About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Thursday, April 17, 2008

Haruskah Benar itu Sama?

1 April 2008
Pizza Hut Jakarta Theatre tak menyisakan meja kosong. Empat orang duduk di kursi antrean menunggu ada orang yang meninggalkan mejanya. Saya langsung menuju ke area merokok - mencari sosok yang telah menanti saya.

Memakai kemeja formal, rambut tergerai, lengkap dengan sepatu bertumit 5 centimeter, ia tampil cantik dan elegan malam ini. Saya serahkan bungkusan berisi dua kenang-kenangan dari Phuket yang sudah dua minggu lebih tersimpan di laci almari. Dan seperti yang saya duga, pertemuan ini akan diawali dengan berbagai cerita pencarian saya di tiga negara.

"Oke, cukup cerita tentang perjalanan. Sekarang ceritakan tentang kabarmu," persahabatan yang telah lama terjalin membuat saya cukup paham dia tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

"Memang sedang ada masalah. Aku nggak nyangka, masalah yang itu muncul lagi."

Bibirnya mulai lincah bergerak. Diiringi sorot mata yang mengekspresikan berbagai rasa : kecewa, sedih, berharap, dan ketulusan cinta. Suara yang timbul tenggelam di tengah hiruk pikuk pengunjung lain tak mengurangi konsentrasi saya mendengarkan ceritanya penuh perhatian.

"Ibunya keberatan kami menikah, tapi bukankah sejak dulu dia sudah tahu tentang latar belakang ku?" ujarnya.

Saya diam menyimpan kegeraman sambil menatapnya lekat-lekat. Adakah yang salah jika kebetulan ia terlahir dari keluarga yang percaya ada nabi lain setelah Muhammad?

31 Desember 2006
Kami tiba saat masjid sudah penuh jamaat. Inilah sholat Ied pertama yang saya lakukan di Jakarta. Idul Adha kali ini saya memilih menginap di tempat sahabat, merayakan Idul Adha bersama keluarganya, sekaligus merayakan pergantian tahun 2006-2007.

Usai sholat dua rakaat, khotbah dimulai. "Marilah kita berdoa untuk saudara-saudara kita di Mataram dan berbagai daerah di lain yang masih belum bisa menjalankan ibadah," kata khotib memulai isi khotbah.

Saya mulai menyadari dimana saya berada. Inilah pertama kali saya sadar latar belakang keyakinan sahabat saya. Kami pun berdiskusi banyak. Tentang segala perbedaan, tentang stigma masyarakat, tentang pemikirannya dan lingkunganya.

"Tapi Ky, emang aku belum pernah cerita ya dari dulu?"

Saya menggeleng. Ia memang belum pernah bercerita. Tapi apakah keimanan menjadi hal yang penting untuk kami bicarakan?

16 April 2008
Sebuah SMS masuk ke handphone saya. Isinya undangan dari Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan untuk membahas keputusan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat yang melarang Ahmadiyah.

"Ber-Tuhan saja dilarang apalagi tidak ber-Tuhan," tulis seorang teman wartawan di status kotak maya nya.

"Justru lebih enak tidak ber-Tuhan karena tidak ada yang nglarang-nglarang," kata kekasih saya lewat telepon sebelum kami mengakhiri hari.

18 April 2008
pukul 10.30
Ia menyapa saya melalui kotak maya. "Ibunya masih menganggap kami berbeda dan melihat kami tidak seharusnya menikah."

"Meskipun kamu sudah berkomitmen nantinya akan mengikuti suami?"

"Ya, bahkan Ayah ku sudah mengizinkan. Tidak ada masalah, yang penting tetap Islam."

pukul 18.30
Kami bertemu di Taman Ismail Marzuki. Matanya menyimpan sejuta tanya dan kecewa.

"Sepertinya Ibunya takut, suatu saat setelah menikah aku akan mempengaruhi anaknya. Konyol kan? Kami telah 3 tahun berhubungan dan sejak awal mereka tahu semuanya."

Matanya makin merah. Buliran air mata mulai mengalir.

Maaf sayang, aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu.

Friday, April 11, 2008

Mama dan Koruptor

Handphone saya bergetar jam 06.00 pagi tadi. Saat saya masih terlelap melanjutkan tidur babak kedua setelah bangun sebentar untuk sholat Subuh. Apalagi setelah sehari sebelumnya menghabiskan energi untuk penahanan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, dan anggota DPR sekaligus suami penyanyi dangdut Kristina, Al Amin Nasution, tak ada alasan bagi saya untuk bangun sebelum jam 09.00.

Selama ini, hanya ada satu orang yang bisa menelpon saya di jam sepagi itu : Mama. Maka saya jawab juga panggilan itu, dengan mata yang masih terpejam dan suara ogah-ogahan. Seperti biasa, Mama selalu menanyakan kabar saya, kegiatan saya hari ini, bercerita soal keadaan keluarga di Magetan, tentang Manda- adik kecil saya yang baru berumur tiga tahun, hingga kabar terbaru situasi politik di Magetan menjelang Pemilihan Kepala Daerah bulan Juni nanti.

