1,7 triliun.

Kondisi bertolak belakang terlihat ketika sedikit saja saya melangkah - meninggalkan pusat kota - mendekati lahan-lahan kelapa sawit. Rumah-rumah kayu sederhana berjejer. Bukan sekedar budaya tapi wajah asli masyarakat Siak.

Penduduk-penduduk miskin hidup di sekitar kawasan perkebunan, hutan-hutan produksi milik swasta, atau lahan berstatus hak guna usaha yang terbengkalai. Di Siak, lahan kosong tak terawat sebenarnya bisa ditemukan dengan mudah. Anehnya, masyarakat justru tak memiliki lahan. "Kami hidup di tanah lapang, tapi meludah pun sudah di tanah orang," guyonan getir masyarakat Siak.

Data dari pemerintah Siak, terdapat sekitar 13 ribu masyarakat miskin di Siak dengan penghasilan tak lebih dari Rp 300 ribu per bulan. Saat ini, Pemkab Siak tengah mengusahakan program pengentasan kemiskinan dengan membagai kepemilikan tanah pada warga miskin.

Lahan kosong berstatus HGU diambil alih oleh Pemkab Siak. Pihak PTPN V kemudian diajak bekerjasama menanami lahan-lahan tersebut dengan kelapa sawit. Kepemilikan lahan dibagi pada masyarakat, tiap kepala keluarga mendapat 3 hektar. PTPN V meminjami modal untuk bibit dan pengelolaan. Sebelum masa panen datang, masyarakat mendapat nafkah sebagai tenaga kerja. Kelak, ketika masa panen datang, hasil dari 3 hektar dipotong dengan cicilan modal.

Sebuah inisiatif yang patut mendapat acungan jempol. Karena sejatinya masalah tanah tak cuma masalah uang. Tanah adalah identitas.

*) Picture by Okky P. Madasari. Siak, Riau.





Tuesday, January 23, 2007

TAK HANYA ADAM YANG TERJEBAK HAWA






ADAM AIR melalui Kompas edisi Senin (22/1), mengumumkan rekrutmen pramugari dan pramugara. Syaratnya tak terlalu berat : lulusan SMU atau yang sederajat, bertinggi minimal 165 cm untuk perempuan dan 170 untuk laki-laki, bisa berenang, dan tidak berkacamata. Ukuran iklannya tak lebih dari 10x15 cm. Berwarna hitam putih. Benar-benar 'sangat biasa' dan 'tidak istimewa' jika dibandingkan dengan tampilan iklan lowongan pekerjaan perusahaan nasional dan multinasional yang biasa menghiasi Kompas di setiap akhir pekan.

Tapi toh iklan tersebut cukup menyita perhatian saya- dan saya yakin juga ribuan pembaca lainnya. Apalagi kalau bukan karena raibnya Adam Air di wilayah perairan Majene. Iklan tersebut keluar ketika pencarian pesawat memasuki minggu keempat. Bersamaan dengan hari keluarnya iklan, direksi Adam Air tengah memberikan klarifikasi kepada anggota Komisi V DPR RI. Saya tidak akan membahas soal kasus kecelakaan, manajemen transportasi, kesalahan informasi, atau soal Bakri yang pertama kali berhasil menemukan serpihan sayap bagian belakang. Sudan 'bosan' rasanya membahas soal itu. Jurnal Nasional rasanya juga sudah habis membahas secara mendalam ihwal "Sang Adam yang Terjebak Hawa", apalagi tulisan saya soal salah informasi sempat mendapapat tanggapan cepat dari pihak lanud Hasanuddin.

Peristiwa Adam Air, membuat saya ingin bercerita soal pesawat lain - Lion Air - yang saya tumpangi dari Pekanbaru, Riau ke Jakarta pertengahan Desember. Pesawat yang harusnya berangkat jam 16.45 delay hingga jam 01.00. Awalnya pihak Lion Air tidak mau mengemukakan penyebab penerbangan ditunda. Jam 17.30 ada pengumuman dari petugas bandara, pesawat ditunda pukul 19.00. Calon penumpang, termasuk saya, hanya mengungkapkan kekesalan seadanya - toh cuma ditunda dua jam.

