About Me

My Photo
Okky Madasari
Menulis, memotret, merangkai nada, dan menikmati perjalanan adalah hobi tercinta saya. Blog ini hanya kamar penuh serakan gambar dan kata, jejak-jejak pengalaman dan peristiwa. Hak cipta tulisan dan gambar ada pada pemilik blog. Selamat membaca.
View my complete profile

Friday, November 21, 2008

Bukan Gerindra

Saya terbahak, geli setengah kaget, ketika seorang sahabat - wartawan di sebuah media online-menyebut saya sebagai simpatisan Gerindra. (Iyah, Gerindra!) Partai yang sedang mendapat banyak perhatian gara-gara iklannya yang mengajak orang untuk berbelanja di pasar tradisional dan membeli produk dalam negeri.

Bukan, bukan karena saya memuji-muji Gerindra dan Prabowo Subianto dalam tulisan di koran. Tentu juga bukan karena saya masuk dalam daftar calon anggota legislatif Gerindra. (lalu apa donk?) Well, hanya gara-gara saya memakai pasar tradisional sebagai lokasi foto yang akan digunakan untuk undangan dan dipajang di tempat pernikahan.

Konsepnya sederhana. Nyai-nyai tempoe doeloe (mungkin era Nyai Dasima) bersama pasangannya berbelanja di pasar tradisional. (Gaya retro memang basi, tapi konsep belanja di pasar tradisional setahu saya masih jarang). Idenya muncul sebelum Gerindra dan pasar tradisionalnya menjajah telinga dan mata kita melalui televisi.

Setelah berdiskusi dengan sahabat sekaligus sang fotografer,Dedy Priyambodo, saya mulai merancang property yang diperlukan dan mencari-cari lokasi. Pemotretan dilakukan setelah hari raya Idul Fitri, memanfaatkan waktu mudik, di pasar tradisional Telaga Sarangan, Magetan. (Jadilah foto prewedding di pasar tradisional).Meski tidak ada hubungannya dengan Gerindra (sayang juga, padahal bisa jadi sponsor) omongan sahabat saya membuat saya berpikir : kenapa tidak sekalian saja?

Maksudnya bukan sekalian bergabung dengan Prabowo di Gerakannya, juga bukan minta Gerindra jadi sponsor kawinan, cuma mau sekalian bikin catatan tentang pasar tradisional setelah selama ini hanya mengendap di pikiran.

Waktu itu Lebaran tahun 2006. Seorang sahabat SMA bercerita tentang toko kelontong milik ibunya yang sedang seret kehilangan pembeli. Tetangga-tetangga yang biasa menjadi pelanggan sudah beralih belanja ke Alfa Mart - mini market waralaba yang giat berekspansi hingga pelosok desa.

Alfa Mart yang modern (itu lho pembeli mengambil sendiri barang dagangan dan kasirnya pakai komputer), yang bangunanya bagus dan lapang, yang pegawainya selalu berseragam, telah merebut pelanggan ibunya.

"Padahal banyak barang yang harganya lebih mahal lho. Tapi mungkin karena orang merasa belanja di situ lebih bergengsi," kata kawan saya waktu itu. (Iyah, mungkin memang karena itu).

Alfa Mart dan Indomaret yang dulu hanya dijumpai di pusat kota kini telah tersebar hingga ke RT-RT. Saya mencoba menghitung berapa banyak pemilik warung kelontong yang menghadapi masalah serupa. Terancam oleh toko modern - yang tak pernah mereka kenal siapa pemiliknya.

Masalah seperti inilah yang dihadapi para pedagang di pasar tradisional. Mereka yang bekerja mulai dini hari, membeli sayur dan buah di tempat pengepulan, lalu menjajakan beralaskan tikar atau papan bambu, kini harus beradu nasib dengan ritel-ritel raksasa. Awalnya bertahan, lalu terpinggirkan, hingga akhirnya punah.

Sebelum memutuskan melakukan pemotretan di Magetan, saya sempat mencari beberapa pasar tradisional di Jakarta. (Susah!). Ada beberapa pilihan yang hanya buka pada dini hari.

Lalu saya mencari-cari di google tentang pasar-pasar tradisional yang ada di Jakarta. Ada banyak berita yang isinya tentang penutupan pasar-pasar tradisional. Tutup karena kehilangan pembeli. Keberadaan mereka digantikan oleh Hypermart, Giant, Carrefour, hingga Kem Chicks.

Di bagian lain berita tentang penutupan pasar tradisional, pejabat memberi harapan. Ada yang menjanjikan bantuan modal, ada yang akan membuat peraturan tata ruang yang mengatur lokasi pembangunan ritel-ritel raksasa. Mereka (katanya) akan melindungi pasar tradisional.

Yang saya temukan di google adalah berita-berita lama. Satu tahun, dua tahun, bahkan ada yang empat tahun lalu. Toh ritel-ritel baru tetap tumbuh dimana-mana. Menggantikan toko kelontong dan pasar tradisional.

Mereka telah kalah beradu nasib. (Dan ini tetap bukan iklan Gerindra).

Wednesday, November 12, 2008

Untuk Mereka

Yang tersisa dalam benak saya setelah Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron dieksekusi adalah pikiran tentang anak-anak mereka. Di usia yang masih muda - disaat belum benar-benar bisa menyaring informasi yang didengar dan peristiwa yang dilihat - mereka ikut mengantar Sang Ayah ke liang lahat.

Tidak mudah memberi pemahaman pada mereka kenapa Sang Ayah harus menebus kesalahan dengan nyawa. Sama tak mudahnya untuk memberi pemahaman pada seorang pelaku bom bunuh diri bahwa surga tak bisa didapatkan hanya dengan sekali ledakan besar.

Anak-anak sangat dipengaruhi lingkungannya. Saat Sang Ayah dikubur, lalu keluarga menangis, mereka hanya tahu ada yang melakukan kejahatan pada mereka. Membunuh Ayah mereka, merampas milik mereka, dan menciptakan kesedihan dalam keluarga mereka.

Saya penasaran apa yang akan dikatakan ibu-ibu, kakek-nenek, paman dan bibi, untuk memberikan penjelasan yang paling masuk akal dan bisa dimengerti dengan mudah oleh anak-anak. Penjelasan yang bisa menjernihkan keruhnya pemikiran dan meredam benih-benih dendam.

Siapapun tak ingin eksekusi pada tiga orang ini meninggalkan benih-benih kebencian baru. Memunculkan jiwa-jiwa baru yang bersedia mengorbankan nyawa untuk mencapai sorga. Merubah kepolosan anak-anak menjadi calon penerus gerakan ayahnya.
Saya hanya bisa memikirkan anak-anak Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Ghufron, tanpa tahu harus berbuat apa. Saya hanya bisa membayangkan ketika setiap anak - termasuk anak-anak Amrozi, Imam, dan Ali Ghufron- bisa tumbuh dengan lebih manusiawi.

Mereka semua perlu tahu, hidup terlalu singkat untuk hanya diakhiri dengan darah dan air mata. Memahami bahwa masing-masing kita bukan sekedar hidup untuk sorga dan neraka.

Saya percaya pengalaman masa kanak-kanak akan berpengaruh besar pada pola pikir seseorang. Apa yang didengar di masa lalu, itu yang akan dikatakan di masa datang. Peristiwa paling membekas yang pernah dilihat di masa kecil, akan selalu membayang di hari depan.

Dan inilah hal paling sederhana yang baru bisa saya lakukan...

  • Untuk Mereka