Sejak saya SMU, Mama mendirikan satu lembaga swadaya masyarakat dan aktif terlibat dalam berbagai bidang sosial, politik, hingga ekonomi di kota kami. Belakangan, menjelang Pemilu 2004, Mama bergabung dalam salah satu partai politik.

Undang-undang Pemilu saat itu yang memberikan kuota 30% bagi perempuan untuk menjadi anggota parlemen, menjadi salah satu motivasi Mama untuk aktif di parpol. Saya sendiri memberikan dukungan penuh. Bukan sekedar agar Mama bisa terpilih sebagai anggota DPRD, melainkan karena saya melihat inilah bentuk aktualisasi atas potensi yang dimilikinya.

Mama menjadi satu-satunya Ketua Partai Politik perempuan di Magetan. Dalam setiap acara seremonial, Ia akan selalu menonjol di tengah aktivis-aktivis lain yang berjenis kelamin laki-laki. Saat-saat itu saya sering menempatkan diri sebagai advisor dalam hal mode pakaian dan penampilan. Bersama Papa, kami juga menjadi partner diskusi, bahkan tak jarang diselingi letupan emosi karena perbedaan pendapat.

Meski kemudian Mama gagal mendapat kursi di legislatif, aktivitasnya baik melalui LSM maupun partai tidak berhenti. Kelahiran Manda empat bulan setelah Pemilu juga tidak menghambat kegiatan yang diikuti. Semua dilakukan dengan berbagi peran bersama Papa, terutama dalam hal mengasuh Manda.

Saya sendiri tidak terlalu ambil bagian karena setelah selesai kuliah di Jogja, langsung pindah ke Jakarta. Adik saya, Dewi, saat ini juga tengah kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya, Malang. Beberapa kali dalam setahun kami bisa berkumpul bersama, menyaksikan tumbuh kembang Manda dari waktu ke waktu.

Marilah kita kembali ke perbincangan saya dan Mama tadi pagi. Sebagai ketua partai politik - bahkan sekalipun partai itu tidak mendapat kursi di parlemen- suara Mama dibutuhkan oleh bakal calon Bupati untuk bisa mencalonkan diri. Dukungan dari partai-partai seperti ini sangat dibutuhkan, selain dukungan dari partai besar seperti PDIP dan Golkar.Sejak tiga bulan lalu, Mama sudah sibuk menimbang-nimbang calon mana yang akan diberi dukungan. Apakah mantan Bupati yang baru keluar dari penjara karena terbukti korupsi, Bupati non aktif yang saat ini tengah menjalani hukuman karena terbukti korupsi, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah atau seorang pengusaha yang sukses menjadi jutawan setelah merantau di Jakarta.

Saya tidak pernah memberi saran siapa yang harus didukung. Selain saya tidak benar-benar tahu kualitas masing-masing calon, saya merasa Mama lebih tahu calon mana yang layak untuk didukung.

Mama tahu keseharian saya sebagai wartawan bidang hukum, yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di Komisi Pemberantasan Korupsi dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Kami sering berdiskusi tentang proses hukum pejabat yang terlibat korupsi.

Saat beberapa bulan lalu, Bupati non aktif, Saleh Muljono masih menjalani persidangan karena korupsi pembangunan GOR senilai Rp8 miliar, Mama selalu hadir dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Magetan.

Mama bercerita tentang kesaksian, tuntutan jaksa, upaya penangguhan penahanan, hingga Sekda Sumantri yang jatuh sakit usai memberi kesaksian. Ada juga cerita unik bagimana spanduk-spanduk saling berperang di tiap sudut Magetan. Isinya banyak yang menecam tindakan korupsi Saleh, tapi lebih banyak lagi yang justru memberi dukungan pada Saleh.

Lalu saya akan menanggapi informasi tersebut dengan 'sudut pandang jakarta'. Tentang bagaimana KPK mengambil alih kasus korupsi daerah yang macet, tentang vonis Bupati Kendal dan Bupati Kutai Kartanegara.

Kira-kira empat bulan lalu, Saleh dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Mama mulai bercerita dengan cara lain. Setengah menyesalkan, Mama akan mengenang bagaimana tahun 2003, setahun menjelang Pemilu, Saleh terpilih sebagai Bupati Magetan. Saat itu Mama cukup dekat dengan Saleh.

Meski tidak terkatakan, secara tidak langsung kami telah menyepakati korupsi adalah bentuk kejahatan. Seseorang yang terbukti telah melakukan korupsi adalah orang yang secara moral cacat dan tidak layak menjadi pemimpin. Lha bagaimana mau memimpin kalau moralnya sudah cacat?

Bupati non aktif Saleh Mulyono yang divonis empat tahun, mantan Bupati Soedarmono yang menjabat saat orde baru dan baru selesai menjalani hukuman, sudah tidak layak lagi menjadi pemimpin Magetan. Mama tidak mendukung keduanya.

Dua hari lalu, Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Magetan telah menetapkan empat calon Bupati yang berhak mengikuti Pilkada bulan Juni. Dan seperti pentas sandiwara lainnya, Saleh Mulyono menjadi salah satu calon yang lolos verifikasi. Seorang Bupati non aktif yang saat ini tengah menjalani hukuman empat tahun penjara karena terbukti korupsi.

Duh Gusti!


*) foto keluarga oleh Dedy Priambodo, Oktober 2007