Tepat jam 18.30, ada pengumuman lagi dari petugas, pesawat ditunda jam 23.00. Kekesalan dan kekecewaan calon penumpang tak tertahan lagi. Berbondong-bondong penumpang menuju ke kantor perwakilan Lion Air. Ada yang menanyakan tiket pengganti, biaya ganti rugi, hingga meminta angkutan pengganti dari Bandara Soekarno Hatta ke rumah masing-masing. "Saya tinggal di Bogor, jam segitu sudah tidak ada angkutan dari Bandara ke rumah saya," kata salah seorang penumpang.

Pihak Lion berjanji akan menyediakan transportasi dari Bandara Soekarno Hatta. Namun, tidak ada biaya ganti rugi yang akan diberikan. Pihak Lion hanya akan menanggung makan malam calon penumpang. "Sekarang sedang dipesankan Mc Donalds," kata petugas Lion Air.

Jawaban yang tak memuaskan. Hanya ada dua pilihan : membatalkan terbang dan diganti dengan tiket untuk keesokan hari atau menunggu lima jam di bandara. Beberapa orang tampak langsung menukar tiket. Kebanyakan adalah orang asli Pekanbaru, sehingga bisa kembali ke rumah masing-masing.

Detik-detik menunggu terasa menegangkan. Semua gerai dan restoran di bandara tutup tepat pukul 18.00. Sebagian lampu juga telah dimatikan. Hanya beberapa petugas bandara yang terpaksa bertahan karena masih ada ratusan manusia yang sedang 'keleleran'.

Situasi yang cukup mengherankan. Bukankah setiap hendak naik pesawat setiap calon penumpang juga wajib membayar airport tax? di Bandara Pekanbaru ini, pajak yang harus dibayar Rp 25 ribu. Lalu kenapa dalam keadaan seperti ini tak ada satupun restoran atau toko yang masih buka?

Akhirnya, janji makan malam dari pihak Lion Air datang juga. Bukan Mc Donalds, sebagaimana yang dijanjikan, tapi nasi bungkus dengan lauk daging rendang ditambah satu gelas aqua. Sangat mengecewakan, tapi di saat perut keroncongan, semua akan dilahap jua.

Pukul 23.00 lewat sudah. Semua orang makin gelisah. Dari jendela bandara tampak beberapa petugas mekanik memperbaiki bagian pintu pesawat. Belum ada tanda-tanda akan selesai. Calon penumpang mulai kehabisan kesabaran. Semua minta kepastian. Pihak Lion pun tak memberi banyak jawaban. "Sebentar lagi selesai," kata mereka setiap ada yang ditanyakan.

Akhirnya, tepat jam 01.00 penumpang diminta masuk ke pesawat. Pesawat siap untuk diterbangkan. Disambut dengan ucapan selamat malam dari pramugari yang tampak kelelahan dan mengantuk. Proses take off pun sangat lama. Semua orang menjadi makin tegang. Lima menit..10 menit..15 menit ..wuss..akhirnya pesawat terbang juga....

*) Picture by Okky P. Madasari. Pekanbaru, Riau.










Wednesday, January 10, 2007



KENAPA UANG ADA di BADUY?

BERADA tak jauh dari Jakarta-sekitar empat jam perjalanan menggunakan mobil-masyarakat Baduy di pedalaman Banten masih kokoh dengan tradisi yang dimiliki. Hidup dengan rumah mungil terbuat dari bambu, tanpa listrik, tanpa kendaraan bermotor, dan dengan pakaian seragam.

Memiliki kesempatan libur selama tiga hari, saya dan tiga teman sengaja masuk Baduy dari Desa Nangrang-bukan Ciboleger sebagaimana jalur yang biasa dilewati wisatawan. Kamipun memutuskan untuk mampir di tiga desa Baduy Dalam, yakni Cikesik, Ciwanakarta, dan Cibeo, baru keluar dari Ciboleger. Padahal, jalur konvensional wisatawan biasanya hanya sebatas Ciboleger-Cibeo-kembali lagi ke Ciboleger.

"Gila, kalian masuk dari Nangrang? itu kan jauh sekali?!!" kata seorang teman adventurer yang bertemu dengan kami di Ciboleger, sesaat sebelum bertolak ke Jakarta.

Tak ada jawaban yang kami berikan, hanya senyum kepuasan seraya menahan pegal-pegal di sekujur badan. Yup, memang jarak yang cukup jauh. Dua hari kami habiskan untuk menyusuri medan yang cukup sulit, becek, dan menyeberang puluhan sungai. Jaraknya melebihi perjalanan ke puncak Merbabu. Kata teman yang sudah melalang buana ke berbagai puncak nusantara, naek gunung pun capeknya tidak seperti ini. Selama perjalanan, kami menginap di dua desa, Cikesik dan Balimbing. Cikesik merupakan Desa Baduy Dalam yang paling jauh dan paling jarang menerima tamu. Sedangkan Balimbing, desa Baduy Luar yang paling dekat dengan Ciboleger dan sudah menjadi langganan bagi wisatawan.

******

"Kalo punya uang mau dipakai apa, Ayah Narva?" tanya saya pada orang Baduy Dalam Cikesik tempat kami menginap. Kami berbincang di tengah cahaya lampu teplok, disebuah ruangan berukuran sekitar 6x6 meter. Ruangan itu berfungsi sebagai tempat tidur, tempat masak, dan satu-satunya tempat beraktivitas. Tak ada satupun perabot. Hanya periuk dan belanga yang tersusun rapi di samping pawon tempat memasak.

"Buat beli minyak, ikan asin, sama manik-manik," jawab Ayah Narva sambil tersenyum. Orang Baduy biasa memanggil laki-laki yang sudah memiliki anak dengan Ayah dilanjutkan nama anaknya. Narva adalah anaknya yang pertama, dari empat bersaudara. Narva juga sudah menikah dan sudah memiliki anak namun masih tetap tinggal di rumah tersebut. Bagi Suku Baduy, jumlah kompor yang ada di rumah menunjukkan jumlah kepala keluarga. Di rumah Ayah Narva ada dua kompor, satu milik Ayah Narva dan satunya milik Narva.

Pertanyaan soal uang, saya rasa sangat penting untuk ditanyakan. Melihat sekilas kehidupan mereka, seolah tak ada guna dari selembar alat tukar-menukar tersebut. Tak butuh sekolah, tak butuh beragam baju, tak butuh kendaraan, dan tak butuh beraneka perabotan ala orang modern. "Memang sudah aturan adatnya kayak gitu," ujar Ayah Narva saat saya tanya soal berbagai pantangan orang Baduy, seperti tidak naik kendaraan dan tidak menggunakan listrik.

Orang Baduy memang suka sekali makan ikan asin. Setiap seminggu sekali ketika hari pasaran tiba, mereka menempuh jarak puluhan kilo ke pasar terdekat hanya untuk membeli ikan asin. Selain itu, tentu saja untuk membeli minyak goreng dan manik-manik.

Sebenarnya, tidak dari dulu orang Baduy membeli minyak goreng. Mereka membuatnya sendiri dari kelapa yang banyak terdapat di wilayah tersebut. "Tapi karena sekarang banyak yang jual ya beli saja," kata Ayah Narva.

Soal manik-manik, tak ada alasan khusus yang mereka kemukakan. Yang jelas, mereka menganggap manik-manik yang berwarna orange, merah, atau hijau, sebagai sebuah perhiasan yang berharga. Mungkin sama sebagaimana orang modern melihat emas dan berlian.
*******

Semalam menginap di Cikesik, esok harinya kami melanjutkan perjalanan. Setelah sekitar empat jam berjalanan kami sampai di Cibeo, Desa Baduy Dalam, yang menjadi kunjungan utama wisatawan. Sama-sama Baduy Dalam namun memiliki suasana sangat berbeda dengan Cikesik. Sangat Ramai. Maklum, rombongan besar dari sebuah SMU tengah menginap disana. Praktis, rumah setiap penduduk dipadati dengan ABG-ABG khas kota besar, yang serba gaul dan serba modern.

Agak aneh juga melihatnya. Apalagi setelah saya tahu suasana seperti itu dipastikan akan terjadi setiap akhir pekan. Bagi orang Baduy ini bisa menjadi berkah. Setiap menginap di rumah penduduk tamu pasti memberikan ongkos 'inap'. Mereka pasti juga membawa beraneka bekal makanan yang belum pernah dirasakan masyarakat Baduy sebelumnya. Orang Baduy pun kemudian berlomba membuat beraneka barang khas Baduy untuk cinderamata. Perjalanan ke lokasi yang cukup jauh juga memberi kesempatan bagi orang Baduy untuk menjadi penunjuk jalan sekaligus porter. Hasilnya, mereka tentu bisa membeli banyak ikan asin, minyak goreng, dan manik-manik.

Namun, di sisi lain, saya melihat kini orang Baduy hampir tak ada bedanya dengan orang modern. Berlomba-lomba mencari uang. Hanya pemanfaatannya saja yang berbeda. Padahal, sebagai suku tradisional, saya yakin mereka sebeanarnya bisa dan biasa memenuhi kebutuhan sendiri. Mereka bisa memintal kain sendiri, bisa membuat minyak sendiri, dan mereka juga bisa membuat perhiasan sendiri. Apalagi dari cerita mereka, mereka juga masih biasa melakukan perburuan untuk mendapatkan binatang-binatang tertentu. Dalam pengelompokan masyarakat tradisional, mereka masih masuk dalam kategori berburu dan meramu. Lalu kenapa kini ketergantungan mereka pada uang sedemikian besar?

Kearifan Lokal
Di tengah berbagai ancaman modernitas, ada beberapa kearifan lokal masyarakat Baduy yang perlu diteladani. Dalam hal pangan misalnya. Orang Baduy memiliki banyak lumbung-lumbung beras, yang bentuknya menyerupai rumah, hanya ukurannya saja yang lebih kecil. Di lumbung ini, beras bisa tahan hingga dua puluh tahun. Tikus pun tak bisa mendekatinya. Padahal, lumbung-lumbung ini berada di dekat sawah. Konon, mereka memiliki ramuan rahasia berupa daun-daun tertentu yang ditaruh di dalam lumbung.

Bagi orang Baduy, beras merupakan kebutuhan yang sangat vital. Mereka memiliki prinsip bahwa beras harus selalu tersedia di lumbung, dan jumlahnya tidak boleh sedikit. Karena itu, orang Baduy menanam padi dalam jumlah yang cukup banyak namun senantiasa terjaga kualitasnya.

Mungkin, pemerintah sekali-kali perlu studi banding ke Baduy untuk mencapai target swasembada pangan 2009.




***********
















Sunday, January 07, 2007


Ada Aisyah di Lumbung Padi


Di tengah hamparan padi siap panen di Subang saya berbincang dengan seorang perempuan tani. Aisyah namanya. Berumur setengah baya, ibu dari empat anak. Percakapan pun mengalir di bawah birunya langit dan semilir angin sambil sesekali Aisyah berlari mengusir rombongan burung-burung yang hendak memakan bulir padinya.


Sawah seluas tiga hektar itu bukanlah milik Aisyah. Tanah itu bersama riibuan hektar lainnya yang membentang di tempat tersebut adalah milik PT Sang Hyang Sri-sebuah BUMN yang bergerak di bidang pertanian. Aisyah dan suaminya menggarap lahan tersebut dengan sistem sewa. Biaya sewa dibayar setiap musim panen tiba.

Perhitungannya, untuk tiga hektar lahan, hasil panen satu hektar lahan sepenuhnya menjadi hak PT. Sang Hyang. Sementara sisanya, PT. Sang Hyang berhak atas 12 kwintal gabah dari setiap hektar. "Tapi biasanya kita juga mesti bayar di luar itu, misalnya untuk ongkos mobil pengangkut," kata Aisyah.

Pada setiap masa panen pula, Aisyah harus berpikir untuk melunasi hutang yang digunakannya untuk menggarap sawah. Hutang sebesar Rp 1 juta, mesti dibayarnya Rp 1 juta 3 ratus. "Tanah nyewa, duit pun ngutang," kata Aisyah seraya tersenyum getir.

Untuk menggarap sawah, rata-rata menghabiskan uang Rp 4 hingga Rp 6 juta setiap hektar. Itu mencakup bibit dan pupuk. Aisyah harus mengeluarkan biaya ekstra ketika tikus-tikus sawah menyerah. Resepnya adalah oli bekas dicampu zat kimia yang biasa dijual di toko-toko. Untuk memberantas tikus di 3 ha lahan, biasanya menghabiskan biaya Rp 200 ribu.

Aisyah juga tidak banyak merasakan keuntungan ketika harga beras membumbung tinggi. Pasalnya, sesuai perjanjian sewa lahan, hasil panen harus dijual pada PT Sang Hyang. Harganya tentu lebih murah dibandingkan di jual pada pihak lain. Ada satu keuntungan dari berbagai kewajiban yang mengikat ini, yakni soal bibit. Aisyah wajib membeli bibit pada PT Sang Hyang yang mutunya terjamin. Dengan begitu hasil padi Aisyah bisa dipastikan berstandart tinggi.

Saya pun tak habis pikir, di negerinya sendiri kenapa rakyat tak punya lahan? Seandainya lahan seluas tiga hektar tersebut milik Aisyah sendiri tentu berbeda ceritanya. Anak-anak Aisyah tak perlu putus sekolah saat di bangku sekolah dasar. Tak perlu lagi menghutang untuk menggarap sawah, karena uang hasil panenan lalu masih tersisa. Taruhlah tidak seluas 3 ha, 1 ha saja tentu berbeda jika milik Aisyah sendiri. Aisyah tentu tak akan sesulit sekarang meski mungkin tak bermobil mercy seperi milik direksi Sang Hyang.

Nasib Adik Aisyah di Malaysia

Sudah delapan tahun, Wati, adik Aisyah terlunta-lunta di negeri orang. Berawal dari keinginan menjadi TKW di Brunei Darussalam, Wati malah dijual ke lelaki hidung belang di Malaysia. Seorang calo TKW di Pamanukan merupakan sumber petaka tersebut.

Selama bertahun-tahun, keluarga Wati di kampung berusaha mencari jejak Wati. Puluhan dukun sudah didatangi. Mereka juga ke polisi, sudah pula membayar uang yang katanya biaya pencarian. Uang hilang, Wati tak juga ditemukan. Calo TKW di Pamanukan juga didatangi, tapi cuma dikatakan Wati sudah bekerja di Brunei. Jadi selesai tanggung jawabnya.

Kenyataan pahit yang dialami Wati baru diketahui beberapa bulan lalu, lewat surat pertamanya. Dalam dua lembar surat yang ditunjukkan pada saya, Wati menceritakan bagaimana dia yang dijanjikan akan menjadi TKW di Brunei justru dijual ke Malaysia.

Beberapa saat berada di rumah pelacuran, Wati melarikan diri tanpa tahu tujuan. Hingga akhirnya ada seorang TKI yang menolongnya. Seorang TKI. Merekapun menikah dan punya anak di bawah kesengsaraan. Wati dan suaminya ingin pulang, tapi apa daya, pasport dan uang tiada.